My Hot Little Girl

My Hot Little Girl
Episode 66



Rion duduk di antara kerumunan ibu-ibu paruh baya yang melihatnya dengan mata berbinar, sama seperti pertama kali melihat Aily saat di bawah kedaerah pesisir pantai itu.


Tamu yang datang adalah para tetangga yang penasaran seperti apa suami Aily gadis cerewet yang akrab dengan mereka akhir-akhir ini, sementara paman Nino sedang menata hidangan yang sudah dia janjikan pada Aily.


"Aku kaget saat Nino bilang suami mu datang kemari, Aily! aku langsung memberi tahu penduduk sini dan mereka ingin ikut kemari kamu tidak marahkan?" tanya Bi sinta istri dari paman Nino.


Aily menatap tajam pada ibu-ibu yang menatap Rion dengan kagum, "ya mau bagaimana lagi. Tolong mata nya di jaga yah para ibu-ibu," sindirnya rasa kesal yang ada di dalam diri Aily sudah pasti muncul dari anaknya pikirnya.


"Kamu pelit sekali Aily, kami hanya melihatnya bukan merebutnya." sahut yang lain.


"Sudah-sudah makanlah yang banyak, jangan berantem terus." ucap Nino mererai, dia pun menyodorkan udang besar untuk Aily di depan mejanya. "Maafkan aku soal yang tadi yah, ini sebagai tanda perminta maafan paman." ujarnya setelah meletakan oiring itu dengan suara kecil agar tidak di terdengar sinta istrinya.


Aily mengangguk dia melupakan apa yang sedang terjadi di sekitarnya karena mulai terpokus pada udang besar kesukaanya itu, Aily melahap semua hidangan yang ada di atas meja dengan sangat lahap.


Rion yang sejak tadi gelisah dengan tatapan para ibu-ibu yang menatapnya kagum dan menjawab pertanyaan yang tidak jelas akhirnya beralih menatap Aily yang sejak tadi sibuk makan.


"Ai... pelan-pelan saat lah sedikit saat makan," ujarnya kmhawatir karena Aily selalu lahap jika sedang makan, namun dia mengerutkan keningnya saat melihat ini adalah piring ketiganya. "Aily kenapa kamu makan sebanyak itu, nanti perutmu sakit," ujarnya.


Semebtara itu dirinya sendiri menahan rasa mual saat melihat dan mencium bau ikan itu.


"Dia sangat susah di kasih tau, Tuan. Aku sering melarangnya tapi Aily pandai beralasan," ujar Susan karena dirinya sendiri sangat kesal.


"Alasan?" gumam Rion tanpa berniat bertanya.


Rion yang namoak terkejut terlihat tidak bisa bersuara sedikitpun, jantungnya benar-benar berdebar kencang menatap Aily.


"Maklumin saja Susan! dulu juga aku lagi hamil begitu kok, iyakan Nino?" tanya nya pada suaminya.


"Iya, dia sangat sering marah-marah saat hamil." ujarnya namun sedetik kemudia Nino dapat pukulan dari sang istri.


"Kamu jangan mengatakan yang jelaknya Nono!"ketus Sinta. Sinta meligat wajah Rion yang tamoan laku tersenyum, "sepertinya anak kalian akan mirip dengan ayahnya." ujar Sinta pada orang-orang yang ada di situ, tentu saja mereka mengangguk dan mengiyakan ucapan Sinta.


Aily yang sejak tadi merasa sesak dengan tatapan Rion yang tidak bisa di artikan dia pun segera masuk kedalan rumah, sementara Rion sejak tadi menahan kesal dengan kedua lengan yang mengepal mengikuti arah pergi Aily dan meninggalakn para orang tua yang sangat berisik itu.


"Lah, mereka mau kemana?" tanya Sinta.


"Biarkan saja, mereka baru bertemu dan masih saling rindu. jadi jangan ganggu mereka lagi," ujar Susan.


.


.


to be continued...