
Vanya kemudian membereskan bungkusan plastiknya lalu mendekati Dion.
Aku bantuin yah? Biar cepet!" Ucap Vanya menawarkan bantuan.
"Emang kamu bisa diriin tenda? Kamu beresin aja dulu barang-barang kamu, ini udah mau selesai kok."
"Beneran nih nggak mau dibantuin?"
"Iyaa, beneran." ucap Dion.
Vanya pun menuruti perintah Dion, dia mengemas semua barang yang dion bawa, ada potato chips, beberapa botol minuman dan juga beberapa bungkus roti.
Tenda sudah berhasil Dion dirikan, Vanya juga sudah selesai menata barang bawaan nya, siang yang panas kini telah pergi bergantian dengan datang nya senja, langit yang tadinya begitu cerah berubah menjadi warna orange ke merahan, keduanya menatap keatas langit menikmati keindahan sunset dipantai anyer.
"Kamu udah berapa kali menikmati sunset kayak gini?" celetuk Dion menyadarkan Vanya dari lamunannya.
"Sekali." Jawab Vanya singkat.
"Hah, jadi ini kali pertama kamu lihat sunset, dulu nggak pernah?"
Vanya menggelengkan kepalanya.
"Gimana bisa coba, dulu aja kalo jam 5 belum pulang tuh, papa udah ribut, telponin terus."
"So are you happy now?" Desis Dion lirih.
"Yes I'm happy." Ucap Vanya tersenyum lebar lalu menarik tangan Dion menuju kepinggir pantai.
Dion mengikuti Vanya dengan sedikit berlari.
"Kita main air sebentar yah! Sebelum matahari bener-bener tenggelam." Ucap Vanya sambil memainkan kakinya didalam air.
"Van, kamu tahu rasa air laut tu apa?"
"Hemm dimana-mana juga asin."
"Disini beda Van, kamu percaya nggak?"
Lagi-lagi Vanya hanya menggelangkan kepalanya.
Dion lalu membungkukan badan nya dia mengambil sedikit air laut dengan tangan nya lalu menyimbahkan kebadan Vanya, Vanya yang kaget mencoba lari supaya tidak kena air itu, tapi Dion justru malah terus mengejarnya. Vanya yang tidak terima dia membalas menyiram badan Dion juga sampai basah.
"Vanya, vanyaaa, stop Van, baju aku udah basah semua Van, stopp Vann!" Teriak Dion yang masih terus dicipratin air oleh Vanya.
Vanya hanya tertawa mendengar ocehan Dion.
"Kan kamu yang mulai jadi kamu haruss terimaaaa." oceh Vanya.
Dion lalu berlari menuju kearah Vanya lalu memegangi tangan Vanya supaya berhenti.
"Kamu ini kecil-kecil juga tapi bandel! Kamu mau aku gendong kamu ketengah-tengah laut? Terus aku ceburin kamu." Ucap Dion yang tengah memegang tangan Vanya dari belakang.
Vanya dia mematung ketika mengetahui posisi Dion dan merasakan aroma hangat nafas Dion pas ditelinganya. Dia lalu membalikan tubuh nya, Vanya menatap Dion tanpa berkedip sampai-sampai Dion dibuat salting sama tingkah Vanya. Disaat Dion mulai merasa gugup, tangan Vanya memegang wajah Dion dan dibuatnya bibir Dion menjadi kerucut.
"Emang kamu berani nenggelemin aku ditengah lautan, bukan nya kamu cinta sama aku?" Ucap Vanya menantang Dion.
Dion yang kesusahan bicara lalu memprotes Vanya untuk melepaskan tangannya.
"Lepasin tangan kamu!"
"Nggak, aku nggak mau lepasin." Ucap Vanya jahil.
Dion yang tidak kehabisan akal dia lalu menggelitiki Vanya sampai akhirnya dia melepaskan cengkraman nya itu, dia lalu berlari menghindar dari kelitikan itu tapi Dion masih tetap bisa mengejar nya. Tubuh Vanya hampir jatuh karena tersandung sesuatu tapi untung nya Dion dengan sigap menangkap tubuh munggil Vanya.
"Makanya jangan suka lari-larian mentang-mentang badannya kecil." ucap Dion saat memegangi Vanya yang masih nyaman berada di lengan kekar Dion.
Vanya lalu berusaha berdiri, sambil meringis kearah Dion.
"Dion sorry yah." Ucap nya sambil garuk-garuk kepala.
"Dion, makasih yah kamu udah selalu ada buat aku, makasih juga buat liburan ini, makasih udah bikin aku ketawa sampai aku lupa akan hal itu, makasih karena kamu selalu berjuang untuk membuat aku tersenyum lagi."
Dion menatap Vanya dengan tersenyum, dia membelai rambut Vanya yang sedikit berantakan. Belum sempat mengucapkan kata-kata, tiba-tiba Vanya memeluk Dion.
Dipeluknya tubuh Dion, dada bidang nya,dan detak jantung yang berirama, Vanya mendengarnya begitu jelas. Meski itu kali pertama Vanya memeluk Dion tapi dia seperti menemukan tempat bersandar yang selama ini dia cari.
****************
~
Pagi itu Vanya dan Dion sudah bangun dan siap dengan perlengkapan snorkeling. Iya sesuai janji Dion, kalau pagi itu mereka bakal snorkeling sebelum pak Hendra datang menjemput mereka pulang.
