
Sepanjang perjalan jantung Rion terus berdebar sangat cepat, dengan rasa kesal dan rindu bersamaan pria itu terus berusaha mengatur emosinya. Hari ini dimana dirinya sudah tidak tahan membiarkan Aily bebas di luaran sana, Rion sudah menemukan wanitanya satu minggu lalu saat dirinya jatuh sakit dia mendapat kabar jika Aily berada di sebuah pulau dengan mayoritas penduduk yang sedikit.
Rion tidak langsung menjemput Aily pada saat itu dan tidak memberi tahu semua orang jika Aily sudah ditemukan, dia sengaja membebaskan Aily untuk menikmati waktunya di sana selama satu minggu. Di tambah dirinya sedang sakit dia susah untuk pergi memantaunya dari dekat, apalagi Meria sangat posesive padanya ketika sedang sakit.
Rion berjalan ketempat dimana bodyguardnya memberi kabar lokasi Aily saat ini, pria itu menatap tajam ke arah gadis yang sedang bermain air di pinggir pantai tanpa menggunakan alas kaki.
Aily terdiam saat melihat sosok pria yang selama ini dirindukanya, sementara Rion mengerutkan dahinya melihat penampilan Aily saat ini. Gadis itu terlihat lebih cubby dan sedikit berisi, "apa sebahagia itu kamu meninggalkan ku sampai tubuhmu saja menunjukan betapa bahagianya kamu saat ini?" ujar Rion karena perubahan tubuh Aily.
Wanitanya hanya menatap aneh, "sekarang kamu bisa berbicara?" tanya Aily sambil menggapai wajah Rion yang terlihat begitu nyata di depanya. "Astaga aku bisa menyentuhnya," ujarnya sambil menatap lengan yang tadi menyentuh pipinya.
Rahang Rion yang sejak tadi mengeras menahan amarah, dan lengan yang mengepal langsung menarik kepelukanya wanita yang sudah satu bulan ini sangat ia rindukan. Kini dirinya benar-benar kalah, dia tidak bisa marah sedikitpun padanya rasa rindu ini sudah melewati batasnya.
"Ahhh... lepaskan!!" teriaknya karena merasa sesak, Aily berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan pria aneh di depanya.
Rion pun sadar jika Aily kesakitan dan mulai melepaskanya.
"Kamu gila main peluk-peluk aja!" sentaknya lalu menatap pria di depanya. Aily terkejut saat melihat wajah pria itu, pria yang selama ini ia hindari. Aily baru sadar jika tadi bukanlah bayangan yang selama ini selalu datang kedalam pikiranya, kali ini benar-benar Rion yang nyatalah yang datang ke jadapanya.
Dengan cepat Aily membalikan tubuhnya dan hendak berlari, namun Rion kembali menarik wanitanya dan jatuh kembali kedalam pelukanya. Raut wajah Rion sangat sedih melihat Aily akan melarikan diri lagi saat melihat wajahnya hatinya terluka rasa kesal pun muncul kembali.
Jika satu minggu lalu Rion sangat senang mendengar kabar Aily saat di temulan, kali ini sungguh berbeda karena wanita yang ada di dalam pelukanya semakin memberontak minta dilepaskan.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kita harus pulang dan melanjutkan pernikahan!" titahnya dengan nada tinggi dam tegas.
"Aku tidak mau menikah!" teriaknya, walau Aily sangat merindukan pria ini fikiranya masih sangat sadar jika meninggalkanya adalah jalan terbaik.
"Aku tidak peduli! kamu yang sejak awal datang kepadaku! Dan bahkan memaksaku untuk bercinta denganmu!" ketusnya mempererat pelukanya, "dengan mudahnya kamu meninggalkanku Aily!" sentaknya.
Rion memegang kedua pundak Aily dengan erat dan menatap wajah cantik wanita itu, "dan sekarang kamu harus pulang untuk bertanggung jawab menikahiku karena sudah memaksaku untuk bercinta denganmu!" ujarnya lagi sengan sangat tegas.
Rion pun mengangkat tubuh Aily dan berjalan menuju tempat dimana Sekertaris Lee dan pada Bodyguard yang selama ini menjaga Aily sedang menunggunya di dalam mobil yang tidak jauh dari tempat itu.
"Aku tidak mau huaaa," rengeknya sambil menangis.
.
.
To be continued...