
Seharian ini Rion mencari-cari Aily ke sembarang tempat tanpa tujuan dan tanpa rencana, Rion menggila saat mendengar jika Aily tidak meninggalakn jejak sedikitpun saat dirinya menghilang.
"Brengsek kalian! apa kerja kalian sampai menjaga satu wanita saja tidak becus!" sentak Rion sambil mendorong meja di depanya hingga terjatuh dan membuat semua barang yang ada di atas meja itu pecah.
"Ma-- maaf tuan, saya pikir jika ada orang dalam yang membantu Nona Aily kabur dan lolos dari pantauan kami." jawabnya karena salah satu Bodyguard itu merasa curiga tidak akan ada yang bisa lepas dari pantauanya jika sudah menjadi targetnya.
"Aku tidak mau tau! cari dia sampai dapat, kalau tidak kalian yang akan mati di tanganku!" sentak Rion lagi dengan rahang yang sudah mengeras, wajah memerah karena menahan amarah dan mata yang panas dengan sedikit berkaca-kaca.
"Ayo lebih baik kamu pulang, sejak pagi kamu sudah mencari nya." ajak Sekertaris Lee menghawatirkan kondisi Rion yang sudah sangat lelah dan penampilan yang berantakan.
"Aku harus melanjutkan pencarianku, kita juga harus memperbanyak orang untuk mencarinya." titah Rion dengan nada lemas.
"Cukup Rion! aku yang akan mengurus nya. Sekarang kamu hanya perlu pulang dan beristirahat, apa kamu tidak akan memperdulikan tubuhmu? Lihat ini, lengan mu terluka saja kamu tidak menyadarinya!" gerutu Sekertaris Lee kesal melihat sahabatnya yang terlihat bodoh di matanya.
Sekertaris Lee mengobati lengan Rion yang terluka, mau tidak mau Rion menuruti keinginan sahabatnya itu karena dirinya mengancam tidak akan membantu mencari Aily jika Rion tidak menurut padanya. Sekertaris Lee juga mengantar Rion pulang ke mansion utama.
Saat Lee dan Rion sampai di mansion utama, anggota keluarganya langsung menyambut kedatangan Rion berharap mendapat kabar bahagia.
"Bagaimana? apa kalian menemukan Aily?" tanya Meria sangat hawatir, sejak tadi Meria menangis karena mendengar kabar jika di kediaman Bernard juga tidak ada sosok gadis cantik itu.
Rion hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menundukan kepalanya.
"Dia meninggalkan ku Mam," ujarnya dengan isak tangis yang hampir tidak terdengar karena terus berusaha menahanya.
"Tidak sayang, mami percaya Aily akan kembali jadi jangan bersedih lagi." bujuk Meria, sementara kakek Van dan Albert yang sejak tadi ada di sana hanya bisa berdiam diri dengan pikiranya masing-masing karena tidak tegak dengan Rion yang terlihat sangat terluka.
"Asterion Estevan!" teriak seseorang dari jauh yang mulai memasuki ruang utama di mansion itu, semua orang langsung menatap ke sumber suara. Disana ada Alvin yang berjalan sedikit berlari dengan raut wajah yang penuh amarah.
"Kemana putriku! kau bilang akan menjaganya dengan baik! tapi apa ini? kau kehilangan putriku! aku sampai meragukan apakah putriku benar-benar mencintaimu atau tidak" teriak Alvin sangat murka tepat di depan wajah Rion sambil menarik kerah pria itu.
Rion mendengus sambil tersenyum pahit, "kau kira dia pergi karena apa? itu semua karena mu tuan Alvin Bernard! Aily tidak percaya pernikahan bahkan tidak percaya dengan pria karena trauma di masa lalu karena ulah ayahnya sendiri!" sentak Rion tidak kalah murka.
"Cukup Rion!" sentak Meria dan hampir mau menampar anaknya namun di tahan oleh Alvin. "Ini semua salah Mami bukan salah Alvin," ujarnya merasa benar-benar bersalah karena dirinya lah Alvin menikah dengan Agatha.
.
.
to be continued...