
Sejak dalam perjalanan Sekertaris Lee curi-curi pandang pada Rion yang duduk di kursi penumpang belakang lewat kaca spion , pria itu sejak masuk kedalam mobil terus mengulum senyum membuat Sekertaris Lee merasa gelisah.
"Apa sebahagia itu dapat menjemput pulang mempelai wanuta yang kabur?" tanya nya dalam hati.
Rion sadar jika Sekertaris Lee sudah sangat tidak sabar ingin bertanya, namun dirinya pun tidak dapat berbicara karena takut mood calon istrinya akan jelek.
Rion memeluk Aily sepanjang perjalanan, wanita itu mulai tertidur di dada bidangnya. Rion menatap Sekertaris Lee yang sedang menatap nya juga, "aku akan punya anak." ucap Rion pelan sambil mengulum senyuman.
"What?!" pekik Sekertaris Lee kaget menatap Rion penuh tanya. Namun Rion membalas Sekertaris Lee dengan tatapan tajam karena membuat calon istrinya kaget.
"Jangan berisik! calon istriku dan bayi kami sedang tertidur," ujar Rion dengan nada rendah agar Sekertaris Lee juga mengikuti volume bicaranya.
"Kamu serius? kamu yakin dia hamil?" tanya nya pelan
"Aku yakin, kalaupun dia tidak hamil aku akan terus menghamilinya." ujar Rion menbuat supir yang sejak tadi pokus pada jalanan yang mereka lalui tiba-tiba tersedak tawa yang iya tahan.
"Kau!" sentak Rion pelan.
"Ma-maaf tuan," ujar supir itu dan kembali fokus pada jalanan. Sekertaris Lee yang menatap supir itu kembali menatap Rion.
"Apa anakmu perempuan atau laki-laki?" tanya nya membuat Rion berpikir.
"Aku lupa menanyakanya, memangnya jika belum lahir kita tau jenis kelamin nya Lee?" tanya Rion yang memang buta dengan ilmu kedokteran atau semacamnya karena ini pertama kali bagi dirinya yang selalu pokus pada pekerjaan.
"Bisa, nanti bisa cek lewat USG." Ujar Lee pada Rion yang juga mempercayai ucapan itu.
Sementara supir itu langsung melihat perut Aily yang masih rata lewat kaca sepion, dia menggelengkan kepalanya pelan karena melihat kedua bosnya sangat bodoh dirinya saja bisa memperkirakan umur kandungan Nyonya itu.
"Aduh, perutku." keluh Aily yang tiba-tiba bangun sambil meringis, Rion pun langsung terlihat hawatir pada keadaan Aily.
"Cepat-cepat!" perintah Sekertaris Lee.
Rion mengusap perut Aily dia sangat takut jika terjadi apa-apa kepada ibu dan anaknya, Rion terus mengusap perut Aily dengan lembut sambil mencium pucuk kepala Aily.
"Tapi kak,"
"Sabar sayang, kita akan segera ke rumah sakit terdekat." ujar Rion dengan lengan yang sedikit bergetar.
"Kak!" sentak Aily agar Rion menatapnya. "Aku ingin makan, perutku lapar!" ketusnya kesal karena Rion tidak mendengarkan ucapanya lebih dulu.
Rion dan yang lain mengenga mendengar ucapan Aily, mereka sangat hawatir namun nyatanya Aily hanya kelaparan.
"Baiklah, apa yang ingin kamu makan Nonaku?" tanya Rion setelah melewati rasa kagetnya. "Kenapa kamu membuatku hawatir heuh?" tanya nya lagi sambil mencubit hidung Aily dengan gemas, dengan jantung yang masih berdebar ketakutan dia berusaha terlihat tenang.
"Aku kan tidak bilang jika perut ku sakit karena ingin kerumah sakit, Aku bilang sakit perut karrna lapar." jawab Aily.
Rion hanya menghela napasnya berusaha sabar, karena jelas Aily tadi hanya bilang jika perutnya sakit.
"Baiklah kamu ingin makan apa, sayangku?" tanya Rion lagi pada Aily.
"Aku ingin makan, cilok kuah." ujar Aily membuat Rion yang tidak tau jenis makanan apa itu terlihat kaget dengan nama makanan yang belum pernah ia dengar.
.
.
To be continued...