
"Itu karena kamu terus menolaku!" ketusnya kesal karena dirinya sekarang benar-benar frustasi dengan Rion yang selalu menolaknya.
Rion menatapnya semakin tajam tanpa melonggarkan kedua tubuh mereka yang menempel, "jadi kamu akan mencari orang lain yang mau tidur denganmu!" ketusnya tidak habis pikir. Padahal sebentar lagi mereka akan menikah, tapi betapa tidak sabaranya gadis ini.
"Tentu saja, aku sangat menginginkan anak!" jawabnya dengan berani dan jujur, karena waktu yang dia buang sia-sia sudah hampir satu bulan dari hari dimana dirinya dinyatakan mempunyai penyakit.
"Kau!" sentak Rion sambil melotot. Rion tidak jadi membentak dan marah pada gadis di hadapanya, dia lebih memilih melamoiaskanya dengan sebuat ciuman kasar yang mulai mendarat di bibir Aily.
Gadis itu terkejut dan juga kewalahan, karena Rion tidak menciumnya seperti yang biasa dia lakukan. Kali ini rasanya sangat perih namun bercampur nikmat.
Pria didepanya menekan kuat tengkuk leher aily dan menyedot lidah Aily dengan sangat kasar dan dalam, dan membuat Aily meringis kesakitan. Bibir pria itu mulai melepaskan lidah Aily dan kembali mengulum habis bibir ranum milik Aily dengan gemas dan sedikit kasar.
"Jangan berani mendekati pria lain lagi!" ucap Rion saat melepaskan tautan bibir keduanya, "Jika tidak! Malam ini kamu tidak bisa bercinta denganku!" sentaknya pada gadis yang masih terengah-engah mengatur nafasnya.
Sebelum kesadaran Aily kembali sepenuhnya, pria tampan itu lebih dulu meninggalkan Aily kembali ketempat dimana sebelumnya mereka duduk. "Yaampun, maksudnya malam ini kita benar-benar akan bercinta?" tanya Aily sambil menatap pintu yang sudah tertutup dengan wajah yang merona.
Aily kegirangan sambil berloncat-loncat kecil dengan dada yang berdebar, "Astaga dia membuat jantungku hampir copot! Harusnya jangan bicara padaku seperti itu, dia harusnya langsung melakukanya saja!" ketusnya karena entah mengapa dirinya malah berdebar dan merasa malu saat membayangkan keduanya saling menempel tanpa menggunakan sehelai benangpun.
Aily pun berjalan masuk kembali kedalam lestoran itu, dengan jantung yang sudah tidak karuan, lengan yang terasa dingin dan wajah yang merona Aily terus berjalan dengan senyum di wajahnya.
Mikhail menatap Rion yang kembali duduk dengan wajah yang lebih tenang dibanding sebelumnya, Mikhail tersenyum kecut saat melihat ada bekas lipstik di bibir sahabatnya. "Rupanya ada yang lebih dulu bermain tikung!" sindir Mikhail pada sahabatnya itu.
Rion hanya menatap Mikhail datar, lalu melahap makanan yang ternyata sudah di sajikan pelayan di atas meja. "Sudah ku bilang, jangan mengganggu milikku!" ujar nya dengan tatapan tajam milik Rion.
"Iya mungkin malam ini akan menjadi malam dimana kamu akan memiliki dia, seutuhnya!" curiga Mikhail karena kemungkinan Rion sudah mengancam Aily karena kecemburuanya.
Rion tidak terlalu memedulikan omongan Mikhail, yang terpenting gadianya tidak lagi berpaling darinya. Mikhail tersenyum dalam hati akhirnya dia bisa melihat bagaimana Rion cemburu terhadap seorang gadis.
"Wah sudah banyak makanan di sini," ucap Aily antusias saat melihat makanan yang di pesan mereka menggugah seleranya.
Jika Rion menatap aktifitas makan Aily sambil tersenyum manis, lain reaksinya ketiga orang yang ada di depanya mereka menatap Aily dengan wajah yang syok karena porsi makan Aily yang terbilang banyak untuk ukuran seorang gadis kecil.
Rion yang sejak tadi menghadap Aily dia akhirnya meraih rambut hitam panjang milik Aily yang menjadi pusat perhatianya sekarang, dia mencium rambut itu tanpa sadar semua orang sedang menatapnya.
"Kakak?" panggil Aily dan membuat Rion membuka matanya dan replek melepas rambut Aily.
"Ada apa?" tanya Rion saat rambut itu terlepas dari lenganya.
"Oh my god! Banyak bekas lipstik ku yang menempel di bibirmu." ujar Aily langsung mengambil tisue yang ada di atas meja dan langsung menghapusnya, Aily baru melihat wajah Rion karena sejak tadi dia hanya pokus dengan makananya.
Sementara wajah pria itu sekarang semakin merah padam karena kesal dengan tingkahnya sendiri dan ulah Aily yang berhasil membuat Mikhail mulai menertawakanya, rasanya pria itu ingin langsung menghilang detik itu juga.
Aily kembali bergelendot manja di lengan Rion, "Ayo kita pulang!" ajak Rion namun Aily menggeleng karena makanan yang ada di atas meja masih banyak yang belum ia makan. "Ke apartemen!" Ajaknya lagi dengan nada lebih tinggi.
Aily yang tahu maksud dari ucapan pria itupun langsung melotot kegirangan dengan jantung yang berdebar, "ayo cepat pulang ke apartemen!" ucap Aily yang langsung berdiri dengan semangat.
.
.
To be continued...
...***Haii Readers... Apa taun baruan kalian pergi? Kira-kira up banyak apa ga usah yah? Kalau kalian pergi author ga usah up banyak kali yah hihii🤭🤭 ...
...Btw selamat tahun baru🥳🥳🥳 semoga di awal tahun 2023 kita semua menjadi pribadi yang lebih baik***......