
Aily dan Rion berjalan menuju meja makan, mereka berdua langsung di sambut hangat oleh Meria dan Kakek van hingga membuat Albert dan Eria keheranan melihat tingkah keduanya.
"Kemari sayang, duduk di sini." ajak Meria langsung merangkul Aily dan kakek van yang menarik kursi untuk Aily. Gadis itu pun duduk dengan keadaan bingung menatap kedua orang yang sangat ramah itu, lalu Aily menatap Rion seolah meminta penjelasan dan pria itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh.
"Pelayan, mana makanan yang sudah di siapkan untuk calon mantuku." ucap Kakek van. Dia memerintahkan koki terbaik di dunia yang bersertifikat hanya khusus untuk membuat makanan untuk Aily, dia meminta menu makanan terbaik dari ahli gizi yang juga kedepanya akan mengurus menu setiap harinya khusus untuk Aily.
"Kakek, Mami kalian kenapa sibuk mengurus Aily seperti itu?" tanya Eria merasa bingung, karena dirinya saja sebagai cucu dan anak kesayangan tidak pernah sampai di perlakukan khusu seperti itu.
"Apa salahnya kami memperlakukan Menantu ku dan calon keponakanmu dengan baik, Er!" gerutu Maminya karena menurutnya Eria banyak bertanya padahal biasanya dia sangat tidak peduli tentang apa yang Meria lakukan.
"Keponakan?" tanya Eria dengan wajah kagetnya lalu menatap Rion dan Aily bergantian. Namun Aily pun tidak kalah kagetnya gadis itu baru menyadari dan merutuki dirinya sendiri saat sadar jika siang ini dia sudah mengaku tidur dengan Rion.
"Tidak tante, Kakek aku tidak punya keponakan! Maksudku aku tidak hamil dan mengandung cucu kalian." Aily berusaha mengelak bagaimana pun dia tidak mau jika disuruh menikah bersama Rion.
Aily hampir saja lupa jika mereka menyuruh Rion menikah denganya, Aily tidak menyangka jika ucapan nya yang berusaha membuat Alika sakit hati malah menjadi bumerang untuknya. Aily mengaku tidur bersama Rion hanya untuk menggagalkan apa yang akan menjadi sumber kebahagiaan kakak tirinya, dia ingin balas dendam dengan caranya sendiri dan itu berhasil.
Namun bagaimana cara gadis itu keluar dari perangkapnya sendiri, Aily menatap Rion untuk meminta bantuan pada nya namun pria itu terlihat tidak mau membantunya sama sekali.
"Kami tau Aily, kami mengerti jika kamu malu atau takut kena marah, Mami tidak akan memarahimu. Dan mulai sekarang panggi aku Mami karena kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini," Ujar Meria panjang lebar, sambil menahan senyum nya. Meria berpikir jika Aily tidak mau mengaku karena dirinya malu apalagi di depan sahabatnya sendiri.
"Er, kamu percaya aku kan? Tolong bantu aku jelaskan pada keluargamu." mohon Aily dengan wajah sendu menatap sahabatnya itu.
Eria mengangguk arti setuju jika Aily bukanlah orang yang seperti itu, "betul Mam! Aily tidak mungkin hamil dan tidur ber--" ucapanya menggantung begitu saja saat Eria mengingat sesuatu, dimana Aily meminjam uang padanya untuk membeli Lingeri dan merayu Kakaknya.
Rion menahan tawanya saat menyadari mungkin saja Eria tau semua kelakuan Aily kepadanya selama ini, "sudahlah Ai... Kamu tidak perlu mengelak lagi. Semua orang sudah tau saat kamu sendiri yang mengakui jika kita sering tidur bersama!" ucap Rion sambil tersenyum penuh arti ke arah gadis yang wajahnya mulai memucat.
Akhirnya semua orang pun terkejut karena secara tidak langsung Rion mengonfirmasi informasi tersebut adalah benar adanya, saat sebelumnya ketika Eria dan Aily pergi meninggalkan Rion dan keluarganya pria itu mati-matian mengelak ucapan Aily sebelumnya saat di kediaman Bernard.
"Bagus, jadi acara pernikahan kalian akan tetap berjalan satu bulan lagi!" ujar Kakek van dengan lantang dan wajah yang berseri memancarkan kebahagiaan karena akhirnya dirinya akan menimang cicit.
"Apa menikah? Aku masih kuliah kakek, aku tidak mau menikah muda!" protes Aily karena tujuan utamanya bukan menikah melainkan hanya bercinta.
Mau bagaimana lagi, Rion juga sudah berkata jujur jika mereka tidak melakukan apapun. Tapi dia juga tidak ingin menolak tentang pernikahan nya bersama Aily, Rion hanya tertawa dalam hati saat melihat gadis itu menolak pernikahan ini, walau sedikit merasa nyeri di dadanya.
"Kamu akan tetap kuliah setelah menikah denganku, dan aku akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku perbuat padamu Ai." ucap Rion seolah-oleh telah terjadi sesuatu di antara mereka dan membuat wajah Aily semakin pucat Rion pun tertawa.
Aily menatap mata Rion dengan wajah prustasinya, dia tidak ingin membuat Rion terluka hanya karena ulahnya dan pernikahan yang mungkin tidak akan bertahan lama itu. Dia tidak ingin terlibat lebih dalam lagi bersama Rion, karena itu hanya bisa membuat keduanya terluka apalagi perasaan yang entah apa yang sedang di rasakan Aily saat ini. Dirinya merasa senang karena pria itu adalah Rion, namun dadanya seperti tersayat mengingat akhir dari cerita ini.
.
.
To be continued...