
Sementara di rumahnya, Nata yang belum juga melihat kedatangan adiknya langsung cemas seketika.
โMasa nyasar, sih? Orang kafenya aja di depan komplek, โ pikir Nata.
Kemudian laki-laki itu menelepon adiknya, dia menunggu panggilan nya itu sambil di angkat.
Di tempat lain, Vanno yang melihat ponsel milik kekasih nya berbunyi langsung melihat siapa yang menelepon.
๐บ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐.
๐๐๐๐๐ ๐๐๐? ๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐ - ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐? Tanya Vanno dalam hati.
โ๐๐ข๐ญ๐ญ๐ฐ, ๐๐ฆ๐ฌ, ๐ญ๐ฐ ๐ฅ๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข? โ tanya Nata dengan nada khawatir.
โ๐๐ฏ๐ช ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข?โ tanya balik orang itu.
โ๐๐ถ๐ฆ ๐ฌ๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข! ๐๐ฐ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ ๐จ๐ถ๐ฆ? โ tanya Nata tidak bisa tenang.
โ๐๐ถ๐ฆ ๐ค๐ฐ๐ธ๐ฐ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช, โ jawab Vanno enteng.
โ๐๐ข๐ช๐ต, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ? โ
โ๐๐ถ๐ฆ ๐๐ข๐ฏ๐ฏ๐ฐ. โ
โ๐๐ฐ๐บ! ๐๐ถ๐ฆ ๐๐ข๐ต๐ข, ๐จ๐ช๐ญ๐ข! โ
โ๐๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ ๐ฅ๐ถ๐จ๐ข๐ข๐ฏ ๐จ๐ถ๐ฆ. โ
โ๐๐ข? โ
โ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข. ๐ ๐ข ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐จ๐ถ๐ฆ ๐ต๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ซ๐ข, ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐จ๐ถ๐ฆ. โ
โ๐๐ฌ๐ฆ. ๐๐ถ๐ฆ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ญ๐ฐ. โ
Panggilan telepon pun terputus dan Vanno langsung meletakkan ponsel kekasih nya itu di atas meja.
Sedangkan Nata bernafas lega sekaligus senang. Karena adiknya itu ternyata memang berpacaran dengan temannya.
๐ถ๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐ฟ๐น ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐. Pikir Nata.
๐ถ๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐. ๐ป๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐. Pikir Nata dramatis.
โ โ โ โ
Deo yang kaget mendengar hal itu langsung menyemburkan air di dalam mulutnya tepat di muka Cello.
Cello yang tampak belum tersadar dari kagetnya malah mengerjap-ngerjap matanya seperti orang bodoh.
โVan, rumah lo bocor ya? โ Cello mengusap wajahnya dengan kasar sambil mendongakkan kepalanya ke atap kamar laki-laki itu. Sebenarnya Cello bingung, hujannya saja tidak terlalu deras masa atap kamar Vanno bisa bocor? Sebenarnya itu air dari mana? Cello masih saja terus memikirkan nya.
โHeh, dugong! Gue kira atap kamarnya Vanno bocor! Ternyata mulut lo ya! โ Cello langsung menubruk Deo dan menghadiahi nya jitakan - jitakan di kepala lelaki itu .
โPerang Dunia ke- 202 ini! โ pekik William.
Vanno menatap jengah dua laki-laki itu. Tiba-tiba sebuah bantal milik Vanno terlempar jauh hingga mengenai wajahnya, alhasil lelaki itu langsung berjalan keluar kamar untuk mengambil raket listrik rumahnya.
โBi, pinjem raket listrik nya ya? Maklum di kamar Vanno banyak nyamuk nakalnya, โ ucap Vanno pada asisten rumah tangganya.
โIya Den, bawa aja. Semoga itu nyamuknya mati aja! โ gereget Bi Inah.
Vanno terkekeh. โJangan dong, Bi. Ya udah, Vanno mau basmi mereka dulu. โ Lelaki itu kemudian pergi dari kamar Bi Inah.
โ โ โ โ โ
โHeh! Pergi lo, sialan! โ omel Cello yang masih asyik memukul bokong Deo.
William yang melihat nya hanya menggeleng gelengkan kepala. Ingin rasanya dia mengguyur kedua laki-laki itu dengan air seember. Tapi dia masih tahu diri kalau ini adalah rumah Vanno dan bukan rumahnya.
Jadi, dia harus menahan diri kalau ingin mengerjai Cello dan Deo.
Tiba-tiba Vanno datang dengan membawa raket listrik dan mengarahkan ke bokong Deo dan Cello. William yang melihat nya tertawa keras sampai memegangi perutnya sendiri.
โAstagaaa! Sadis banget lo, Van! โ pekik William menggelengkan kepalanya. Kemudian dengan sadis nya Vanno menempelkan raket listrik itu di bokong Cello dan Deo, sebelumnya Vanno telah menekan tombol on pada benda itu.
๐บ๐๐๐๐๐! ๐บ๐๐๐๐๐!
Suara alat itu menyatu dengan bokong Cello. William yang melihat nya malah tertawa semakin keras. Deo yang merasakan ada bahaya segera pergi dari atas kasur Vanno.
โMampus! โ pekik Deo.
โYa Tuhan! โ William menggelengkan kepalanya.
โAHHH, BOKONG GUE! โ teriak Cello dengan wajah kaget campur kesakitan.
โ โ โ โ โ