
Saat melihat Rion mengobrol dengan Alika lewat sambungan telpon itu, Aily langsung beranjak dari duduknya. Dia segera mengambil pakaianya dan memasukanya kedalam koper miliknya, Rion yang sedang berbicara langsung menutup sambungan telponya.
"Ai... kamu mau kemana lagi?" tanya Rion dia takut jika wanitanya akan kembali kabur seperti sebelumnya.
"Aku mau pergi," jawab Aily tanpa menatap pria itu dan sibuk mengepak barang-barangnya.
"Jangan Aily! Aku mohon kemanapun kamu pergi aku akan ikut denganmu," ujar Rion karena tidak mau kehilangan Aily lagi. Pria itu terlihat sedih karena merasa bingung dengan tingkah Aily yang sukanya kabur-kaburan seperti ini.
"Tentu saja kakak harus ikut, karena kita akan pulang ke mansion utama." jawabnya lalu menyodorkan koper ke arah pria itu.
Rion masih belum mengerti dengan ucapan wanitanya, wajahnya penuh tanya dengan pikiran yang terus berputar negatif.
"Bukan kah mereka sedang menunggu kepulanganku? kakak bilang aku harus pulang karena keluargamu merindukanku kan?" ujar Aily dengan wajah kesal. Sejujurnya dirinya tidak suka melihat Alika berdekatan dengan Rion apalagi sampai menghubunginya lewat sambungan telpon. "Apa boleh buat aku harus pulang, karena bayiku juga menginginkannya." jawabnya dengan percaya diri.
"Oh iyah, berikan ponselmu padaku!" ujar Aily kepada Rion yang masih mencerna ucapan Aiky sebelumnya, pria itu pun memberikan ponselnya tanpa banyak bertanya. "Aku harus menyita ponselmu karena berani menerima telpon dari seorang wanita! Tentu saja ini kemauan anak kita!" jawab Aily lagi lalu duduk di dekat nakas dan menuliskan sesuatu untuk bi Susan.
Rion yang baru mengerti arti ucapan Aily yang panjang lebar itu pun mengulum senyum, "sangat imut sekali. Aku suka jika dia cemburu seperti ini," gumam Rion dalam hatinya.
"Ayo," ajaknya kepada Rion lalu mereka berdua oun berjalan keluar kamar.
"Loh, kalian mau kemana?" tanya Susan pada Aily dan juga Rion yang berjalan membawa koper.
"Bibi aku mau pulang, bibi mau ikut pergi bersama ku?" tabya Aily sambil memeluk Susan.
"Huh tidak asik!" ketus Aily melepaskan pelukanya. Susan pun terkekeh, Rion hanya bisa tersenyum tanoa bisa menegur calon istrinya itu.
"Terima kasih, sudah merawat istriku selama ini." ucap Rion pada Susan, dia benar-benar berterimakasih karenanya Aily hidup tanpa kekurangan sedikitpun, entah dari segi makanan atau kebahagiaan yang di berikan oleh para penduduk disini. Bisa dilihat dari interaksi mereka saat tadi siang berkumpul di halaman rumah Susan.
"Tentu saja, jaga dia baik-baik. Sebagai seorang suami kedepanya kamu harus sabar menghadapi ibu hamil," pesan Susan pada Rion.
Rion pun mengangguk, Aily dan Rion masuk kedalam mobil dan memulai perjalanan yang cukup jauh bersama Sekertaris Lee dan para bodyguard yang lainya. Gadis itu mengirim pesan pada Susan.
Wanita paruh baya itu berjalan menuju kamar dimana gadis itu tinggal sebulan ini, Aily menyuruh Susan untuk melihat pesan yang ia simpan di atas nakas.
...'Aku menyukaimu, terimakasih sudah merawatku selama ini. Kamu perempuan yang paling baik yang telah aku temui setelah, Ibuku, mami Meria dan Eria. Aku sayang padamu bibi Susan, Aily harap bibi suatu hari nanti ingin tinggal denganku di rumahku. Aku akan menjamu mu seperti saat aku tinggal bersamamu, ambilah uang yang ada di bawah nakas untukmu. sampai bertemu lagi '...
Bi nur pun meneteskan air matanya membaca pesan yang Aily tulis, "Kamu sangat menyebalkan bagaimana dia bisa membuat kata-kata yang begitu indah seperti ini." gumam Susan.
Dia pun membuka Laci nakas itu dan mengambil amplop besar yang di simpan didalamnya, Susan kaget dengan isi uang yang ada di dalam nya karena gadis hamil itu menyimpan uang dalam jumlah besr untuknya.
.
.
to be continued...