
Aily merasa tenang mendengar ucapan Rion yang akan bertanggung jawab pada anaknya kelak, ya sudah pasti Rion akan melakukan itu untuk anaknya karena Rion tidak seperti ayahnya yang hanya memperdulikan Alika.
Dari tadi sejak pria itu mengetahui ada anaknya di dalam perut Aily, Rion tidak lepas dari perut gadis itu. Rion terus menciumi perut Aily yang berbaring di atas ranjang dengan sangat lembut dan menusapnya pelan.
"Sudah cukup kak," ujar Aily sambil menutup kembali pakaianya. "Aku geli, kakak jangan menciumi perutku seperti itu." Wajah Aily merona sebenarnya ada perasaan lain yang ia rasakan saat Rion menciumi perutnya itu.
"Mommy mu jahat sayang, Daddy masih merindukanmu utun. Tapi Momny mu selalu memisahkan kita!" gerutunya dengan kesal, sejujur nya Rion masih sangat kesal dengan Aily yang menyembunyikan kehamilan anak itu dan lari dari pernikahanya.
"Mommy? Daddy? aku tidak mau anakku memanggil kita seperti itu, aku ingin anakku memanggilku Ibu." protes Aily pada Rion sambil menutup perut dengan pakaian yang ia kenakan.
"Kenapa? dia anakku juga Ai... aku juga ingin anak kita memanggilku dengan panggilan Daddy dan Mommy," pinta Rion pada Aily.
"Tidak mau kamu tidak ada hak pada anakku," ujar Aily lagi. "Karena sejak awal aku yang menginginkan bayi ini."
"Aku tau, tapi sejak awal aku tidak menolak bayi ini. Aku menyukai nya, dan aku juga ikut serta dalam pembuatanya. Jika tidak ada benihku mana mungkin kamu hamil, sayangku." ujar Rion berusaha membujuk wanitanya itu, entah mengapa sekarang Aily sangat susah di ajak kompromi walaupun dulu juga memang susah sih.
"Tapi-- "
"Stop! kita bicarakan ini nanti, aku ingin kita pulang lebih dulu." ajak Rion, pria itu sudah sangat tidak bertah berada di sini, ya walaupun sekarang dia masih bisa bertahan di sana karena adanya Aily. Dan hal lainya dia sangat ingin cepat memberi kabar kepada seluruh anggota keluarganya.
Aily menundukan kepalanya dengan wajah sedih, "aku masih ingin di sini, kak." Aily masih bingung apakah jika dirinya pulang itu adalah pilihan terbaik untuknya dan anaknya kelak atau itu akan menjadi bumerang lagi untuknya.
"Kita harus segera menikah, Ai... anak kita harus mempunyai orang tua yang lengkap. Aku mohon padamu, aku benar-benar mencintaimu Ai. Aku janji tidak akan menduakan mu seperti apa yang selama ini kamu takutkan aku akan membuat trauma mu hilang, aku janji." ujarnya dengan Air mata yang sudah mulai menetes Rion sangat subgguh-sungguh dengan ucapanya. "Beri aku kesempatan untuk membuktikanya padamu dan pada anak kita," ujar Rion sambil mencium punggung lengan Aily dengan tetesan air mata di pipinya.
Rion memeluk wanitanya dengan sangat erat, namun suara ponsel membuyarkan keduanya. Rion tidak langsung menjawab, dia menatap Aily dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Siapa?" tanya Aily bingung karena Rion menatapnya saat sudah melihat layar pinselnya.
"Alika," jawab Rion singkat.
DEG.
Jantung Aily seketika terasa nyeri, Aily berpikir apa keduanya mempunyai hubungan dekat sampai bisa saling berhubungan lewat panggilan telpon. Apa selama diribya tidak ada, Alika berhasil mendekati Rion.
"Angkat," pinta Aily
.
.
*to be continued...
Maaf yah kalo banyak typo, tangan aku kebas-kebas kalo lagi kambuh darah rendahnya. males benerin nya lagi huhu. 3 bab aja cukup yah. ga sanggup niat hati ingin 5 bab wkwkwk*.