
Rion merasa sangat menyesal karena sudah keluar untuk menghindari Aily demi bertemu sahabatnya Mikhail, dia keluar untuk mencari udara segar, tapi yang dia dapat malam pemandangan tidak enak dan udara kotor.
Bagaiamana tidak pemandangan di depanya mungkin bisa memanjakan mata pria lain namun tidak dengan Rion, Rion berpikir lebih baik jika dirinya di goda Aily dari pada melihat wanita-wanita berpakaian kurang bahan yang sedang menempel di tubuh Mikhail.
Rion mendengus, "lebih baik tadi aku tetap bersama Aily. Dari pada harus melihat buaya ini," gerutunya sambil menenggak habis Air putih yang ada di dalam gelas.
Mikhail tersenyum puas, "jadi itu nama calon istrimu?" tanya nya. Rion tidak menjawab dan hanya menatapnya sekilas lalu memalingkan kembali wajahnya, "jadi kenapa kamu menemuiku? Apa dia ketauan selingkuh? Atau -- "
"Jangan berpikir aneh-aneh dia anak baik-baik!" potongnya karena tidak suka mendengar sahabatnya menuduh calon istrinya.
"Lalu apa?" tanya Mikhail penasaran.
Rion kembali menatap Mikhail, walau merasa risih dengan kedua wanita yang menempel di tubuh Mikhail dengan manja. Rion tetap melanjutkan ceritanya jika selama ini Aily selalu mengajaknya bercinta sebelum menikah, Aily yang selalu menggodanya setiap malam dan cerita Rion pun mampu membuat Mikhail dan kedua wanita itu terbahak-bahak mendengar.
"Kenapa kau malah tertawa?" tanya Rion sambil menatap Mikhail tanpa ekpresi sedikitpun pria itu melipatkan kedua lenganya di dada.
"Haha bukanya kau bilang tadi jika wanita mu adalah wanita baik-baik? Lalu kenapa dia menggodamu dan terus mengajakmu bercinta?" tanya Mikhail sambil mengusap air mata yang keluar akibat tertawa yang terbahak.
"Kalau aku tau! Aku tidak akan bertanya kepadamu Mikhail!" sentak Rion dengan serius karena kesal sahabatnya malah bersikap tidak serius, padahal dirinya sedang tidak bercanda.
"Mungkin dia ingin mengetes kekuatan mu! Jika kamu kuat dia akan melanjutkan pernikahan itu. Dan sebaliknya jika tidak dia akan meninggalkanmu," jawab Mikhail asal karena dia berpikir jika mungkin saja calon istri Rion itu sama saja dengan wanita-wanita yang sedang menempel kepadanya.
Rion mendengus kesal mendengar ucapan Mikhail yang malah membuat nya gelisah, jika benar Aily akan meninggalakan Rion karena masalah itu. Rion akan sangat kecewa entah mengapa hatinya merasa sakit mendengar ucapan mikhail.
"Sayang..." panggil seorang wanita yang sudah jelas siapa pemilik suara itu, Rion dan yang lainpun menatap sumber suara.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Rion yang juga sedang menatap gadis yang menatapnya dengan tatapan kagum.
Dimana pun Rion berada dia selalu bersinar itu sebabnya Aily memilih Rion untuh menjadi ayah dari anaknya kelak.
"Aku kangen padamu, aku ingin ke apartement tapi tidak bisa masuk. Aku lupa sandinya," bohong Aily sambil bergelendot manja tanpa menyadari ada orang lain di depanya yang sedang melihat aksinya.
"Kamu bisa menanyakan itu pada Sekertaris Lee lewat Chat, kenapa harus repot-repot menemuiku!" ketusnya masih kesal dengan gadis cantik di hadapanya.
"Sudah, dia tidak menjawabnya, dan lagi Apartnya tidak bisa di buka aku butuh bantuanmu. Ayo ikut aku!" ajak Aily dengan penuh semangat.
"Hubungi Sekertaris Lee, dia akan mengurusnya." ucap Rion lagi dia menolak karena dia tau itu hanya akal-akalan gadisnya.
"Kamu terlalu tidak peka Asterion!" Sindir Mikhail dengan senyum di wajahnya, Mikhail sangat peka dengan ucaoan seorang wanita. Bahkan dari gestur tubuh saja dia tau apa yang di inginkan seorang wanita, karena pria itu ahlinya.
Rion menatap sahabatnya itu dengan tatapan sinis, sementara Aily yang baru sadar jika ada orang lain di depanya menatap dengan kagum pria yang tidak kalah tampan dengan calon suaminya.
Rion kembali menatap Aily yang sedang memperhatikan Mikhail dari atas hingga bawah dengan wajah yang berbinar. Tatapan suka yang biasanya hanya di tunjukan kepada dirinya seorang, kini Rion bisa melihat Aily menatap pria lain dengan tatapan yang sama kepadanya.
.
.
To be continued...