
Semua orang tegang saat para dokter masuk kedalam ruangan inap Aily, Rion memegang lengan Aily agar membuat wanitanya kuat tapi tidak bisa di pungkiri jika dirinya sendiri sedang sangat gugup dan hawatir.
Rihana menatap Rion sekilas dengan tatapan yang tidak bisa di artikan membuat pria itu semakin gelisah dibuatnya, Rihana pun mendekati keluarga besar Estevan dan Bernart yang sejak tadi menunggu dengan tidak tenang.
"Katakan Hana, apa hasil nya." ujar Meria yang nampak tidak tenang mewakili seluruh anggota keluarganya.
"Sebaiknya Dokter yang menangani Aily sebelum nya yang akan berbicara,Tante." ujar Rihana mempersilahkan Dokter spesialis saraf itu untuk berbicara.
"Saya, adalah Dokter yang sebelumnya memeriksa kondisi Nona Aily." ujarnya. "Saya selaku Dokter di Rumah sakit ini benar-benar mengucapkan Maaf yang sebesar-besarnya karena kelalayan dalam pelayanan kami, Nona Aily sama sekali tidak menderita Tumor Otak." ujarnya sambil menundukan kepala dengan ketiga susuter yang waktu itu memeriksa kondisi Aily dan menyebabkan kesalahan dalam mengambil hasil pemeriksaan.
"Apa?" sentak seluruh orang yang ada di ruangan itu kecuali Rihana.
"Jadi aku tidak sakit tumor otak?" tanya Aily dengan tubuh yang masih tegang.
"Benar Nona, anda sangat sehat." ujar Dokter itu membuat Aily sedikit mual dan pusing pandanganya mulai kabut dan menghitam Aily terjatuh di pelukan Rion yang dengan cepat menahanya.
"Aily..." teriakan semua orang yang menghawatirkanya.
Beberapa jam kemudian Aily terbangun dengan kepala yang sedikit pusing, dia melihat di ruanganya sudah sangat sepi dan tidak ada seorang pun di sana.
"Jangan berani-beraninya mati tanpa seijinku!" sentak Rion yang sedang duduk di sofa lalu berdiri dan menyibakan tirai yang menjadi pembatas ruangan itu.
"Kakak? aku masih hidup?" tanya nya dengan bingung karena melupakan kejadian terakhir dimana dirinya mendapat kabar jika Aily sama sekali tidak menderita Tumor otak.
"Kau pikir ini lelucon? kenapa kamu mematikan nomer telpon mu dan tidak mengisi alamatmu dengan benar saat mengisi formulir saat kamu memeriksa kepalamu yang ternyata tidak ada tumor di sana!" ketus Rion dengan tatapan tajam sambil mentoyor-toyor pelan kepala wanitanya dengan kesal namun di tahan.
Aily terdiam mencerna arti dari ucapan pria nya itu, lalu dirinya mengingat kembali percakapan terakhir kali dengan dokter itu mengenai kondisinya terakhir kali.
"Ya ampun, aku benar-benar sembuh? aku sehat? aku ga sakit ka?" tanya Aily dengan wajah sumringahnya namun saat Aily akan memeluk Rion karena saking gembiranya, wanita itu menghentikan aksinya karena melihat raut wajah Rion yang menyimpan kekesalan. "Maafkan aku kak, ponselku hilang saat aku kabur dan tentang alamat aku memang tidak mengingat alamat rumah ku." ujarnya karena selama ini Aily hanya tau nama daerahnya saja dan dia hanya mencantumkan nama daerahnya.
Rion sangat ingin memberi pelajaran kepada wanitanya karena sudah membuat nya menderita dengan meinggalkan nya dan juga mendengar kabar buruk tentang penyakitnya yang membuat Rion merasa gila dan sedih bersamaan, namun mengingat dirinya sedang mengandung anaknya dia tidak bisa melakukan itu di tambah rasa senang yang melanda nya kini membuat Rion langsung memeluk wanitanya.
.
.
to be continued...