
Rion dan Aily melepas ciuman dengan posisi yang masih sama dengan kedua kaki dan tangan yang melingkar di tubuh Rion, mereka berdua belum sadar dengan situasi saat melihat seluruh anghota keluarganya ada di depan mata keduanya.
"Ekhem..." deham Albert yang sudah melotot pada Rion, dia sangat malu karena mendengar percakapan keduanya apalagi di deoan calon besan nya sekaligus sahabatnya itu.
"Ah, turunkan aku kak." Rion pun menurunkan wanitanya dan membelakangi Aily sambil memakai bajunya kembali dengan sangat santai dan sangat tenang tanpa rasa malu sedikitpun, sementara Aily dia bersembunyinkarena malu di balik tubuh Rion.
"Ahahah sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat iya kan ka?" tanya Eria kepada Alika yang juga tersenyum canggung.
"Ayo... ayo... sebaiknya kita pulang dan lanjutkan acaranya besok." ujar kakek van yang terlihat sangat senang karena kemungkinan dirinya akan mempunyai banyak cicit dari cucu nya itu.
"Ayo kak Alika, Mam kita pulang." ajaknya dengan segera mengambil tas miliknya dan membantu Alika yang sudah mengangkut barang-barang untuk pesta di sana.
Sementar Aily dan Rion hanya berdiam diri, jika Aily berdiam diri karena malu lain halnya dengan Rion yang sekarang sedang berdiri sambil melipat lenganya di dada bidang miliknya sambil menatap semua orang dan berharap segera pergi dari Apartemenya dan kembali melanjutkan hal yang terhenti barusan.
"Tunggu!" sentak Alvin dan Albert bebarengan untuk menghentikan yang lain pergi sambil menatap dengan tegas Rion yang berdiri menatap Papi dan juga calon mertuanya.
"Ada apa lagi Albert! Alvin! kita harus segera pergi dan jangan mengganggu mereka." ujar Kakek Van dan di jawab anggukan oleh Meria dan Agatha.
"Aily kamu harus ikut pulang bersama Ayah," ajaknya menarik anak perempuanya. Walau dia sangat senang sudah mempunyai calon cucu tapi hal seperti itu tidak mau terulang lagi jika anaknya belum di nikahi Ayah dari cucunya itu.
"Kamu juga Rion, kalian tidak boleh tinggal berdua sebelum pernikahan kalian di laksanakan." ujar Albert dengan sangat tegas.
"Tidak mau!" sentak keduanya yang sudah saling tidak mau terpisahkan keduanya pun saling berpelukan seolah mereka akan memisahkan mereka.
"Kalau begitu aku ingin menikah besok Mami," ujar Rion menatap Maminya dan meminta pertolongan.
"Baiklah, dua hari lagi. Ya dua hari lagi Mami siap menyiapkan semua persiapan pernikahan kalian, tapi malam ini kalian ikuti apa kata Papi dan Ayah kalian yah." bujuk Meria pada kedua anak itu.
Meria menatap Agatha dan memberi kode untuk memisahkan keduanya, "Agatha seperti nya kita harus lembur untuk menyiapkan acara pernikahan." ucap Meria sambil menati Rion perlahan dan juga Agarmtha yang sudah merangkul Aily menjauh.
"Baiklah sebaiknya kita pulang dan beristirahat, besok kita akan sangat sibuk. Jadi ayo kita pulang Aily sayang," ajak Agatha sambil mengelus putri bungsunya itu dengan senyum manis di wajahnya membuat Aily terhanyut dengan rasa hangat yang di berikan Agatha dan berjalan mengikuti Ibu tirinya itu.
Rion yang sejak tadi sadar jika mereka sedang berusaha memisahkannya tidak bisa menarik Aily karena wanita nya terlihat sangat senang saat diperlakukan seperti itu oleh ibu tirinya, "baiklah. Terpon aku jika sudah sampai sayang," ujar Rion sambil menarik Aily masuk kedalam pelukanya dan mencium keningnya.
Aily hanya diam mengikuti setiap tarikan yang meraka lakukan oadanya tanoa memberontak sedikitpun, karena rasanya dia sudah mendapatkan kasih sayang yang selama ini dia dambakan dari semua orang.
"Ayo Aily, kita pulang." ajak Alika yang sudah menggandeng dirinya. Rion hanya menatap kepergian Aily yang sama sekali tidak menatapnya kebelakang, sangat sakit namun sebentar lagi Aily tidak akan bisa dengan mudah nya di bawa pergi lagi oleh mereka pikirnya.
Rion dan keluarganya pun pergi setelah berpamitan dan mengantar keluarga Bernard sampai depan Lobby.
.
.
to be continued...