My Future Is You?

My Future Is You?
09. kasih tahu apa gue cium?



Seorang lelaki berjambul cetar membahana berjalan dengan wajah tegas melewati parkiran. Tatapan tajam dan menusuknya malah membuat dirinya semakin digilai para wanita.


“WOY! ITU TOPI GUE, SIALAN! BWAHAHAHAHA.”


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba segerombolan lelaki sudah berada di hadapan Vanno dengan senyum menyebalkan.


“Serem ketawa lo, ” ucap Vanno.


“Lo kira gue kuntilanak? ” William menggeram tidak terima.


“Lo bukan kuntilanak Will, tapi lo orang-orangan sawah, ” tawa Cello pecah seketika saat mendengar ucapannya sendiri.


“Van, ke kafe deket sekolah yuk? ” ajak Deo.


“Sekarang? ”


“Iya lah. ”


“Gue ambil mobil dulu, lo duluan aja, ” kata Vanno.


“Seriusan lo mau ikut, Van? Asyik, Vanno mau ikut! Suatu keajaiban, 𝙱𝚛𝚘! ” teriak William 𝚊𝚕𝚊𝚢 seperti banci mangkal.


“Malu gue punya temen kayak dia, ” Deo dan Cello langsung menarik topi yang mereka pakai hingga menutupi wajah, sedangkan William hanya menahan tawanya.


“Jahat! ”


Deo, William, dan Cello berangkat lebih dulu ke kafe dekat sekolah dengan menggunakan motor. Tapi, Vanno membawa mobil sendiri. Saat mobil Fortuner hitamnya keluar dari gerbang, mata Vanno tidak sengaja melihat seorang gadis tengah duduk dengan gelisah.


Vanno yang melihat nya langsung meminggirkan mobilnya dan dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.


𝙍𝙊𝙊𝙈 𝘾𝙃𝘼𝙏.


𝙑𝙖𝙣𝙣𝙤𝘾𝙧𝙝𝙨𝙩𝙣 : 𝙶𝚞𝚎 𝚐𝚊𝚔 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚒𝚔𝚞𝚝.


𝘿𝙚𝙤𝘼𝙜 : 𝙻𝚊𝚑? 𝙺𝚎𝚗𝚊𝚙𝚊 𝚕𝚘 𝚐𝚊𝚔 𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚒𝚔𝚞𝚝?


𝘾𝙚𝙡𝙡𝙤𝙘𝙤𝙜𝙖𝙣 : 2


𝙎𝙞𝙒𝙞𝙡𝙡. : 3


𝙑𝙖𝙣𝙣𝙤𝘾𝙧𝙝𝙨𝙩𝙣 : 𝚊𝚍𝚊 𝚑𝚊𝚕 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚐𝚊𝚔 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚐𝚞𝚎 𝚓𝚎𝚕𝚊𝚜𝚒𝚗 𝚍𝚒 𝚜𝚒𝚗𝚒.


𝙎𝙞𝙒𝙞𝙡𝙡. : 𝙹𝚊𝚑𝚊𝚝 𝚔𝚊𝚖𝚞, 𝚖𝚊𝚜. 𝙿𝚊𝚍𝚊𝚑𝚊𝚕 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚔𝚎𝚑𝚊𝚍𝚒𝚛𝚊𝚗𝚖𝚞.


𝘿𝙚𝙤𝘼𝙜 : 𝙽𝚊𝚓𝚒𝚜 𝚊𝚕𝚊𝚢.


𝘿𝙚𝙤𝘼𝙜 : 𝙹𝚒𝚓𝚒𝚔 𝚐𝚞𝚎 𝚆𝚒𝚕𝚕!


𝙎𝙞𝙒𝙞𝙡𝙡. : 𝙱𝚘𝚍𝚘 𝚊𝚖𝚊𝚝! 𝚈𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚎𝚗𝚝𝚒𝚗𝚐 𝚐𝚞𝚎 𝚑𝚊𝚙𝚙𝚢.


𝘾𝙚𝙡𝙡𝙤𝙘𝙤𝙜𝙖𝙣 : 𝙰𝚜𝚝𝚊𝚐𝚊.


𝘿𝙚𝙤𝘼𝙜 : 𝚙𝚎𝚛𝚕𝚞 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚛𝚞𝚔𝚢𝚊𝚑.


Vanno mengunci ponselnya, kemudian dia meletakkan nya di dasbor mobil. Setelah itu, dia turun dari mobilnya.


Dia menghampiri gadis itu dengan kerennya.


“Belum pulang? ” tanya Vanno ketika sudah berada di hadapan Vanya.


Vanya menatap cowok itu kaget sekaligus terpesona.


𝙸𝚗𝚒 𝚔𝚊𝚔𝚊𝚔 𝚔𝚎𝚕𝚊𝚜 𝚐𝚞𝚎? ” batin Vanya.


“Terpesona, heh? ” tanya Vanno dengan senyum miringnya.


Vanya yang tersadar langsung menatap Vanno garang.


“Ngapain lo di sini, kak? ”


“Terserah gue dong, mau ngapain aja, ” Jawab Vanno enteng.


Cowok berbadan atletis itu kini duduk di samping Vanya sambil memainkan ponsel nya. Sumpah Demi apa pun, jantung Vanya kini berdetak lebih cepat.


Vanya langsung menggelengkan kepalanya agar dia tidak memikirkan laki-laki di sampingnya itu.


“Lo kenapa geleng- geleng kepala? ” tanya Vanno.


“Enggak ada apa-apa, ” jawab Vanya.


“Jangan bohong, ” ucap Vanno.


“Ish, sok kenal banget deh lo, ” Vanya sewot.


Ponsel Vanya yang berbunyi mengalihkan tatapan tak bersahabat kepada Vanno.


𝙺𝚊𝚔 𝙽𝚊𝚝𝚊, batin Vanya. Dengan segera, dia mengangkat panggilan itu.


“Kenapa, kak? ” tanya Vanya.


𝙶𝚞𝚎 𝚐𝚊𝚔 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚓𝚎𝚖𝚙𝚞𝚝, 𝚐𝚞𝚎 𝚍𝚒 𝚛𝚞𝚖𝚊𝚑, 𝚑𝚎𝚑𝚎, ” tutur Nata lembut.


“Ish, kenapa nggak bilang dari tadi sih? ” Vanya berucap dengan nada marah.


𝚂𝚘𝚛𝚛𝚢.”


“Ya udah, gue tutup, kak, ” Vanya mematikan ponselnya kesal.


“Kenapa muka lo? ” tanya Vanno.


“Nggak apa apa, ” balas Vanya.


Kini gadis itu bangkit dari tempat duduk nya dan mulai melangkah meninggalkan Vanno.


“Mau kemana? ” Vanno menahan tangan Vanya.


“Pulang, ” jawab Vanya.


Mereka tidak sadar bahwa tangan Vanno masih menarik tangan Vanya.


“Sorry, ” Vanno yang lebih dulu tersadar langsung melepaskan cekalannya.


“Hmm.”


“Lo nggak dijemput? ” tanya Vanno.


“Enggak, ” balas Vanya.


“Gue anterin dan gue nggak menerima penolakan, ” ucap Vanno.