
Cello masih menatap Deo dengan aura permusuhan yang terpancar dari raut wajahnya. Vanno sempat bingung, padahal kan yang memukul bokongnya dengan menggunakan raket listrik adalah dirinya, tapi kenapa Cello malah mendiamkan Deo?
“Sumpah, Van, si Nata itu beneran kakaknya Vanya? ” Deo memutuskan tatapan tidak bersahabat itu dari Cello.
Laki-laki itu mengangguk. “Iya.”
William, Cello dan Deo melebarkan matanya karena kaget saat mendengar penuturan Vanno.
“Bisa - bisanya Vanya punya kakak kayak Nata! ” Cello menggelengkan kepalanya tidak percaya.
𝙏𝘼𝙆!
Satu jitakan dengan mulus meluncur di kepala Cello. Benar benar hari penyiksaan bagi Cello.
“Apaan lagi sih ini, aduhhh!” Cello menahan geraman frustasi.
Vanno menatap jengah dan laki-laki itu kini beralih tempat duduk dari single sofa menjadi di antara Cello dan William. Deo? Kini giliran dia yang duduk di single sofa yang sebelumnya ditempati Vanno.
“Terus hubungan lo sama Vanya gimana? Putus nggak? ” tanya Cello penuh harap.
“Kenapa sih, lo kayaknya berharap banget Vanya itu putus sama Vanno? Lo mau nikung Vanno beneran apa? ” sewot William.
“Lo berdua kayak petir deh! Nyambar mulu kalau ada orang ngomong!” ketus Deo.
“Gue masih pacaran sama Vanya, ” balas Vanno.
“Yaaah, ” Cello mendesah sedih.
“Kalau lo sama Vanya masih pacaran terus gimana yang disana? Perasaan lo belum putus deh sama yang di Pluto? ” pertanyaan polos itu keluar dari mulut Cello. Semua tatapan beralih menatap tajam laki-laki itu, sementara Vanno hanya diam saja.
“Apa sih? Perasaan salah mulu aku tuh! ” Cello menatap ketiga temannya sinis.
“Kalau lo bukan sahabat gue, udah gue pastiin lo, gue tendang ke planet saturnus! ” jengah William.
Saat Deo ingin melempar wajah Cello dengan sebuah novel milik Vanno yang tebalnya hampir sama dengan ensiklopedia itu, dengan cepat lelaki tinggi berkulit putih itu menghindar, ketika dikira sudah aman, lelaki itu menoleh sambil menjulurkan lidahnya ke arah Deo.
“Lo mau nampar gue pake buku setebal itu? Hoho, kali ini tidak bisa! ” Dengan gaya seperti Justin Johnes, cowo itu berjalan dengan santainya. Tanpa disangka Vanno menyelonjorkan kakinya yang berhasil membuat Cello jatuh terjungkal ke depan dengan tidak elitnya.
“Sialan! ” desis Cello.
“Mampus lo! ” tawa para sahabatnya.
“Parah lo pada!”
Vanno malah mengangkat kedua bahunya tak acuh.
“Jangan sok ganteng makanya! ”
“Jahat deh! ” keluh Cello.
★ ★ ★ ★ ★
Padahal waktu telah menunjukkan pukul 23.00, tapi ke empat orang itu masih asyik bermain PS yang berada di ruang tengah rumah Vanno. Rumah yang awalnya hening itu kini mendadak seperti stadion sepak bola. Teriakan demi teriakan memenuhi ruangan rumah itu.
“Ya ampun! ” suara lengkingan kali ini bukan berasal dari salah satu anak laki-laki yang tengah duduk sambil berteriak histeris seperti banci di pertigaan gang itu. Tapi itu adalah lengkingan syok dari Karin— mama Vanno.
Wanita paruh baya yang baru pulang dari luar kota bersama dengan suaminya itu mendadak kaget karena melihat anak anak yang ada di rumahnya sekarang.
