
βπ³ππ ππππ? Batin Vanno yang kemudian berlari ke arah Vanya.
Vanno membelah kerumunan yang tengah mengerubungi Vanya. βMinggir minggir! β Perintah Vanno.
βIni kenapa? β Tanya Vanno πππππ.
βTidur! Ya jelas pingsan lah, Van! β Angel menatap Vanno jengkel.
Tanpa banyak bicara, lelaki itu langsung menggendong Vanya dan membawa gadis itu ke UKS.
Sesampainya di ruangan, Vanno langsung membaringkan tubuh Vanya pelan - pelan di atas salah satu tempat tidur unit kesehatan sekolah. Vanno menyibak kan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Vanya.
π²πππππππ ππππ.
Sadar akan sesuatu yang tengah dia pikirkan, dengan cepat Vanno langsung menggelengkan kepalanya. βGue mikir apaan sih? β
βAda yang bisa saya bantu? β sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang Vanno.
βEh, setan, β Vanno kaget.
βBuset, gue kayak bidadari begini dibilang setan, β gerutu suara tadi diikuti dengan memanyunkan bibirnya.
βNajis.β
π²πππππ ππ πππ’ππ π’πππ πππ,
Batin Vanno sambil menatap ke arah Vanya.
βTuh tanganin dia, β ucap Vanno kepada penjaga UKS yang kebetulan adalah teman sebayanya.
Vanno berjalan ke sisi ranjang yang lain, mencari tempat untuk duduk. Saat menemukan tempat yang pas, dia langsung mendudukkan bokongnya disana.
Dia merogoh saku celananya, berusaha mengambil ponselnya. Setelah berhasil mendapatkan benda itu, ia langsung membuka ππππ ππππ - nya bersama πππππ πππππ.
ππππ πΎππΌπ.
πππ£π£π€πΎπ§ππ¨π©π£ : π»π πππππ ππ ππππ?
πΎππ‘π‘π€π ππ‘π« : π³π ππππππ, πππ.
πππ£π£π€πΎπ§ππ¨π©π£ : π½ππππ!
πΏππ€ : πΌπππππ!
πππ©ππ¨ππ£π’ππ₯ππ§ : πΌπππππ ππ!
πππ£π£π€πΎπ§ππ¨π©π£ : π±πππππ πππ πππ πππππ 1, πππ π ππ ππΊπ. π²ππππ!
πΎππ‘π‘π€π ππ‘π« : ππππ ππππ πππ π πππππ πππ, πππ?! ππππππ πππππ ππ ππππ’ππππ ππ πππππππ πππ.
πππ©ππ¨ππ£π’ππ₯ππ§ : πΉππππ πππππ πππ ππππ ππΎ.
πΏππ€ : πΌππππππ πππ πππππ πππππ, ππππ ππππ πππ π’πππ πππππππ πππππππ πππππ ππππππ£ππ.
πΎππ‘π‘π€π ππ‘π« : ππππ ππππππ ππππππ πππ ππππ πππππππ πππππ ππππ.
πππ£π£π€πΎπ§ππ¨π©π£ : π²ππππππ πππ ππ!
πΏππ€ : π²ππ πππ ππππ πππππ πππ! πΆππ πππ πππππ ππ πππ πππππ πππππ, ππππ πππ ππππ ππ ππππππ ππ ππππ. πΉππππ πππ.
πππ£π£π€πΎπ§ππ¨π©π£ : π³ππ ππ’πππππ.
πππ©ππ¨ππ’ππ₯ππ§ : π³ππ πππ.
πΏππ€ : ππππ πππππ πππ ππ πππ.
πΎππ‘π‘π€π ππ‘π« : π»π
πΏππ€ : π»π πππ ππππ.
π πππππ²πππππ πππππππππ π²ππππππππ ππ ππππ.
πΏππ€ : π·ππππππππ πΌπππππ!
π³ππ ππππππππππ π²ππππππππ ππ ππππ. π²ππππππππ πππππππππ ππππππ πππππππ.
πΎππ‘π‘π€π ππ‘π« : π°ππππ ππ, π ππ..
Vanno menutup ππππ ππππ bersama teman-temannya itu. Dia melirik ke arah Vanya.
βDia pingsan apa mati sih? β gumam Vanno yang sontak berhenti ketika melihat adanya pergerakan dari gadis itu.
βSeribu tahun kemudian, β ucap Vanno dengan tampang masa bodohnya.
βApa? β tanya Vanya kepada Vanno dengan tampang bingung.
βTadi ada cicak kawin di atas lo. β
βNgapain lo di sini? β tanya Vanya jutek.
βYa menurut lo aja gue ngapain. Bukannya syukur ditolongin, β Vanno menatap Vanya dengan malas.
Tapi saat melihat wajah Vanya yang melas hal itu membuat Vanno tidak enak hati.
βJangan deket - deket atau gue gampar lo pake ini baskom! β
Vanya berucap sambil memperlihatkan baskom aluminium yang ada di dekatnya.
πΏππππ πππππ πππ πππππ ππππ ππππππ. Batin Vanno bergidik ngeri.
βUdah, nggak usah sok cantik. Gue nggak nafsu sama lo, β Vanno menjawab ketus membuat Vanya geram.
βMinggat sana lo. Nyepetin mata aja lo disini! β Vanya menatap Vanno garang.
βUdah syukur di tolongin, malah ngelunjak! β Vanno kini malah duduk leha- leha di kursi dekat tempat tidur Vanya. Dia memainkan tanganya di atas paha.
Tiba-tiba suara ππππππ - ππππππ terdengar dari arah pintu UKS, Vanno dan Vanya langsung menoleh dan tampaklah disana teman - teman Vanno, yaitu πΎππ‘π‘π€, πΏππ€, dan Willian yang sedang cengar - cengir ke arahnya.
βNgapain lo cengar cengir kayak orang gila? Bawa sini teh nya! β perintah Vanno tidak sabaran.
βGila, beli teh segelas aja perjuangan banget, β keluh Deo dengan mengusap keringat di dahinya.
βKenapa? β tanya Vanno, sementara Vanya hanya menyimak saja.
βIya. Adek kelas pada minta foto. Perasaan anak presiden bukan, anak pejabat juga bukan, kok segitunya, Ya ampun, β celoteh Deo sambil menyerahkan teh di tanganya ke arah Vanno yang kemudian diserahkan Vanno kepada Vanya.
Vanya menggeleng. βNggak usah makasih, β tolak Vanya.
βLo jadi adek kelas nyolot banget, sih? Tinggal Terima, gampang kan? β kata Vanno ketus.
βTerima aja ,dek. Mumpung dia baik sama cewek, β ucap William sambil menaik-turunkan alisnya.
Mau tidak mau Vanya menerima gelas yang berisi teh hangat itu dengan wajah takut - takut.
βCepet diminum, sebentar lagi mau ada acara unjuk bakat, β ucap Vanno dengan nada dinginnya, setelah itu dia pergi meninggalkan Vanya yang masih terdiam.