
Entah sejak kapan, akhir- akhir ini Vanya jadi sering bawa perasaan terhadap pacarnya yaitu Vanno. Dan entah sejak kapan juga Vanya sering merona ketika dia digoda oleh cowo dingin itu. Jantungnya berdegup kencang ketika Vanno menatapnya dalam. Perlakuan itu membuat hati Vanya menghangat.
Sama hal nya dengan Vanya, Vanno pun juga merasakan hal yang sama seperti apa yang di rasakan oleh gadis itu. Tapi, Vanno masih belum terlalu menyadari hal itu. Dia hanya fokus untuk move on dari seseorang yang pernah ada di hidupnya. Vanno cukup paham kalau sampai Vanya tahu bahwa dirinya hanya dijadikan alat move on pasti dia akan sangat membenci nya. Vanno hanya bisa menikmati hubungannya, biarkanlah mengalir seperti air.
“Ayo dong, plis, bel, bel! ” William memohon sambil menatap jam dinding yang berada di atas papan tulis kelas.
“Lo kenapa sih, Will? Kayak punya pacar aja nungguin jam istirahat! ” Deo menatap William aneh.
William menatap Deo dengan tajam. “Gue kebelet BAB, tau! ” ucap William.
“Ya udah sana ke kamar mandi! Kenapa lo masih duduk anteng kayak putri keraton di sini? ” tanya Deo sambil menatap aneh William.
“WILLIAM, DEO! MAJU KE DEPAN! SEKARANG! ” ucap Bu Shia.
“Tuh, kan. Gurunya aja kayak kungfu panda! ” bisik William kepada Deo.
Cello dan Vanno menatap aneh ke arah kedua laki-laki itu. “Itu mereka kenapa sih? ” tanya Cello kepada Vanno.
Alih-alih menjawab, Vanno malah melanjutkan mengerjakan soal matematika tadi.
“Sial, Deo, perut gue mules! ”
“CEPETAN! ” Bu Shi berkacak pinggang dengan menatap tajam ke arah William dan Deo. Kedua laki-laki itu menelan ludahnya susah payah.
“KALIAN ITU YA—” Tiba-tiba bel istirahat berbunyi dan kesempatan emas itu digunakan William untuk segera berlari menuju kamar mandi.
“Kemana larinya William? ” tanya Bu Shi menatap ke seluruh penjuru kelas. Semua murid kelas melewati meja guru itu mendadak berhenti.
“Kebelet buang air, emang bisa ditahan? ” ucap Vanno dan dengan santai nya laki-laki itu berjalan keluar kelas.
Vanno dan Cello yang penasaran karena tingkah William yang aneh, kemudian menanyakan apa sebabnya. Ternyata, laki-laki itu menahan hajat yang sudah di ujung tanduk.
“Vanno, kamu akan saya kenakan poin karena melawan guru! ” ketus Bu Shi. Guru baru itu tampaknya masih belum mengetahui kalau ternyata dia adalah cucu pemilik sekolah.
Vanno berhenti berjalan dan kemudian menatap Bu Shi. “Ibu akan saya adukan ke ketua yayasan karena tidak mengizinkan muridnya ke kamar mandi saat jam istirahat! ”
“Adukan saja! Memang kamu siapa hah? ”
Vanno yang geram langsung pergi begitu saja. Mungkin guru itu sebentar lagi tidak akan berada di kelasnya.
“Bu, dia cucu pemilik sekolah, ” ucap Cello, kemudian cowo itu berlari pergi. Sudah bisa dipastikan wajah Bu Shi kini pucat pasi. Tapi dengan ahli, beliau langsung menetralkan nya lagi.
“Vanno? ”
Laki-laki dengan jambul anti badai itu berhenti dan berbalik badan untuk menatap orang yang sudah memanggilnya itu. Vanno yang tahu bahwa yang memanggilnya itu Ikky dia langsung mendengus.
“Badut mampang, ” gumam Vanno.
“Hai, sayang. ” Tiba-tiba Ikky langsung memeluk lengan Vanno dengan manja.
Karena risih, Vanno langsung menyentak kan tangan Ikky dan sedikit menghindar dari kejaran perempuan agresif itu.
“Aku maunya kamu, ” jawab Ikky sambil mencolek pipi Vanno manja.
“Jijik, sana jauhan!”
Laki-laki itu kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hal itu membuat Ikky memonyongkan bibirnya.
Petrice, dan Fanesa yang jadi dayang dayang Ikky pun kemudian mengelus bahu perempuan itu pelan.
“Sabar Ky, mungkin ini bukan rejeki lo, ” ucap Fanesa.
“Iya, siapa tahu Vanno malu malu sama lo? ” ujar petrice menenangkan hati Ikky.
“Gue kepo deh siapa pacar Vanno? ” Tiba-tiba nada bicara Ikky menjadi ketus.
“Lo masih belum tahu? ” teriak dua anak itu dengan wajah alay.
Ikky menggeleng, dia menang benar-benar tidak tahu. Karena perempuan itu sibuk memikirkan cara bagaimana Vanno bisa berpaling padanya.
“Aduh, Ikky! Lo tuh tinggal di jaman apa sih? Hello, itu loh, anak kelas 10 IPA 5! ” ucap petrice.
“Kita samperin! ” Ikky dan cecunguk nya langsung berjalan menuju di mana kelas Vanya berada.
★ ★ ★ ★ ★
“Van, ngantin yuk? ” ajak Dania dan Kenzo.
Kedua manusia itu sejak tadi tidak henti hentinya membujuk Vanya, tapi gadis itu tetep kekeh mau di kelas.
Sejak kejadian kemarin dimana Vanno menyuruhnya datang ke lapangan hal itu membuat semua murid di sekolah SMA Pelita menjadi tahu bahwa ternyata dirinya adalah pacar dari most wanted mereka. Sejak saat itu juga Vanya menjadi sering mendapat ancaman dan terror dari fans laki-laki itu yang kebanyakan cewe beringas. Mungkin saja kalau Vanya bermesraan dengan Vanno di hadapan siswi disana pasti dia akan mendapat timpukan dari tomat busuk.
“Gue ke kantin sama aja nyari mati! ” dengus Vanya.
“Kata siapa ke kantin nyari mati? Kita kan disana nyari makan, ” ucap Kenzo lalu mendengus. “Emang sampai kapan lo mau diem di kelas aja? ”
“Sampai Negara Api menyerang, ” celetuk Dania menahan tawanya.
“Gila, nih anak, ” Kenzo menoyor kepala Dania sehingga gadis itu langsung melotot tajam.
“Jahat lo! ”
“Nggak usah sok baper, ” Kenzo mengacak rambut Dania pelan.
“Ish, modus, ” Dania melotot ke arah Kenzo yang me- modus- inya.
Vanya malah menggelengkan kepalanya masa bodoh, dia kini bermain ponselnya.
𝙼𝚎𝚗𝚍𝚒𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚌𝚊 𝙼𝚊𝚗𝚐𝚊𝚝𝚘𝚘𝚗, pikir Vanya.