
Sejak saat tadi Rion tidak sabar untuk menemui Aily, entah karena apa namun saat bekerja oteknya selalu di penuhi wajah wanitanya.
Wanita yang sudah seutuhnya menjadi miliknya, walau belum ada ikatan namun Rion pastikan jika Aily akan menjadi satu-satunya yang ada di dalam hati nya dan menjadi yang pertama juga menjadi yang terakhir untuknya.
"Mom, apa Aily sudah pulang?" tanya Rion merasa hawatir karena saat dirinya pulang dan langsung memeriksa kamar Aily tidak ada wanitanya di dalam sana.
"Sejak tadi sore Aily sudah pulang dan tidak keluar lagi Nak, ada apa?" tanya Meria merasa hawatir karena melihat reaksi anak pertamanya itu.
"Tidak ada apa-apa mam," jawabnya. Rion tidak ingin membuat orang lain hawatir juga dia kembali ke kamar Aily untuk mengecek keberadaan gadis itu.
"Tuan cari Nona Aily?" tanya salah satu pelan yang yang berpapasan denganya.
"Iya kemana Aily?" tanya Rion pada pelayan yang entah siapa namanya itu karena terlalu banyaknya pelayan di mansion utama ini.
"Nona Aily sejak tadi menunggu Tuan di dalam kamar tuan Rion." Jawab pelayan itu.
Rion hanya mengangguk dan bergegas menuju kamarnya yang dimana di dalam nya sudah ada Aily. Pemandangan pertama saat masuk kedalam kamar, gadis itu sedang duduk di kursi sambil membelakangi Rion yang baru masuk kedalam.
"Ai... Kamu sedang apa di sana?" tanya Rion karena saat membuka pintu, gadis itu sama sekali tidak menoleh membuat Rion semakin penasaran saja. Rion pun berjalan mendekatinya dan berjongkok menghadapnya.
"Aily? Sayang?" tanyanya lagi sambil meraup kedua pipi gadis itu hingga membuat Aily menatapnya. "Ada apa hm?"
Rion semakin gelisah karena gadis itu tidak kunjung menjawabnya dan malah memasang wajah sendunya itu, Aily hanya menatap mata pria di depanya dia takut jika tubuhnya akan kembali remuk seperti pagi tadi jika Rion bercinta sampai pagi lagi.
Sudah berjam-jam Aily memikirkan itu, dia tidak tau jika bercinta akan membuat tubuhnya terasa remuk dan sakit di bagian intinya. Namun demi kelangsungan misinya dia harus kembali melakukanya.
"Aku ingin bercinta denganmu lagi," ucapnya saat pertama kali membuka mulutnya gadis itu malah mengajaknya bercinta hingga membuatnya semakin tercengang.
"Ai... Tapi ini masih sore sayang." Jawab Rion karena sejujurnya Rion sudah berjanji kepada dirinya sendiri jika dia tidak akan melakukanya lagi sampai saat hari pernikahanya. Di tambah mereka sedang ada di mansion utama dimana tidak hanya ada Aily dan Rion saja di sana, namun kedua orang tuanya, Eria dan juga Kakek Van.
"Aku mau sekarang!"
Aily berdiri lalu membuka kimono yang ia kenakan, Rion yang sejak tadi berjongkok terjatuh ke lantai karena kaget dengan aksi yang Aily lakukan di depan matanya.
Rion melihat tubuh Aily yang putih mulus itu hanya mengenakan bra dan ****** ***** saja, Rion semakin terkejut dengan Aily yang langsung duduk di pahanya.
"Tapi dokter bilang di sini belum ada bayi," jawabnya sambil mengusap perut ratanya. "Dia bilang kita harus sering melakukanya agar biaa cepat jadi bayi Kak!" jawabnya.
Rion yang sejak tadi menelan salivanya susah karena menatap kedua belah dada Aily yang entah mengapa sangat menggoda imanya itu tiba-tiba terkejut dengan saran Dokter yang di ucapkan Aily.
"Sialan kau Rihana!!" umpat Rion dalam hati, karena sudah membuat Aily yang gila semakin gila lagi untuk bercinta.
"Ayo sayang!" Ajak Aily sambil merengek dengan sedikit bergerak, tentu saja posisi dan gerakan itu dengan mudahnya membuat reaksi di tubuh Pria yang mati-matian menahan hasratnya karena adek kecil nya sudah mulai mengeras dan sesak.
"Tunggu-tunggu sanyang jangan bergerak! Dengarkan aku dulu," Rion masih berusaha bernegosiasi dengan gadis itu.
"Ada apa?" tanya Aily menghentikan rengekanya.
"Nanti malam saja, saat semua orang tertidur." bukuk Rion sambil mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya lalu mendudukanya di atas ranjang.
Ah, lega rasanya karena kini Rion tidak terlalu menderita lagi karena posisi yang sangat menguntungkan untuknya. Harusnya begitu, tapi Rion berpikir itu posisi yang membuatnya kesal untuk saat ini.
"Tidak mau! Aku ingin sekarang. Nanti malam waktunya tidur kak!" gerutunya. "Biarkan saja mereka tau, toh kita sudah mengetahinya juga," ujar Aily dan membuat Rion semakin pusing.
"Tidak Ai... Nanti malam!" ujar Rion dengan tegas.
Aily berdiri dan hendak memeluk pria itu, namun Rion dengan cepat menjauh. "Tunggu sampai aku datang!" ucap Rion dengan tegas meninggalkan Aily dan menguncinya dari luar.
Diluar Rion mengusap kasar wajah tamoanya yang terlihat sangat kusut dan pucat, dia tidak sadar jika sedang di tatap seorang gadis bernama Eria.
"Ada apa Er?" tanya Rion saat menyadari keberadaan gadis itu.
"Aku ingin berbicara denganmu," ucapnya.
.
.
To be continued...