My Future Is You?

My Future Is You?
[ PART.EXTRA ] SECRET [ END ]



Malam itu Rasti dan Reinard keluar untuk makan malam direstaurant favorite nya, mereka tidak berdua, tapi bersama anaknya.


Iya 2 tahun yang lalu Rasti melahirkan bayi laki-laki dan diberi nama "Adam Alfattan" bayi itu sekarang sudah berumur 2 tahun dia sangat tampan tidak kalah dengan papa nya dan begitu menggemaskan.


.


.


Setelah sampai dimall tersebut mereka bertiga berjalan menuju restaurant dimana tempat mereka mau makan. Reinard mendorong babypram sementara Rasti menggelayutkan tangannya kelengan tangan Reinard. Saat melewati sebuah restaurant langkah Rasti mendadak terhenti, Reinard pun ikut berhenti dan bertanya kepada rasti.


"Sayang, kok berhenti, kamu mau makan disini?" Tanya Reinard namun tidak direspon, Rasti fokus pada salah satu tamu  yang duduk tidak jauh dari jendela.


"Sayang," ucap Reinard sambil menggoyangkan tangan istrinya.


"Eehh iya sayang, kenapa?" Jawab Rasti gugup.


"Aku yang tanya kamu kenapa, dari tadi liatin kedalam sana terus!"


"Sayang, liat deh itu kak Vanya sama kak Vanno kan?" Ucap Rasti sambil menunjuk kemeja dimana mereka duduk.


"Kok bisa mereka berduaan tanpa dion dan kei, apa-


Apa?"


"Apa sayang, maksud kamu, kak Vanya main dibelakang kak Dion?"


Reinard yang mendengar ucapan istrinya hanya


mengangkat bahu sambil mengerucutkan bibir.


"Tunggu, tunggu aku telpon kak Dion dulu sayang!"


Rasti lalu merogoh hp didalam tasnya lalu mendial no hp Dion.


"Sayang, kamu mau kasih tau Dion, angan Ras!"


"Sssstttt, hallo kak Dion, kak Vanya ada dirumah nggak ya? kok aku telepon gak diangkat!" Ucap Rasti ketika panggilan sudah tersambung.


"Kakak Vanya kamu belum pulang loh Ras, katanya lembur malam ini!" Jelas Dion membuat Rasti kaget. Namun saat dia sedang melamun tiba-tiba diujung sana terdengar suara keponakaan nya menghampiri Dion dan mengira yang telepon adalah bundanya.


"Ayyaaahhh..., itu bunda ya ayah, Kei mau ngomong ayah, kei kangen sama bunda..., sini ayah kasih hp nya!"


"Sayang, ini tante Rasti bukan bunda..., nanti ayah telponin ya!" Jelas Dion membuat kei kelihatan sedih.


Rasti yang mendengar celotehan keponakan nya itu jadi ikut sedih, dia berpikir kenapa kakaknya itu tega menelantarkan anak dan suami yang begitu mencintainya.


"Hallo Ras, nanti kalo Vanya pulang aku suruh telpon kamu aja ya!" Ucap Dion.


"Ee..., enggak usah kak, nanti aku WA aja,.maaf ya kak udah ganggu, salam buat kei, weekend ini kita main kerumah ya!"


"Ohh iya, nanti aku sampein ke kei sama kakak kamu ya Ras,"


Setelah panggilan terputus Rasti lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam tas dia lalu menarik nafas panjang dan pandangan nya kembali kedalam restauran dimana mereka tengah berdiri, perut yang tadi lapar tiba-tiba mendadak kenyang.


"Kenapa sih Ras, kok kamu jadi murung gitu?"


"Kak Vanya sayang, kak Vanya dia bohongin kak Dion dan juga kei kalo sekarang dia masih lembur, dan tau tadi waktu aku telepon, dikira bundanya dan dia bilang dia kangen pengen ngomong sama bundanya, apa kak Vanya nggak mikirin perasaan kei dan kak Dion?"


"Sayang, kita kan nggak tau apa yang terjadi dalam keluarga mereka, jadi kamu jangan melihat dari satu sisi aja ya, udah kita jalan lagi yuk!" Ajak Reinard.


.


...****************...


.


.


"Ayahh...bunda nggak jawab ayah...? Apa bunda masih sibuk ayah?" Desis kei dengan wajah yg sudah ngantuk.


"Sayang, kamu tidur dulu ya, ayah temenin nanti kalo bunda pulang ayah suruh kekamar kei yaa!"


Kei yang memang sudah mengantuk mengiyakan perkataan ayah nya, hanya dalam 5menit gadis kecil mungil itu sudah tertidur lelap. Ditatap wajah kei dalam-dalam oleh Dion dengan membathin.


Apa salah gadis mungil ini sampai-sampai kamu harus mengalami seperti ini, maafin ayah yaa sayang, yang belum bisa menjadikan bunda kamu ibu yang baik buat kei


...----------------...


.


.


.


Direstaurant dimana Vanya dan Vanno dinner berduaan mereka keluar dari restaurant dengan bergandengan tangan, mereka seolah tengah jatuh cinta, keduanya nampak bercanda  sehingga gelak tawa Vanya begitu renyah di dengar.


"Van, aku pulang duluan ya!" Ucap Vanya saat sudah berada diparkiran.


Vanno menganggukan kepalanya dan tanpa segan memeluk Vanya.


"Hati-hati ya, makasih buat malam ini!" Ucap Vanno sambil menyesap aroma wangi rambut Vanya.


Dalam perjalanan menuju pulang Vanya mengambil hpnya yang dari tadi tersimpan rapi ditas, Vanya sengaja menonaktifkan hp supaya tidak ada yang menelpon, sampai-sampai saat dia mengaktifkan kembali, Vanya kaget karena begitu banyak missed call dari Dion.


Dengan segera Vanya lalu menelpon balik suaminya itu. tapi setelah beberapa kali menelpon suaminya, Dion sepertinya sengaja tidak mau mengangkat telpon dari Vanya.


Perasaan Vanya mulai tidak karuan antara adion marah atau ada hal lain.


Pandangan Vanya kembali fokus dengan jalanan yang masih cukup ramai meskipun sudah jam 11pm lebih, Vanya sesekali melirik hp berharap Dion bakal telpon balik.


Tapi ternyata harapan itu sirna karena setelah Vanya sampai rumah tidak ada panggilan masuk dari Dion.


Rumah itu sudah gelap cuma tinggal remang-remang lampu teras yang masih menyala, begitu selesai memarkirkan mobil Vanya langsung masuk kedalam dengan ekpresi yang kaget, Vanya melihat Dion masih duduk termenung dimeja makan dengan tangan yang memegang segelas air putih, dan sebuah surat di atas meja makan tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


END


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesuain imajinasi saja ya, menurut kalian kertas apa itu...