My Future Is You?

My Future Is You?
16. Sweet.



Vanno berjalan ke arah kafe yang menjual Frappuccino, lelaki itu menatap sekeliling kafe dengan tajam. Dia hanya ke tempat itu sendiri, tidak bersama Deo, William, dan Cello karena ketiga sahabat nya itu sedang malas- malasan keluar rumah. Takut kalau bensin nya akan habis. Entah antara itu anak memang hemat atau pelit, yang jelas itu tidak ada bedanya sama sekali.


“Eh, astaga... Astaga..., ada cogan! ” pekik salah satu pengunjung kafe dengan histeris.


Vanno hanya memutar kedua bola matanya malas saat mendengar pekikan histeris itu. Dia berjalan ke arah salah satu kursi yang kosong. Kemudian Vanno pun duduk di kursi itu.


Tiba-tiba tatapan mata Vanno jatuh pada seorang gadis yang tengah celingak - celinguk mencari tempat duduk. Tapi saat gadis itu melangkah ke samping kanan, Vanno langsung bangkit dari duduknya dan malah menarik gadis itu untuk ikut dengannya.


“Eh, apa - apaan nih? ” Vanya terpekik kaget. Karena tiba-tiba ada yang menariknya sesaat setelah dia memesan minuman tadi.


“Udah diem aja! ” Vanno menarik pelan tangan Vanya. Gadis itu hanya bisa pasrah.


Tatapan memuja dari para perempuan yang ada di sana berubah menjadi patah hati karena cowok ganteng mereka telah bersama pacar nya.


“Duduk, ” perintah Vanno.


Gadis itu langsung duduk di depan Vanno dengan kening berkerut. Saat Vanya ingin bertanya, Vanno dengan cepat menyela.


“Sama siapa ke sini? ” tanya Vanno.


“Sendiri lah. ”


“Ngapain kesini? ” tanya Vanno. Sebenarnya dia gugup.


“Beli semen sama batako! ” ketus Vanya.


“Idih, ” cibir Vanno dengan nada terkekeh.


Vanya memutar kedua bola matanya malas.


“Habis lo aneh sih kak, pake nanya lagi. Udah tahu ini kafe! ” jawab Vanya kesal.


Vanno tertawa untuk yang pertama kalinya di depan Vanya. Gadis yang melihat tawa Vanno itu jadi tidak bisa fokus.


𝙶𝚊𝚗𝚝𝚎𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚗𝚐𝚎𝚝𝚝𝚝! Batin Vanya.


“Menikmati ketampanan gue? ” tanya Vanno dengan nada menggoda.


“Eh, enggak kok, ” Vanya langsung gelagapan.


“Kalau iya juga nggak apa apa. Lo kan cewek gue, ” jawab Vanno.


Kedua pipi Vanya tiba-tiba memanas saat mendengar ucapan cowok di depannya itu. Vanno yang melihat Vanya merona malah menjadi bersemangat untuk menggoda nya.


“Cieee, 𝚋𝚕𝚞𝚜𝚑𝚒𝚗𝚐, ” goda Vanno sambil mencolek pipi Vanya.


“Ih, apaan sih? ” Vanya memukul tangan Vanno keras.


“Hahahaha, lucu deh pacar gue, ya ampun, ” Vanno kemudian mencubit pipi Vanya yang sedikit tembam.


“Kak, lo udah bosen hidup ya? ” semprot Vanya yang melotot tajam.


“Jangan melotot gitu, nanti kalau mata lo copot siapa yang mau lihat gue? ”


𝙰𝚍𝚞𝚑𝚑, 𝚊𝚍𝚎𝚔 𝚗𝚐𝚐𝚊𝚔 𝚔𝚞𝚊𝚝! Batin Vanya histeris.


“Bodo, yang penting gue suka sama lo. ”


“Gombal! ”


“Gue nggak gombal, gue serius. Lo mau minta dilamar besok juga pasti gue iyain, ” celetuk Vanno.


𝚂𝚎𝚓𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚐𝚞𝚎 𝚙𝚞𝚗𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚛𝚊 𝚐𝚘𝚖𝚋𝚊𝚕 𝚛𝚎𝚌𝚎𝚑 𝚔𝚎𝚔 𝚐𝚒𝚗𝚒? Pikir Vanno bingung.


“Pesanan atas nama Vanya Callista, ” panggilan itu membuat Vanya mendesah laga, tapi Vanno malah kelabakan sendiri.


“Ini pesenannya, kak, ” ucap pelayan itu. Vanya kemudian membayarnya, tapi dengan cepat Vanno mencegahnya.


“Kak, saya juga pesen ya, samaan kayak punya dia, ” ucap Vanno.


“Ini Kak, uangnya, ” Vanno tidak menanggapi ucapan Vanya dan malah asyik dengan Kakak- kakak di depannya.


“Ditunggu ya, Mas,” ucapnya.


“Iya, ” balas Vanno.


Vanno menatap Vanya menyeringai. “Yuk, duduk lagi, ” ajak Vanno.


“Dih, ogah! Gue mau pulang! ” saat Vanya hendak melangkah, Vanno langsung memeluk pinggang Vanya dengan satu tangannya. Hah itu membuat Vanya menatap Vanno kaget.


“Oh my god, mereka sweet banget! ”


“Gila cowoknya udah ganteng, sweet lagi. Mau lah gue jadi selingkuhan nya! ”


“Aduh, parah ini. Dia sekolah dimana sih? ”


“ Ceweknya modus mulu! ”


Kira kira begitulah cibiran yang di dengar oleh Vanya.


“Kak, apa- apaan sih? Lepas nggak! ” bentak Vanya.


“Enggak! Gue mau berduaan sama lo! Emang salah? ” tanya Vanno dengan tajam.


“Eh? ”


“Lo pacar gue, Vanya Callista! Jadi nggak ada yang marah kalau lo jalan sama gue!” ucap Vanno.


“Ini Frappuccino pesenan, kak. ” ucap Vanya.


“Gue anterin lo pulang. Yang penting lo nemenin gue disini. Masa gue jarang berduaan sama pacar, sih? ” tanya Vanno.


“Iya iya, ” jawab Vanya malas.


“Makasih, ” Vanno tersenyum tulus.


Mereka pun kembali duduk dan berbincang- bincang di tempat itu.