
Alika dan Agatha terdiam melihat Aily yang terisak, Aily melangkah pergi sambil menyeret koper pink miliknya.
"Aily tunggu!" panggil Agatha merasa bersalah, namun Alika menariknya untuk tidak mengejar Aily. "Alika, Aily nangis gara-gara ucapan ibu." ujarnya dengan raut wajah sedih.
"Biarkan saja bu, kalau kita menyusulnya pasti dia akan semakin marah." ujar Alika karena mengetahui sipat adik tirinya itu. "Jika kita jelaskan juga dia tidak akan mau mendengar ucapan kita. Aku dan Ibu akan selalu salah di matanya, jadi biarkan dia berfikir dengan pemikiranya yang terus menyalahkan kita karena hadir di kehidupanya." ucapnya dengan kesal lalu meninggalkan ibunya.
Agatha kebingungan dia menatap kepergian Alika dan juga melirik pintu dimana Aily pergi.
Sementara di dalam ruang kerjanya di perusahaan Estevan Company, Rion sedang menunggu jawaban dari Sekertaris Lee.
"Maksud tuan bagaimana?" Sekertaris Lee malah balik bertanya dengan pertanyaan yang barusan Rion tanyakan kepada dirinya.
"Iya, menurut mu apa Aily menyukaiku? mencintaiku?" Rion mengulang pertanyaan nya lagi dengan kesal karena Sekertaris Lee membuatnya kembali bertanya.
"Tentu saja! kalian bahkan sudah bercinta kenapa harus di pertanyakan lagi bagaimana perasaanya!" ujar Sekertaris Lee dan pernyataan itu sontak membuat Rion terdiam. "Apa tuan pernah menanyakan perasaanya? atau saling mengungkapkan perasaan?" tanya Sekertaris Lee lagi, dia berpikir tentu saja mereka pasti sudah saling mengungkapkan perasaan dia malah bertanya hal bidoh seperti itu.
"Belum," jawab Rion tanpa semangat.
"Iya tentu saja belum," ucapnya lalu sedetik kemudian tersadar jika Rion menjawab dengan jawaban yang berbeda dengan otaknya. "Maksud Tuan, kalian belum saling mengungkapkan perasaan? apa kalian juga belum mempunyai komitmen atau semacam hubungan seperti pacaran?" tanya Sekertaris Lee untuk memastikan.
"Tidak ada yang seperti itu." ujar Rion sambil mengusap wajahnya dengan frustasi karena merasa bodoh dengan perbuatanya.
"Apa kau bodoh Asterion!" ketus Sekertaris Lee kesal akhirnya dia berani memekik sahabatnya itu.
"Kau!" sentak Rion sambil melotot ke arah sekertaris Lee, karena sudah lama sekali Rion tidak pernah mendengar Sekertaris Lee marah atau memekik namanya karena selalu dalam mode atasan dan bawahan selama bekerja.
"Tapi kita akan menikah juga pada akhirnya," ujar Rion membela dirinya karena sejak awal dia sendiri tidak pernah memaksa Aily untuk bercinta dan malah sebaliknya Aily lah yang mengajaknya.
"Tetap saja, apa kamu tidak penasaran dengan isi hatinya? apa kamu akan menikah tanpa cinta? aku tanya sama kamu, apa kamu sendiri mencintai Aily?" tanya Sekertaris Lee sambil menatap sahabatnya itu.
"Aku!!! aku..." Rion bingung apa yang akan dia ucapkan pada Sekertaris Lee karena dia sendiri tidak tau isi hati calon istrinya. "Dia selalu mengajakku bercinta, bukankah itu menunjukan jika dia juga mencintaiku Lee?" ujarnya berharap pemikiranya selama ini benar.
"Aku tidak tau, jika dia tidak mencintaimu mungkin dia ingin mendapatkan sesuatu darimu." ujarnya dan membuat dirinya sendiri dan Rion tersadar.
"Uang cash," ucap Rion dan Sekertaris Lee secara bersamaan.
"Tapi dia kaya, uang yang di mintapun ga seberapa." bantah Lee lagi karena itu tidak mungkin dan Rion pun mengangguk tanda setuju.
"Kalau begitu coba kamu tanyakan langsung kepada orangnya," saran Lee.
.
.
to be continued...
Sambil nunggu bab selanjutnya mending baca dulu karya temenku yuk di persilahkan mampir...