My Future Is You?

My Future Is You?
54. [ S2 ] wedding VR, Malam yang tidak pernah terlupakan



~jangan biarkan aku berjalan sendiri tuntunlah aku, agar aku selalu dijalanNYA, jadilah imamku didunia dan akhirat~


.


.


.


"saya terima nikahnya Vanya Callista binti Davi Vlarentino, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Terdengar suara Dion dengan tenang dan jelas saat mengucap ijab kabul sembari menjabat tangan Davi selaku wali Vanya.


Para saksi yang hadir mengeSAHkan pernikahan mereka, senyum bahagia terukir dari bibir kedua mempelai dan juga para tamu undangan.


Meskipun sempat tertunda karena kondisi widia yang sempat kritis beberapa waktu lalu, tapi hari ini pernikahan mereka berjalan dengan lancar. Mereka melakukan ijab kabul disebuah KUA dibandung, suasana haru dan bahagia begitu terasa didalam sana. Hari bahagia yang sudah ditunggu oleh keluarga akhirnya datang juga.


Vanya terlihat sangat cantik dengan memakai kebaya putih dan riasan wajah yang tipis, Dion juga terlihat gagah dengan warna baju senada dengan Vanya, senyum tidak pernah lepas dari bibir keduanya meskipun masih terlihat malu-malu tapi binar bahagia nampak jelas dari sorot mata mereka.


Setelah prosesi ijab kabul selesai mereka lalu menuju kesebuah hotel untuk melakukan resepsi dimalam harinya.


Sesuai dengan hobby widia yang begitu suka dengan bunga, resepsi pernikahan Vanya dan Dion seolah bak taman bunga, disetiap corner terdapat beberapa buket bunga mawar putih yang masih segar dengan wangi alami yang menyeruak diseisi ruangan, didepan pelamin juga terdapat bunga mawar merah yang sudah dirangkai cantik, serta bunga lily  yang menyambut kedatangan para tamu undangan berjajar rapi di depan pintu masuk dan kilauan lampu cristal menambahkan kesan glamour pada pesta itu. Tidak cuma bunga disalah satu corner, terdapat sebuah castle  princess dan snow white terdapat banyak kupu-kupu berwarna warni yang beterbangan dan tentu saja menjadi daya tarik bagi anak-anak kecil dan juga yang dewasa.


Banyak rekan kerja, sahabat dan keluarga yang datang dalam pesta itu, bahkan Nata dan keluarga Rasti juga hadir dipernikahan itu.


Reinard, Andra dan Hanna yang sebelumnya mengira tidak diundang juga sudah ada ditengah-tengah kebahagiaan sahabatnya itu.


pesta pun dimulai, Vanya dan Dion memasuki ballroom hotel yang sudah ramai oleh tamu undangan, mereka berjalan berjalan menuju keatas pelamin, suara tepuk tangan mengiringi langkah mereka.


Senyum bahagia dari kedua orang tua Vanya dan Dion yang sudah berada diatas pelamin seolah  menyambut kedatangan mereka.


Setelah mempelai sampai dipelamin banyak dari tamu yang datang naik keatas pelamin untuk bersalaman dan mengucapkan selamat secara bergantian.


Setelah hampir semua tamu bersalaman dengan mereka sekarang giliran Reinard and the genk, mereka sudah berada didepan Vanya dan Dion, Hanna memperhatikan Vanya sejenak sebelum akhirnya memeluk Vanya dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat ya, Van, semoga cepet nyusul aku!" Ucap Hanna setengah berbisik


"Hah, kamu udah isi! Waahh selamat ya!" Balas Vanya sambil mengelus perut Hanna yang belum membuncit itu.


"Selamat ya, Dion, jagain Vanya baik-baik ya!" Pesan Hanna kepada Dion.


Setelah Hanna selesai dan diikuti oleh Andra kini giliran Reinard. Dia berusaha menyembunyikan perasaan nya itu dan menganggap semua biasa saja. Namun saat Reinard berada bersalaman didepan Vanya, Vanya memeluk Reinard secara tiba-tiba membuat tubuh Reinard kaku.


"Makasih ya, Rei, kamu udah jadi sahabat terbaik aku, makasih udah jagain aku selama ini, semoga giliran kamu tidak lama lagi ya!" Ucap Vanya.


Reinard melirik kearah Dion yang berdiri disamping Vanya, dia lalu menepuk pundak Dion.


