My Future Is You?

My Future Is You?
07. Ngapain sih Van lo kesini?



Hari ini adalah hari kedua Vanya menjalani masa orientasi di sekolahnya. Jam masih menunjukkan pukul enam lewat lima belas, tapi gadis itu sudah sampai di sekolah.


Sejak tadi Vanya celingak- celinguk mencari seseorang orang yang telah dia anggap sebagai teman sejak kemarin. Yah, siapa lagi kalau buka Dania. Tidak selang lama, tiba-tiba punggung Vanya ditepuk dengan keras.


“Halo, Vanya. Kita ketemu lagi! ”


Vanya melonjak kaget saat ada yang berbicara dengan keras sambil menepuk bahunya kencang. “ASTAGA! ”


Vanya kemudian menatap Dania dengan wajah sebal. “Lo bikin gua jantungan deh! Kalau gue jantungan gimana? ” tanya Vanya Sambil bersedekap.


“Mati lah, ” jawab Dania santai.


Kelewat santai sampai membuat Vanya ternganga mendengar jawaban gadis itu. Kenal saja baru kemarin, tapi gayanya sudah seperti sahabat lama.


Tanpa banyak omong Vanya meninggalkan Dania yang masih asyik berceloteh sendiri.


“Eh, Vanya, tungguin gue! ” Dania langsung mengikuti Vanya.


Dania berlari mengejar Vanya yang sudah menghilang dari pandangan nya. Vanya menggerutu, padahal sejak tadi dia mencari keberadaan Dania, tapi gadis itu malah membuatnya malas.


𝘽𝙍𝙐𝙆!


Setelah suara benturan itu, posisi Vanya entah kenapa menjadi duduk manis di lantai. Perempuan itu meringis kesakitan.


“ADUH! BOKING GUE! ” ringis Vanya sambil memegangi bagian belakang nya.


Vanno yang terlihat tidak ada niatan membantu, membuat Vanya gemas sendiri. “Bantuin kenapa sih, kak? ”


Vanno mau tidak mau akhirnya membantu Vanya berdiri, “Makanya jalan pake mata! ” desis Vanno tajam.


“Oon nih kakak kelas, mana ada jalan pake mata? Jalan itu pake kaki, elah, ” gumam Vanya yang ternyata terdengar hingga ke telinga Vanno.


“Apa lo bilang? ” tanya Vanno.


“Eh, ennga kok, kak!” jawab Vanya.


“Vanno! ”


“itu 𝚐𝚊𝚖𝚎 udah mau dimulai! Lo ngapain berduaan disini? ” William menatap Vanya bingung.


“Ya Tuhan, Vanya. Gue nyariin lo dari pluto sampai mars, eh ternyata lo ada di bumi! ” pekik Dania histeris.


“Dek, lo ngimpi mulu nggak capek apa? ” William yang sejak kemarin gemas dengan Dania akhirnya bisa menyindir gadis itu.


“Lo ngomong sama siapa? ” tanya Dania.


“Sama anak kambing! Ya sama lo lah, pinter! ” geram William.


“Oh, ngajak ngomong gue. ” Dania hanya manggut-manggut, sedangkan William menepuk jidaknya.


Hal yang paling tidak disukai oleh peserta MOS adalah permainan yang bagi mereka seperti penyiksaan yang hanya berembel- embel permainan saja. Bagaimana tidak dinamakan penyiksaan setiap regu atau individu yang kalah harus menuruti hukuman yang diberikan oleh panitia. Seperti sekarang, ada Vanya yang tengah bersiap menjalankan hukumannya karena dia salah menyebutkan nama hewan yang sudah di tentukan oleh panitia.


“Lo yang namanya uler keket, sini! ” kata salah satu anggota OSIS.


“Gue, kak? ” Vanya balik bertanya setelah menatap sekeliling nya.


“Iya lah! Cepet sini! ”


Tatapan orang-orang beralih menatap Vanya dengan pandangan beruntung. Vanya yang merasa ditatap malah merasa risih. Sesampainya di depan, dia langsung berdiri di samping Cello.


“Kenapa, kak? ” tanya Vanya.


Cello menatap Vanya tajam. “Sekarang sebutin sepuluh nama hewan buas, dengan waktu lima detik! ” tantang Cello membuat Vanya kaget.


“Ayo, buruan jawab! ”


“Harimau, singa, buaya—” sebelum Vanya melanjutkan jawabannya, Cello menyela.


“Waktu habis! ” Mungkin kesengsaraan peserta MOS adalah hiburan tersendiri bagi anggota OSIS karena kesibukan nya mengurus keperluan MOS.


“Kak, kok cepet banget? ” tanya Vanya tak terima.