
Rion sudah sampai di mansion utama, dia langsung menemui Aily di kamarnya. Wanitanya sedang tertidur pulas tanpa mengganti pakaianya lebih dulu, di wajahnya terlihat ada bekas air mata yang belum mengering.
Entah mengapa ucapan Eria dan Sekertaris Lee semakin membuatnya ketakut, lenganya mengusap pelan sisa air mata yang ada di pipi Aily.
"Apa mau mu Ai? kenapa kamu membuatku gelisah?" gumamnya dalam hati sambil menatap lekat wajah cantik Aily yang sedang tertidur pulas. "Aku bahkan sama sekali tidak tau kenapa kamu menangis?" tanyanya didalam hati.
Dadanya terasa nyeri melihat wanitanya sering bersedih namun dirinya sama sekali tidak pernah memahami, apalagi melihat Aily yang tidak terbuka kepadanya membuat dirinya benar-benar jauh dengan wanita itu.
Di tambah Rion sama sekali belum mengetahui isi hatinya, itu semakin membuatnya bersedih.
"Kakak sudah pulang?" tanya Aily saat terbangun dari tidur nya, Aily duduk dan menyenderkan tubuhnya. "Ada apa kak?" tanya Aily lagi karena Rion tidak menjawab dan malah menatapnya dengan tatapan sendu.
Rion menyenderkan kepalanya di pangkuan Aily dan membenamkan wajahnya di perut Aily, rasa takut kehilangan tiba-tiba muncul begitu saja. Jantung Rion seperti tersayat mengingat jika Aily mungkin saja selama ini tidak menyukai nya walau dirinya belum tau percis apa tujuan gadis itu mendekatinya.
"Kak ada apa?" tanya Aily lagi terlihat hawatir sambil meraih wajah tampan itu agar menatap wajahnya. Rion menatap sendu Aily lalu mendekatkan kedua wajah mereka sampai hidung mereka saling beradu.
"Jangan tinggalkan aku dalam keadaan apapun! kamu janji?" titah Rion dengan jarak rang sangat dekat hingga hembusan nafasnya menyapu wajah cantik Aily.
Deg...
Jantung Aily seperti tersayat, entah mengapa ucaoan Rion membuatnya sedih. Di tambah dirinya memang sudah berniat untuk meninggalakan Rion, namun Aily mengangguk menyetujui ucapnya.
Rion merasa lega, tapi hatinya masih merasa gelisah. Rion mencium bibir ranum Aily dengan sangat lembut keduanya memejamkan mata dengan Air mata yang saling menetes di kedua ujung mata Aily dan Rion.
"Aahhh..." lenguh Aily saat Rion menghisap kuat lidahnya. Lengan pria itu masuk kedalam balik baju dan mengusap setiap inci tubuh Aily, hingga membuat tubuh Aily bergetar hebat.
"Apa aku boleh melakukanya?" tanya Rion melepaskan ciuman itu dan menatap Aily dengan hasrat yang mulai memanas.
"Maksud kakak bercinta?" tanya Aily masih bingung.
"Iya bercinta," jawab Rion. Aily pun tersenyum dan terlihat antusias, wajah yang sejak tadi terlihat hawatir itu berubah menjadi sangat bersemangat. Aily sedikit mendorong Rion dan membuka pakianya sendiri karena merasa tidak sabaran sejak kemarin Rion selalu menolaknya dan sekarang dirinya akan memanfaatkan situasi dimana Rion lah yang lebih dulu mengajaknya.
Rion terdiam melihat betapa semangatnya Aily, di detik itu pun Rion ikut membuka pakaianya sendiri, namun Aily malah terdiam saat dirinya kembali melihat tubuh atletis Rion dengan wajah tampanya bak dewa yunani itu.
Seolah cahaya muncul dari wajah tampanya yang menyilaukan mata, betapa senang nya Aily melihat ada kemungkinan besar calon anaknya akan berwajah percis seperti ayahnya.
"Ada apa? apa kamu tidak meu melanjutkanya?" tanya Rion karena Aily masih diam dengan setengah pakaian yang terbuka.
"Tentu saja aku ingin melanjutkanya," jawab Aily dengan semangat lalu berhambur menerkam tubuh Rion hingga keduanya terjatuh di atas ranjang, dengan posisi Aily yang ada di atasnya.
.
.
to be continued...