“Kenapa kalian masih disini? Kenapa nggak pada pulang? Ini udah malam! ” tanya Karin beruntun dengan berkacak pinggang itu.
“Vanno! Usir teman teman kamu! Ini rumah kalau ada mereka kayak stadion lagi ada pertandingan bola, tahu? Heboh! ” ucap Karin.
“Ada apa sih, Ma? Kita baru pulang, tapi mama kok teriak teriak, sih? ” David— papa Vanno— yang baru masuk ke dalam rumah langsung menatap istrinya itu.
“Lihat, Pa. Vanno membawa kumpulan monyet kelaparan, Pa! ” ucap Karin.
“Ih, tante jahat, deh! Kita bukan monyet, tan! ” celetuk Cello menatap Karin sebal.
“Emang kita apaan, Cel? ” tanya William.
“Kita itu Anaconda! Anak cogan sayang bunda! ” ujar Cello tidak nyambung, tapi dengan narsis nya dia menepuk dadanya bangga.
“Dih, nih anak kurang belaian sumpah! ” Deo berkata jijik.
Karin menepuk jidatnya sedangkan David sudah tertawa terbahak-bahak. “Eh, itu anaknya siapa kamu? Jawab mulu dibilangin orangtua! ” aura permusuhan antara Karin dan Cello mulai terlihat.
“Anaknya Pak Bram sama Bunda Nilla, kenapa tan? Tante mau angkat aku jadi adiknya Vanno?” tanya Cello.
“Najis! ” ucap Vanno, Deo dan William.
“Eh, gue belain kalian ya! Kenapa kalian ngatain gue? ” Cello melotot ke arah tiga sahabat nya.
“Nggak butuh pembelaan lo! Bukannya selesai malah nambah! ” ucap Deo.
“Ini kenapa kalian masih di sini? Sana pulang! Nanti mama- papa kalian bingung! ”
“Kita mau nemenin Vanno lah tan! Masa kita disini mau dugem? ” Cello mulai nyolot.
“Eh, biasa aja dong. Sayang, lihat anak curut itu! ” Karin menatap melas suaminya.
“Tante Karin ih, dibilang aku anaknya Bram sama Nilla juga! ”
“Astagaa! ” ucap Deo dan William karena mendengar Cello yang memanggil kedua orang tuanya tanpa embel-embel papa-mama.
“Ma, Pa, mending kalian istirahat aja. Ini anak dari tadi emang gini. Kerasukan jin tomang kali ya? ” pikir Vanno.
“Ya udah, Mama mau ke kamar. Kalian, ” ucap Karin dengan mengedarkan jari telunjuk nya ke arah cowo cowo di sana. “Termasuk kamu! Cellin! ”
“Aduh! Nama aku Cello, tan! ” sewot Cello.
“Terserah! Awas kalau kalian buat kekacauan! Udah malam, mending kalian nginep disini! ” setelah mengucapkan itu, Karin berjalan pergi.
“Nyokap lo galak- galak tapi perhatian, ya. Makanya anaknya modelnya kayak gini. Dingin, ketus, tapi aslinya sweet, ” ucap Cello.
“Idih! ” ucap Deo membuat Cello menatap nya jengah.
“Itu bokong lo gimana, Cel? ” tanya Vanno.
“Masih sakit lah! Lo sih, tega banget sama gue! ” cerca Cello.
“Habis lo berantem mulu. Gue pusing lihatnya! ” jawab Vanno.
“Ingat Van, apa yang kamu lakukan itu, jahat! ” ucap Cello dramatis.
“Mulai drama nih anak! Mau gue tampar pake raket listrik lagi? ” ancam Vanno.
“Enggak! ” Cello langsung bungkam dan menatap cowo itu sambil bergidik ngeri. Sedangkan Vanno? Dia tersenyum penuh kemenangan ke arah Cello. Percaya lah, sengatan raket listrik itu benar benar menyakitkan.