Lo jagain sahabat gue yang cengeng ini ya, jangan bikin dia nangis, dan gue percaya lo bisa bikin dia bahagia!" Ucap Reinard dengan suara yang terdengar berat itu.


Dion yang mendengar ucapan Reinard lalu merangkul badan Reinard sesaat.


"Gue janji bro, gue bakal jagain dan bahagiain sahabat lo!" Balas Dion dengan suara tenang.


Setelah selesai bersalaman dan foto bersama sahabatnya itu kemudian mereka bertiga  kembali kemeja tamu. Andra yang masih tau persis tentang perasaan Reinard  kepada Vanya tidak berhenti untuk menggoda Reinard, sampai-sampai wajah Reinard nampak begitu kesal dengan tingkah sahabat nya.


Reinard yang dari tadi tengah asik memainkan sendok yang ada didepannya kaget saat ada sepasang tangan yang tiba-tiba menutup kedua matanya.


"Siapa sih ini, nggak usah iseng deh," ucap Reinard sambil meraba-raba tangan tersebut.


Rasti kemudian melepaskan tangan nya. "Sorry kaget ya?" Ucap Rasti sambil meringis.


"Hai kak Hanna," ucap Rasti sambil mencium pipi Hanna bergantian.


"Aku kira kalian nggak dateng beneran?" Tanya Vanya sambil menarik kursi disebelah Reinard.


"Mana mungkin masa sahabat sendiri nikahan nggak dateng, iya nggak bro," sahut Andra kepada Reinard.


"Yoiii broo."


Mereka ber empat asik dengan candaan yang tetap menjurus kepada Reinard apalagi ditambah ada Rasti, Andra semakin menjadi, bikin sahabat nya kesel.


"Rei, lo mau ikutan dansa gak? Tuh pengantin nya udah mulai dansa," Tanya Andra.


"Nggak ah, lo aja sana, gue nggak bisa dansa," sahut Reinard, namun Rasti ya ada disamping langsung menyeletuk.


"Udah sih ayok, ikut aja nanti aku ajarin dansa deh," ucap Rasti sambil menarik tangan Reinard supaya berdiri.


Mereka berempat lalu berjalan mendekat ke segerombolan beberapa pasangan yang ikutan berdansa, bola mata Reinard berhenti saat melihat Vanya dan Dion tengah berdansa, Vanya yang tadi memakai dress berwana maroon kini dia mengenakan dress berwarna broken white dengan ekor yang panjang, dia mengurai rambut panjangnya dengan sedikit kesan curly dan mahkota kecil terselip diatas kepalanya membuat Vanya terlihat semakin fresh dan cantik. Mata Dion tidak pernah lepas memandang wajah Vanya, begitu juga sebaliknya.


"Kalo kamu malu, tangan kamu taruh aja disini!" Ucap Rasti sambil meletakan tangan Reinard kepinggangnya.


Rasti lalu melingkarkan kedua tangannya keleher Reinard, saat Rwinard tertunduk mata mereka beradu pandangan, sunyi sejenak saat Rasti mencoba menelusuri titik kesedihan yang tersirat dari sorot mata Reinard, namun lagi-lagi Andra yang super jahil mengagetkan keduanya yang masih bertatapan itu.


"Woii! Dansa bukan cuma tatap-tatapan doang!" Celetuk Andra dari belakang lalu pergi begitu saja bersama Hanna.


~


Setelah acara selesai kini tinggal sesi terakhir yaitu lempar bunga, yang konon katanya, siapa yang beruntung dapat menangkap bunga itu akan segera menemukan jodohnya.


Vanya dan Dion bersiap-siap saat MC menghitung mundur.


"Are you ready guys!" Teriak sang MC kepada para tamu yang sudah berdiri didepan pelamin.


"Kita hitung mundur ya,...3... 2....1....!" Vanya dan Dion langsung melempar kan bunga itu kekerumunan tamu-tamunya.


Nampak seorang cowo menangkap bunga itu dengan cepat.


"Siapa yang dapet bunga nya? Coba sini maju kedepan! Ucap mc nya.


Dan Laki-Laki itu ternyata Reinard, dia lalu berjalan kearah mc, lalu mengangkat setangkai bunga mawar putih.


"Mana pacarnya kok nggak diajak?" Tanya sang MC membuat Reinard tersenyum kuda. Tapi lagi-lagi sahabatnya yang super nyebelin itu meneriakan nama Rasti dengan begitu keras, sampai pada akhirnya sang mc pun memanggil Rasti untuk berdiri bersama Reinard.


