
Di pesisir pantai seorang gadis muda tengah memakan lahap semua hidangan yang berjenis ikan laut, perutnya sudah sangat kenyang namun mulutnya tidak berhenti ingin memakan semua jenis ikan yang di racik memakai berbagai jenis bumbu itu.
"Aily! sudah cukup hentikan. Perutmu akan meledak jika terus memakan semuanya," ujar susan wanita paruh baya yang menemukan Aily tersesat satu bulan lalu.
"Tapi aku tidak bisa berhenti memakan nya, bibi!" gerutu Aily karena Susan selalu menghentikan dirinya yang makan dengan porsi besar.
"Besok kamu bisa memakanya lagi, cukup untuk hari ini!" ujar Susan karena menghawatirkan Aily.
"Tapi ini bukan mauku! bayi di dalam perutku yang menginginkanya, bukankah aku harus memakan semua yang mau anakku makan. Iya kan?" tanya Aily pada beberapa wanita yang jauh lebih tua di banding Susan yang sedang duduk di depan Aily.
"Tentu saja, makanlah yang banyak Aily." jawab salah satu penduduk di sana. Aily mengetahui hal itu tentu saja dari mereka, penduduk pesisir pantai yang mengajari dirinya tentang kebiasaan yang sering terjadi pada wanita hamil.
Hampir seluruh penduduk di pesisir pantai selalu datang berbondong-bondong hanya untuk bermain dengan Aily, mereka sangat senang melihat wajah cantik Aily yang jarang sekali di lihat oleh penduduk sana.
Aily kembali memakan ikan bakar itu, namun Susan menghentikanya lagi. "Apa kamu tidak takut jika nanti suamimu datang menjemputmu, dan melihat tubuhmu semakin gemuk!" ujar Susan menakut-namuti Aily agar berhenti makan.
Raut wajah Aily berubah putih pucat mengingat Rion, Aily selalu ingin menangis saat mengingat pria itu. Entah karena apa, air matanya mulai membasahi wajah cantiknya.
Para ibu-ibu yang sedang ada di sana sudah terbiasa melihat perubahan mood Aily, bahkan mereka kerap kali membujuk Aily agar kembali tersenyum.
"Bibi! kenapa kamu selalu membuatku menangis!" gerutunya.
Bukan karena dia tidak suka Aily berada di tempatnya, dia dan penduduk sana malah menyukai Aily dan selalu memberi Aily ikan hasil panen para nelayan di sana.
"Dia tidak mungkin tergoda dengan wanita lain, Ayah dari anaku ini walau wajahnya sangat tampan dia tidak tertarik dengan wanita lain selain aku." ujarnya dengan percaya diri.
Mereka yang selalu mendengar ucapan yang sama dari bibir mungil gadis itu pun hanya tersenyum, karena sudah terbiasa mendengar gadis yang bernama Aily sering memuji suaminya.
"Kalau begitu ajak kemari suamimu, aku ingin melihatnya apakah benar dia pria yang tampan seperti kata ucapanmu." jawab Susan lagi wanita paruh baya itu selalu memojokan Aily untuk tujuan yang baik.
"Kalian kan sudah melihatnya di ponselku waktu itu," ketus Aily semakin kesal karena selalu mengungkin Rion.
"Ya dia kab bisa saja seorang aktris, dan kamu selalu mengaku-ngaku kalo dia ayah anakmu." jwabnya sambil tersenyum ke arah Aily.
"Oh tuhan kalian sangat menyebalkan!" gerutu Aily.
.
.
to be continued...