My Hot Little Girl

My Hot Little Girl
Episode 83



"Maaf aku akan kembali jika kalian sudah selesai," ujar Alika mundur untuk kembali keluar, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Rion.


"Tunggu Alika," ujar Rion lalu kembali menatap Aily. "Sayang, sepertinya kamu harus berbicara denganya. Aku akan keluar untuk bertemu dengan Rihana sebentar," ujar Rion pada wanitanya sambil menutupi perut Aily dengan pakainya kembali.


Aily mengangguk Rion pun mencium kening Aily sekilas lalu prgi meninggalkan kedua wanita itu.


Alika berjalan dengan sedikit ragu mendekati Aily yang sama sekali tidak menatapnya, mereka berdua sama-sama canggung karena sebelumnya tidak pernah berbicara satu sama lain.


"Aily..." panggil Alika gadis itupun menoleh ke arahnya.


"Maafkan Kakak tentang kejadian kemarin, aku tidak bermaksud berbicara kasar tentang bayimu." ujarnya jujur karena saat itu dirinya merasa ketakutan saat tau jika Aily sakit.


Aily mengangguk, "aku mengerti." jawabnya singkat.


"Aily tolong maafkan, Ayah dan ibu terutama Aku." ujarnya tiba-tiba selama ini mereka selalu berbicara kasar dan bertengkar dengan Aily. "Tapi percayalah, Ayah sangat menyayangimu dan perkataan kasarnya selama ini itu hanya semata-mata untuk membuat mu tumbuh dengan baik."


Aily masih diam dan duduk di atas ranjang tanpa menjawab kakaknya, dia berusaha mendengarkan apa yang akan kakak tirinya itu sampaikan kepadanya.


"Boleh aku bercerita sedikit tentang masa lalu yang aku ingat dulu tentang Ibu Naira?" tanya Alika dengan hati-hati karena dia takut jika Aily akan mengamuk lagi saat membicarakan Ibu kandungnya.


Aily kembali menatap Alika dengan rasa penasaran karena dia tidak pernah mendengar apapun tentang ibunya selain ingata dari masa kecilnya, Aily mengangguk menyetujui ucapan Alika.


Alika tersenyum karena baru kali ini melihat Aily yang menurut kepadanya, "Ibu Naira adalah seorang ibu yang sangat baik dan juga penyanyang." ujar Alika "Sebelum Ibuku hadir Ibu Naira memaksa Ayah untuk menikah lagi karena saat itu Ibu Naira sudah menderita tumor otak dan tidak mungkin melahirkan seorang anak, dia sendiri dan Tante Meria yang mencari calon untuk dinikahkan dengan Ayah Alvin dan melahirkan anak untuknya." ujarnya.


"Ayah terpaksa menyetujui apa yang menjadi keinginan Ibumu, walau ibu Naira sudah meninggal sejak lama Ayah masih tetap mencintainya. Ibuku tidak pernah marah tentang itu karena kami sadar jika kami hanyalah sebagian kecil di hatinya." ujar Alika dengan isak tangis nya. "Bahkan dia lebih menyayangimu dibanding diriku," lirihnya lagi.


"Bohong, lalu kenapa Ayah dan kalian meninggalkan kami berdua hanya untuk mengikuti acara sekolah di banding menemani ibuku yang sedang sakit parah!" sentak Aily dengan isak tangis dan hati yang terasa teriris mengingat kejadian yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.


"Aku... waktu itu Ibu Naira berjanji kepadaku untuk mengikuti acara sekolah bersamanya dari tahun sebelumnya, dia tidak ingin membuat aku kecewa Aily. Ibu Naira memaksa Ayah dan Ibuku untuk tetap pergi ke acara itu karena dia tidak bisa menepati janjinya dengan kondisi yang sudah melemah." Alika berusaha menenangkan Aily yang sudah menangis dengan tersedu-sedu sambil memeluk Adik yang selama ini dia sayangi.


"Tapi kenapa! kalian datang terlambat! kenapa!"sentak Aily dengan nafas yang terengah-engah.


"Maafkan aku Aily, maafkan aku jika kami tau. Saat itu juga kami akan pulang." ujarnya merasa menyesal. "Ayah langsung memecat suster yang merawat Ibu Naira karena dia dengan sengaja tidak memberi tahu kami kondisi buruk ibumu saat itu, atas perintah Ibu Naira dia tidak ingin mengganggu acara yang sudah aku nanti-nantikan sejak lama." Kedua wanita itu saling berpelukan dengan isak tangis di kedua pipinya.


.


.


to be continued...



Jangan lupa mampir di karya teman ku yah, ceritanya tidak kalah menarik dan bagus...