"Kamu bener pacarnya dia?" Tanya mc kepada Rasti, dia kelihatan bingung saat pertanyaan itu meluncur dari mulut mc, karena selama ini belum ada kata pacaran diantara mereka.


"Sebenernya belum ada status pastinya sih, berhubung kayak gini, aku tembak dia langsung aja kali ya?" Ucap Reinard sekaligus mengejutkan Rasti.


Sementara para tamu yang menyaksikan ikut bersorak untuk menembaknya.


Vanya dan Dion yang berada tidak jauh dari mereka hanya mengeryitkan keningnya.


_Bagaimana bisa mereka saling jatuh cinta, apa selama ini mereka diam-diam menyimpan rasa._ Gumam Vanya dalam hati.


"Kalau aku bilang, will you marry me, aku nggak bawa cincin jadi aku ganti dengan sebuket bunga ini, maukah kamu menjadi pemilik hatiku?" Ucap Reinard sambil menyodorkan bunga yang ada ditangan nya.


Dengan ragu Rasti  mengambil bunga itu, lalu menganggukan kepalanya pertanda menerima Reinard.


...----------------...


~


Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang, Vanya dan Dion serta juga keluarga nya bermalam dihotel tempat mereka mengadakan resepsi pernikahannya. Karena sudah terlalu lelah, para orang tua langsung memasuki kamar hotel masing-masing.


Vanya dan Dion kini berada dalam satu kamar, setelah pintu tertutup rapat Dion lalu membuka jas yang dari tadi menempel dibadanya. Sementara Vanya dia masih berdiri didepan cermin sambil menghapus make up diwajahnya, dan melepas accessories yang tersemat dikepalanya. Mata Dion terus memperhatikan Vanya tanpa suara dari ujung sofa. Dia lalu berdiri membuka dasi yang masih rapi dilehernya dan menyingkapkan sedikit lengan kemejanya kemudian berjalan mendekati Vanya.


Dion lalu memeluk tubuh Vanya dari belakang, lalu dia menghirup aroma parfum yang masih melekat ditubuh Vanya.


"Aku bahagia bisa memiliki kamu sebagai istriku!" Bisik Dion tepat ditelinga Vanya, jarak yang cuma beberapa senti membuat Vanya merasakan hangatnya nafas Dion sampai bikin Vanya merinding.


Vanya kemudian membalikan posisi badanya jadi berhadapan dengan Dion.


"Aku lebih bahagia, karena kamu sudah menyempurnakan hidup aku!" Ucap Vanya sambil membelai rambut Dion.


Dion lalu mengecup kening Vanya dengan begitu dalam, lalu Vanya merapatkan tubuhnya untuk memeluk laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya dengan erat.


"Tegur aku bila aku salah, Van, agar aku bisa menjadi imam mu yang sempurna," bisik Dion.


"Kamu juga, jangan biarkan aku berjalan sendiri, tuntun aku supaya aku bisa jadi makmum mu yang bisa mempersatukan kita disyurga NYA kelak!" Jawab Vanya dengan menatap mata Dion lalu menjinjitkan kakinya sedikit untuk mencium suaminya itu.


Dion tersenyum samar saat melihat Vanya, dan sampai akhirnya dia menunduk sedikit, Dion lalu memegang dagu Vanya, ditatapnya mata Vanya sampai tersenyum kecil , sebelum Dion mengecup bibir mungilnya itu, Vanya lalu menutup matanya dia ikut menikmati dengan permainan Dion. Bibir Dion tidak berhenti melumati bibir lembut Vanya, lidah mereka bertautan, saat mereka sudah berada dipuncaknya Dion lalu membawa tubuh Vanya sambil berjalan tanpa melepas ciumanya  keatas tempat tidur.


~


Dan sejak malam itu kehidupan mereka telah berubah, Vanya bukan lah lagi anak kecil yang masih manja tapi kini dia sudah menyandang status istri dari Dion. Begitu juga dengan Dion yang sudah tidak lagi terus fokus dengan kerjaan nya karena sudah ada Vanya yang menjadi tangung jawabnya.


...****************...



**Serius tanya nich, ini kan udah happy ending, terus mau ditamatin aja apa dilanjut ? Dengan konflik rumah tangga mereka dengan hadirnya masa lalu dari Dion dan juga Vanya? Jawab dikomen ya**!



**Jangan lupa vote juga terimakasih dan maaf kalo chapter ini agak nggak jelas**.