
"Ah, berhenti sayang! hahah geli!" sentak Aily sambil tertawa saat Rion menggelitiki titik sensitivenya, Rion tidak lupa mencium Aily di setiap ada kesempatan. "Cukup, di luar ada orang kak! ada yang mencarimu." ujar Aily mendengar ketukan pintu yang semakin kuat.
Rion terpaksa harus menyudahi kegiatanya, dia menahan dirinya untuk tidak jadi menyentuh Aily karena kondisi Aily yang sedang hamil muda. Dia melampiaskanya dengan membuat Aily geli karena dirinya terus menyerang titik sensitive gadis itu hingga membuatnya tertawa.
"Ck! siapa sih yang mengganggu pagi-pagi begini." ujar Rion. Pria itu bukan membuka pintunya malah pergi memakai pakaianya terlebih dulu, mau tidak mau Aily berdiri dan membukakan pintu itu.
"Sekertaris Lee? ada apa?" tanya Aily karena tumben pria itu datang langsung biasanya pria itu hanya menghubungi Rion lewat sambungan telponya. "Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Aily lagi karena sepertinya pria itu sedang tidak baik-baik saja, terlihat dari lingkar mata yang hitam dan wajah yang lesu seperti kelelahan.
"Nona Aily, Maaf saya mengganggu waktu kalian berdua." ujar Sekertaris Lee sambil menatap banyak nya tanda merah di leher Aily. "Saya sudah tidak sanggup lagi jika Tuan Rion tidak kunjung bekerja! Saya ingin protes karena dia tidak mau bekerja sudah satu minggu ini," ujar Lee dengan raut wajah kesal.
"Satu minggu?" tanya Aily sambil berpikir, memang selana dirinya pulang Rion tidak pernah pergi kemanapun. Dia selalu melayani Aily dalam segi apapun termasuk menghibur dirinya saat sedang bersedih, menyuapi dirinya saat sedang makan, membacakan dongeng saat Aily akan tidur dan selalu membuatnya tertawa. Aily bahkan tidak sadar jika Rion mengorbankan waktu bekerjanya untuk dirinya.
"Iya, saya akan mengundurkan diri jika hari ini tuan tidak juga berabgkat bekerja." ancam Sekertaris Lee.
"Jangan! tunggu sebentar. Dia akan segera berangkat bekerja," ujar Aily lalu berlari ke arah walk in closet dimana Rion sedang memilih pakaianya.
"Sayang, jangan pakai baju itu, kamu harus berangkat kerja hari ini." ujar Aily sambil memilihkan setelan untuk Rion kenakan.
"Kerja? aku sedang libur panjang." jawab Rion yang aneh melihat Aily sibuk memakaikan pakaian untuknya.
"Aku ingin melihatmu bekerja, sayang." ujar Aily sambil mengancingkan kemeja yang sudah di pakai Rion. Aily tidak ingin jika Rion terus-terusan menelantarkan perusahaanya hanya untuk menemani dirinya.
"Tapi anakku suka uang, jika kakak tidak bekerja bagaimana nanti kakak memberi uang untuk anakku Kak?" tanya Aily. Rion pun tersenyum sambil mengecup bibir Aily yang selalu membuatnya ketagihan itu.
"Baiklah aku akan berangkat berkerja." ujar Rion akhirnya dengan malas dia pun harus kembali ke aktifitas biasanya, Entah mengapa dulu dirinya sangat suka bekerja namun semenjak mempunyai Aily dan bayi yang masih ada di dalam kandungan dia sangat malas untuk bekerja.
Sementara di kediaman Bernard Alika sedang mondar mandir dengan wajah gusar, dia merasa gelisah dengan apa yang dipikirkannya akhir-akhir ini.
Alika melepas jari yang sejak tadi ia gigit kukunya hingga terluka, "tidak bisa di biarkan! aku tidak mau Aily hamil. Aku harus menemuinya." ujar Alika lalu dirinya berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya tanpa dia sadari jika dirinya menubruk pelayan yang akan masyk kedalam kamarnya.
"Alika sayang?" tanya Agatha yang sedang melihatnya berjalan. "Alika?!" tanya Agatha lagi karena Alika tidak menoleh dan hanya berjalan dengan cepat keluar rumah dan mulai memasuki mobilnya.
"Mau kemana dia?" tanya Agatha bingung dia pun berjalan keluar mengikuti Alika karena penasaran ada apa dengan anaknya kali ini.
.
.
to be continued...