
Keluarga Estevant yang baru saja akan bubar, langsung menyambut keluarga calon besan saat melihat kehadiranya.
"Albert, dimana anakku?" tanya Alvin yang berjalan cepat ke arahnya, dia sangat ingin melihat kondisi anakknya.
"Dia baik-baik saja Al, kamu tidak perlu hawatir." ujar Albert pada teman lamanya itu.
"Agatha, sebentar lagi kita akan menimang cucu." ujar Meria tidak bisa menutupi rasa bahagianya, Agatha dan Alvin terlihat sangat kaget saat mendengar kabar dari Meria, namun sedetik kemudian rasa haru dan senang pun menyelimuti hati dan wajah mereka berdua.
Berbeda dengan Alika yang terlihat sangat syok dengan ucapan Meria, jantung bya berdebar sangat kencang dadanya terasa nyeri mendengar kabar yang entah bagaia atau sedih untuknya.
"Dimana dia sekarang, aku ingin menemuinya Mer." ujar Alvin yang memang tidak tahan lagi ingin bertemu dengan anaknya. Selama ini Alvin selalu tenang walau dia sendiri tidak bertemu dengan anaknya itu, karena Aily selalu di awasi oleh Bodyguard suruhanya dan mendengar setiap pergerakanya dari bawahanya itu. Namun sekarang tidak sama lagi, karena semenjah dirinya tau jika Rion juga mengawasi Aily dia menarik kedua Bodyguard yang bertugas menjaga Aily karena baginya Rion orang yang tepat yang bisa menjaga anaknya dengan baik.
"Dia baru saja kekamarnya, ayo aku antar." Ajak Meria, Alvin dan Agatha dengan cepat berjalan mengikuti Meria menuju kamar Aily. Sementara Alika dia berjalan sangat pelan, dengan pikiranya yang terasa kusut. Entah mengapa matanya terasa sangat perih.
Saat sampai di depan kamarnya, Meria mengetuk pintu lalu masuk. "Aily apa kamu masih bangun?" Tanya Meria saat masuk kedalam kamar Aily.
"Ada apa Mam? dia baru saja bangun." ujar Rion.
"Kedua orang tua Aily baru saja datang dan ingin menjenguknya," jawab Meria, Rion langsung menatap Qily yang nampak sangat malas untuk menemuinya.
Meria tersenyum dan duduk di tepi ranjang di samping Aily, wanita paruh baya itu tersenyum dan mengelus kepala Aily. "Bagaimana pun mereka orang tuamu Aily, mereka sangat menghawatirkanmu." ujar Meria. "Apa yang kamu lihat selama ini belum tentu seperti apa yang kamu pikirkan, setidaknya biarkan mereka tenang setelah melihatmu walau cuma sebentar." ujar Meria.
Aily hanya menatap wanita yang sedang tersenyum kearahnya itu, Entah mengapa tenggorokan Aily tiba-tiba perih matanya mulai memanas dia pun mengangguk.
Meria senang dia lalu membukakan pintu untuk Alvin dan Agatha, "Ayo masuk, anak kalian sudah bangun." ujar Meria dia keluar setelah melihat Agatha dan Alvin masuk lalu di susul Alika yang baru datang.
"Apa kamu baik-baik saja, nak?" tanya Alvin dengan nada lemah, Aily mengangguk tanpa menatap ke arah Ayahnya. Dia hanya menggenggam lengan Rion yang sudah duduk di sampingnya. "Ayah dengar kamu sedang mengandung, Ayah ikut senang dengan kehamilanmu."
Selama pertanyaan yang di lontarkan Alvin, Aily hanya mengangguk dan menggeleng sisanya Rionlah yang menjawab. Sejujurnya hati Alvin sangat nyeri ketika putrinya sama sekali tidak mau menatapnya dan bahkan untuk memeluknya saja Alvin merasa tidak berani.
Selama hamoir setengah jam mereka berada di sana, hanya Alvin lah yang bertanya. Agatha merasa lebih baik dirinya diam sama seperti yang di ucapkan anaknya, apalagi Alika sejak tadi diam hanya berdiri mematung dengan wajah sedihnya dan entah karena apa.
.
.
to be continued...