
Aily menggeliatkan tubuh saat terbangun dari tidurnya, dia merasakan remuk di sekujur tubuhnya dan rasa sakit ri inti miliknya. Gadis itu mengedarkan pandanganya di seluruh ruangankini sudah idak ada lagi suara erangan yang saling bersautan dengan kedua tubuh yang saling menyatu seutuhnya, dengan gairah yang membara saling mencari kepuasan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk bercinta, yang jelas Rion tidak bisa membiarkan Aily tidur begitu saja setelah ronde pertama, kedua dan ketiga. Hingga pagi menjelang pria itu tetap membuat Aily merasa menyesal karena Rion benar-benar membuat dirinya tergulai lemas di atas ranjang.
"Jika tau sekuat itu, harusnya aku beli obat kuat untuk diriku sendiri agar bisa mengimbanginya." keluhnya merasa menyesal membeli lingeri yang sama sekali tidak terpakai itu.
Aily kembali tersenyum mengingat betapa gila nya Pria itu saat bertempur di atas ranjang, peluh yang membasahi tubuh Rion terlihat sangat sexy di mata Aily hingga membuatnya kembali tersenyum saat mengingat kejadian semalam.
"Gila!! aku berhasil Aaaaaahhkkk!!!" teriaknya kegirangan saat misinya berhasil ia lakukan.
Rion yang sejak tadi berada di luar bergegas masuk kedalam kamar dengan raut wajah yang begitu hawatir, o Aily! Sayang ada apa?" tanya Rion setengah berlari ke arahnya.
"Ahhh jangan melihatku!" teriak Aily yang langsung masuk ke dalam selimut saat menyadari pria itu sudah berada di dalam kamar. Aily masih sangat malu karena tubuhnya benar-benar polos dengan tanda-tanda merah di sekujur tubuhnya yang sudah jelas siapa pelakunya.
Wajah Rion pun merona, walau semalaman penuh melihat tubuh Aily yang polos dirinya masih merasa berdebar saat melihat tubuh Aily lagi. Apalagi adeknya yang di bawah sudah mulai baper.
Rion langsung membawa Kaos putih polos milik nya di dalam lemari lalu berjalan kearah gadis itu dan duduk di sampingnya, "buka dulu sayang."
"Jangan sekarang, aku masih lelah kak."
"Iya, ayo bangun dan kita isi tenaga dulu Nona!" ajak Rion.
"Aku tidak mau lagi melakukanya, tubuhku benar-benar remuk!" ketusnya karena untuk sekarang Aily tidak bisa melayani pria itu.
"Non..."
"..."
"Aaahhh kakak!" teriak Aily berusaha menahan selimutnya.
"Pakailah ini," perintah Rion sambil memakaikan kaos polos itu di tubuh Aily. "Aku tidak sedang mengajakmu bercinta, tapi aku mengajakmu untuk makan agar tenaga mu pulih."
Aily malu saat mendengar ucapan pria itu yang mengajaknya makan, dia kira Rion akan kembali mengajaknya bercinta seperti semalam yang dia lakukan terus merayu, memujinya agar kembali bercinta.
"Ah, kita mau kemana kak?" tanya Aily saat tubuhnya merasa melayang karena kini Rion sedang menggendongnya.
"Tentu saja kita harus sarapan, aku sudah membuatkan sarapan untukmu Baby!" ucap Rion dan langsung mencium Aily sekilas.
Rion tidak menurunkan Aily, dia malah mendudukan Aily di atas pahanya saat sedang duduk di meja makan.
"Aku bisa duduk di sana kak," ujar Aily lamun Rion enggan melepaskan lengan yang merangkul pinggang ramping gadis itu.
"Aaaaaa..." ucap Rion saat menyodorkan sendok berisi nasi goreng di mulut mungil itu, Aily pun tanpa sadar membuka mulutnya dan melahap makanan itu.
"Anak pintar, makan yang banyak agar mereka dapat kekuatan dan berlomba-lomba masuk kedalam rahimu." ucap Rion sambil mengelus perut gadis itu yang membuat Aily menahan senyumanya. Aily merasa belum terbiasa dengan tingkah Rion yang mulai menerimanya, mulai penuh perhatian. Aily sudah terbiasa dengan penolakan pria itu, hingga sekarang saat semuanya terbalik Aily merasa tidak menyangka dan merasa aneh.
Sepanjang sarapan pagi, Rion memperlakukan Aily layaknya seorang ratu yang penuh cinta.
.
.
to be continued....