
Aily tersenyum menatap Rion yang sedang menatapnya dengan bingung, uang bukan masalah baginya namun Rion curiga dengan apa yang akan di lakukan wanitanya dengan uang sebanyak itu.
Dari segi penampilan yang mempunyai keluarga kaya Aily harusnya bisa saja memakai barang-barang mewah, tapi anak itu sama sekali tidak memakainya dengan berlebihan dia hanya memakai secukupnya. Itu berarti Aily tidak terlalu menyukai kemewahan, "nanti aku akan minta sekertaris Lee untuk memberimu uang Cash, tapi apa yang mau kamu beli tanpa menggunakan cartu credit?"tanya Rion heran.
Apakah Aily akan membeli Mobil? Rumah? bukankah semua itu bisa di bayar menggunakan kartu pikir Rion, Aily memeluk pinggang pria itu. "Nanti kakak juga tau sendiri, dan aku tidak akan menggunakan uang itu untuk hal yang aneh-aneh." Jawabnya, Rion pun mengelus rambut gadis itu pelan.
Aily memejamkan matanya sambil mengingat mimpi yang baru saja dia alami, di dalam mimpi Aily meninggal dunia dan meninggalkan dua anak kembar dan di dalam mimoi itu Rion menangis dengan histeris.
"Apa kamu akan menangisi kepergianku saat aku meninggal?" tanya Aily namun hanya di dalam hatinya, air matanya pun menetes dipinggang Rion yang sedang duduk sambil memeluknya yang sedang berbaring di atas ranjang.
*
Keesokan harinya setelah pulang dari kampus dia sengaja datang kekediaman orang tuanya untuk mengambil pakaian yang mungkin akan dia butuhkan.
Aily tersenyum saat dirinya keluar kamar membawa koper karena tidak ada ibu dan kakak tirinya itu, bukan karena takut tapi karema dirinya sedang malas untuk berdebat.
"Aily! mau kemana kamu membawa koper lagi?" tanya Agatha karena setaunya gadis itu sudah membawa pakaianya, apakah Aily benar-benar akan meninggalkan rumah ini sampai membawa kembali seluruh pakaian nya.
"Sial!! padahal sedikit lagi aku bisa keluar dari rumah ini tanpa bertemu dengan nenek lampir." gumamnya dalam hati lalu dia berbalik ke arah sumber suara saat sudah menghentikan langkahnya.
"aduh, kepala ibu sakit saat mengingat itu. Bagaimana bisa kamu Aily tidur dengan pria yang bukan suamimu! apalagi dia adalah calon suami kakakmu!" gerutunya kesal sambil memijat pelipis yang terasa sakit.
"Ibu, biarkan saja." Ujar Alika walau dirinya berusaha menahan ibunya agar tidak bertengkar sejujurnya dirinya merasa sakit karena pria yang dia sukai sejak pandangan pertama di rebut oleh adik tirinya.
Aily tidak menjawab dia tidak peduli dengan apapun yang akan mereka lakukan atau apapun yang akan mereka katakan.
"Bukan begitu Alika, dia harus di didik dengan benar. Ayahmu itu memang sangat susah di bilangin jika Aily akan terus melawan jika ayahmu tidak mendidik nya dengan benar. Dan kamu lihat sendiri kan ulahnya sekarang? dia bahkan berani merebut calon suamimu!" gerutunya oanjang lebar karena kesal Alika selalu mementingkan Aily, namun dirinya juga sudah tidak tahan selama ini selalu mendahulukain anak tirinya namun yang dia dapat selalu kata-kata kasar yang keluar dari bibir Aily.
"Bagaimana jika Naira yang sudah meninggal melihat kelakuan anaknya di atas sana," ujarnya pada Alika namun ucapan terakhir itu membuat Aily langsung kesal dan marah.
"Jangan pernah menyebut nama ibuku oleh mulut kotor mu itu!" sentak Aily dengan wajah yang memerah dan air mata yang menetes di pipinya.
.
.
to be continued...