
Sudah satu minggu Aily tinggal di kediaman keluarga Estevan, setiap harinya Aily sering marah pada kakek Van yang selalu membuatnya kesal dengan perhatian yang menurutnya berlebihan. Namun tidak di pungkiri itu membuat Aily senang walau selalu ada pertengkaran di antara dirinya dan Kakek van, tidak lupa Meria juga sangat aktif merawat Aily.
Rion menuruni anak tangga, dan hanya melihat sekilas Aily yang sedang bersama Mami dan kakeknya. Rion sengaja pergi tanpa berpamitan karena pria itu sedang kesal pada calon istrinya, bagaimana tidak Aily setiap malam selalu membuatnya setres dengan tingkah gilanya yang semakin parah.
Aily bahkan sudah berani berpakaian sexy saat tidur bersama dan terus menggodanya hingga membuat Rion menderita, karena harus menahan hasratnya setiap hari tanpa bisa di salurkan sama sekali.
"Kak!! Kenapa tidak berpamitan?" teriak Aily sambil berlari kecil mengikuti Rion yang sedang berjalan menuju pintu utama.
Rion hanya melirik sekilas, dia masih sangat kesal dengan Aily, sementara Meria dan Kakek van terlihat hawatir melihat Aily berlari kecil mereka takut jika Aily akan jatuh.
"Aily! Jangan lari seoerti itu nak! Nanti kamu jatoh!" ucap Kakek Van sedikit berteriak.
"Iya sayang, hati-hati..." ucap Meria yang juga sedang menatap Aily dari jarak yang lumayan jauh dari tempat Rion berdiri bersama Aily.
"Aku baik-baik saja, Kakek mami!" jawab Aily tanpa mengalihkan pandanganya pada Rion.
"Apa kakak masih marah?" tanya Aily karena dia tau sudah beberapa hari ini Rion terlihat kesal dengan ulahnya. "Aku begitu juga karena kita harus segera memiliki Anak! Lihat mereka sudah berharap lebih padaku, bahkan memperlakukanku layaknya orang hamil." Ujar Aily terus terang, selain memang karena mereka berharap Aily memngandung anak dari Rion.
Aily juga memang ingin mempercepat proses kehamilanya sebelum acara pernikahan itu dimulai, Aily sudah menyusun rencana waktunya hanya 3 minggu lagi dari acara pernikahanya.
Dia harus menyelesaikan tugas ini dengan cepat, jika tidak dia akan terikat oleh Rion dan keluarga besar Estevan.
"Aku tidak akan melakukanya sebelum kita menikah!" Jawab Rion dengan penuh penekanan, dia ingin bercinta dengan gadis itu setelah keduanya berstatus suami istri toh sebentar lagi mereka akan menikah. Apa slaahnya bertahan sampai harinya pikir Rion selama ini.
"Lagian, sebelumnya aku sudah berkata jujur pada mereka jika kamu tidak hamil nona! Tapi mereka tidak memperdulikanya, Mami dan Kakek memang memperlakukan mu seperti itu bukan karena kamu sedang hamil, tapi karena mereka memang memperlakukanmu dengan baik! Jadi jangan memaksaku untuk melakukan itu dengan alasan karena Mami dan Kakek!" Jawab Rion panjang lebar agar Aily mengerti dengan keinginannya.
"Aku berangkat," pamit Rion tanpa memperdulikan lagi ucapan Aily dia mencium kening gadis itu dan melangkah keluar mansion.
Aily mengerucutkan bibirnya kesal, "pokoknya malam ini harus terjadi!" pekiknya dengan kaki yang bergetar antara gugup dan marah Aily menatap kepergian Rion. "Aku sudah terlalu lama membuang-buang waktu," gumamnya.
Aily berbalik, "Mami, kakek! Aily harus pergi dulu." pamitnya lalu berlari menaiki anak tangga untuk mengambil tas di dalam kamarnya.
"Hei nak! Kamu mau kemana? Jangan lari-lari," teriak Meria lalu berdiri menuju tangga bersama kakek Van.
Aily kembali dari kamarmya membawa tas selempang di tubuhnya, dia menuruni anak tangga sambil tersenyum kepada kedua orang yang mulai Aily sayangi itu.
"Kakek, apa aku boleh meminta tolong?" tanya Aily sambil menuruni anak tangga.
"Tentu saja nak," jawab Kakek van dengan senang hati karena ini baru pertama kalinya Aily meminta bantuanya.
"Tolong cari tau kemana perginya Kak Rion, aku akan menyusulnya." tanya Aily penuh harapan.
.
.
to be continued....