"Van, kamu udah siapkan?" Tanya Dion.
"Udah kok ayo kita mulai." Jawab Vanya sambil berjalan kearah Dion.
Kedua lalu berjalan menuju pantai itu lalu menyelam kedasar laut. Mereka melihat batu karang dan berbagai macam ikan yang begitu indah dibawah sana. Setelah beberapa menit snorkeling mereka naik keatas permukaan laut, matahari yang baru saja menampakan sinar nya terlihat begitu indah.
"Lihat deh sunrise nya indah banget kan?" Celetuk Vanya sambil menunjuk kearah sang surya.
"Iya matahari nya kelihatan happy banget hari ini, mungkin sebahagia cewe disamping aku ini." Goda Dion kepada Vanya.
Vanya menyungingkan bibirnya lalu melirik kearah Dion.
"Ohh iyaaa? Kok kamu tahu sihhh?"
"Iya dong, liat aja dalam hitungan ke 3 dia pasti ketawa, 1, 2, 3."
"Manaa nggak ketawa tuh." Cibir Vanya kearah Dion.
"Beneran nggak mau ketawa? Kalau sekarang pasti ketawa." dengan sigap Dion langsung menggelitiki Vanya sampai tertawa.
Keduanya tenggelam dalam gurauan itu.
Dion merasa bahagia karena berhasil membuat Vanya tersenyum, setidaknya Vanya bisa lupa akan sakit hatinya. Dan Dion berharap senyum itu tidak akan pernah sirna lagi.
Setelah sunrise yang menemani pagi mereka sudah cukup tinggi diatas langit, Vanya dan Dion mandi dan membereskan tenda dan juga barang nya, sebelum pak hendra datang.
30 menit kemudian sebuah boat yang akan membawa mereka datang, Vanya dan Dion membawa barang bawaan nya kedalam boat lalu meninggalkan pulau itu.
Setelah sampai divilla Dion, mereka langsung menuju mobil Dion, dibantu oleh pak Hendra memasukan barang-barangnya kedalam bagasi.
"Makasih yaa pak, udah bantuin liburan kami." ucap Dion sebelum pulang.
Vanya yang berdiri disamping Dion tersenyum isyarat ucapan terimakasih.
"Sama-sama den, kapan-kapan kesini lagi tapi bukan untuk liburan kayak gini." Celetuk pak Hendra bikin mereka bingung.
"Maksudnya pak Hendra?" Tanya Dion.
"Honeymoon den, nyonya kemarin kesini terus cerita banyak tentang den Dion sama non Vanya, semoga langgeng ya den, cepet dibawa KUA non Vanya nya!"
Mendengar kata-kata pak Hendra, Dion dan Vanya tertawa geli.
"Iya doain ya pak, kami pulang dulu yah!" Pamit mereka.
Dion membawa mobilnya kembali kebandung, jalanan cukup ramai karena masih hari libur. Vanya yang mungkin kecapean dia tertidur, wajahnya terlihat sedikit kusam karena terkena sinar matahari selama dipantai, rambutnya yang selalu halus dan rapi kelihatan sedikit lusuh.
Dion kembali fokus menyetir, sampai beberapa jam kemudian sampai didepan rumah Vanya. Dion menoleh kearah Vanya yang masih terlelap tidur, dia nggak tega kalo harus membangunkan Vanya.
Dion lalu turun dari mobil nya dan menuju tempat duduk Vanya, kemudian melepaskan seatbelt dan menggendong Vanya sampai kedalam rumah.
Dion menghentikan langkahnya sesaat ketika melihat sebuah mobil putih terparkir tidak jauh dari rumah Vanya, dia mengamati dengan teliti mobil itu sampai ingatan nya kembali terhadap Vanno. Iya mobil itu milik Vanno.
Apa dia ada didalam? Buat apa dia datang kerumah Vanya? Apa nggak cukup puas dia nyakitin Vanya? Batin Dion dengan kesal.
Dion lalu berjalan menuju rumah Vanya, sesaampai nya diruang tamu, benar tebakan Dion kalo Vanno berada didalam sana.
"Tante." Ucap Dion kepada Niken.
Melihat Dion yang datang menggendong Vanya, Niken dan Vanno langsung berdiri khawatir.
Dion kenapa dengan Vanya? Tanya Niken khawatir.
"Nggak apa-apa kok tante, dia ketiduran tadi, aku mau bangunin tapi kasihan, Dion bawa kekamar Vanya yah tante." Izin Dion kepada Niken.
Dengan langkah tergopoh-pogoh, Dion menaiki tangga untuk membawa Vanya kekamarnya. Ini kali pertama Dion masuk kekamar Vanya, Dion meletakkan Vanya diatas ranjang lalu menyelimuti badan Vanya dengan selimut yang sudah ada. Dion memandang sebuah foto yang ada atas meja kecil disamping ranjang. Foto Vanya dengan seorang cowo yang tidak Dion kenal. Dion meraih foto itu memandangi sesaat lalu meletakan lagi. Dia bergegas keluar dari kamar Vanya, sebelum keluar dia kembali melihat wajah Vanya diusapnya kening Vanya lalu sebuah ciuman tipis mendarat tepat didahi Vanya.