
Aily langsung memeluk pria yang bisa menenangkan pikiran dan hatinya, pria yang dapat menjadi pundak tuntuknya bersandar dan pria yang dapat melindunginya.
Rion tidak lagi menangis, dia menahan semua kesedihan agar Aily merasa nyaman dan mau berbagi beban denganya.
"Bagaimana kondisi Aily, Hana?"
"Kondisi bayinya baik-baik saja, tentang kondisi ibunya..." Hana terdiam sejenak. "Aku sudah mendengar itu dari Aily, besok aku akan siapkan jadwal untuk CT Scan dan menindak lanjuti langkah selanjutnya setelah melihat hasil pemeriksaan besok." ujar Hana dengan raut wajah yang sedih, wanita itu merasa kasian pada sepupunya.
"Aku mengerti," ujarnya tidak banyak bicara karena keputusan yang akan dia buat juga akan dia lakukan setelah melihat hasil pemeriksaan itu besok.
Dokter Hana pun keluar dari ruang inap setelah selesai berbincang cukup lama dengan sepupunya mengenai kandungan Aily.
"Mereka masih ada di luar, apa kamu tidak ingin membiarkan mereka untuk masuk dan melihat kondisimu sayang?" tanya Rion.
Aily meremas baju Rion yang sedang ia peluk, wanita itu masih belum siap untuk bertemu siapapun saat ini.
"Baiklah aku akan menyuruh Mami dan yang lainya pulang dan memberin kabar mu agar mereka tidak hawatir. Apalagi Ayahmu dia sangat menghawatirkanmu," ujar Rion jujur sambil memeluk dan mengekus wanitanya. Jujur Saja jika Rion saat ini sangat berdebar dengan hasil pemeriksaan yang akan di lakukan besok dia masih berharap jika semua ini hanya lah mimpi.
"Benarkah?" tanya nya sambil mendongak menatap pria yang sudah membuka pintu hatinya itu.
"Tentu saja, dia menangis dan gemeteran saat melihat kamu pingsan tadi." ujarnya. "Dia bilang akan menunggu mu diluar walaupun Ayah tau jika kamu tidak akan mau menemuinya."
Mendengar ucapan itu Aily pun berkaca-kaca, "apa Ayah sehawatir itu padaku?" tanya nya tidak percaya karena ini pertama kalinya Aily mendengar Ayahnya menghawatirkanya.
"Jadi Ayah selama ini menjagaku? pantas saja dia tidak pernah bertanya apapun tentangku," pikirnya dia hanya tau jika Rion yang menyuruh Bodyguardnya menjaga Aily itu pun dia tau dari Eria. Air matanya tidak terbendung lagi, Aily pun meneteskan cairan bening itu.
"Jangan menangis sayang, bayi kita akan bersedih jika Ibunya bersedih seperti ini." ujarnya sambil menyeka Air mata Aily dengan lembut.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya nya. "Apa selama ini aku salah mengerti tentang Ayah?" tanya nya lagi.
"Kamu hanya perlu memberi kesempatan padanya untuk berbicara, sayang. Istirahatlah aku akan menyuruh mereka untuk pulang," Rion merebahkan tubuh Aily di atas ranjang itu.
"Kak, tolong katakan padanya untuk tidak menungguku di luar hari ini, suruh Ayah datang besok sebelum jadwal pemeriksaanku. Karena aku ingin mendengar ceritanya," ujar Aily Rion pun tersenyum dan mengiyakan ucaoan Aily lalu keluar kamar.
Aily memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata, dia ingin mengingat masa lalu nya. Apalakah ada hal yang dia lewatkan atau bahkan di lupakan?
"Ibu akan membuatmu tetap berada di dunia ini sayang," ujar Aily sambil mengelus oerut yang masih rata itu.
.
.
to be continued...