My Future Is You?

My Future Is You?
29. Permintaan Maaf dan Sebuah Janji



Vanno, Cello, dan juga William kini berada di parkiran, mereka masih menunggu Deo yang sedang kumpul tim futsal. Toh, ketiga laki-laki itu juga masih enggan untuk beranjak dari tempat tersebut, malahan mereka asyik mengobrol sambil duduk-duduk di atas motornya.


"Gimana sama Vanya?" pertanyaan itu membuat Vanno menoleh.


"Tadi gua ketemu sama dia."


"Lo nggak jelasin semuanya?" Tanya Cello.


Vanno menggelengkan kepalanya tanpa semangat.


"Terus gimana, Van? Lo mau diem aja? Kalau lo diem aja, sama aja bikin Vanya dan lo kesiksa," Ucap William serius.


"Iya, Van. Emang lo nggak kasihan juga sama Vanya? Seperti nya dia itu masih sayang sama lo. Dia berharap agar lo jelasin semuanya," Ujar Cello.


Kedua sahabatnya itu memberikannya motivasi. Apa yang di ucapkan oleh Willian dan Cello memang ada benarnya. Tapi Vanno masih enggan untuk bertemu Vanya. Bukannya dia takut kalau dia akan diusir oleh Vanya, tapi dia takut, ketika dia kembali masuk di kehidupan Vanya, gadis itu akan kembali tersakiti. Apalagi kini Daren selalu bersama Vanya.


"Lo mikirin Daren sama Vanya?" Seperti mengetahui isi pikiran dan hari Vanno, Cello bertanya langsung. Dan sialnya itu benar.


Vanno hanya diam. tapi sahabat-sahabat nya itu tahu diamnya Vanno berarti iya.


"Udah deh, nggak usah mikirin Daren. Toh, Darra itu suka sama Daren, dan gue yakin Daren juga suka sama Darra. Jadi lo fokusin buat jelasin semuanya ke Vanya aja," Tutur William.


"Kita mau UN, bro, buat hati lo merasa nyaman dan tenang, jangan buat lo nggak fokus karena hati dan pikiran lo masih tertuju ke Vanya. katanya lo mau kuliah di London?" Tanya Cello.


Vanno menghela nafasnya. dian benar-benar pusing sekarang. masalahnya dengan Vanya belum selesai tapi dia sudah harus di hadapkan dengan ujian Nasional yang tinggal menghitung minggu. Karena satu minggu lagi dia sudah melaksanakan ujian sekolah.


"Kita lihat nanti aja," Ucap Vanno pasrah.


"Deo mana sih?" Tanya William sambil sesekali mengecek ponselnya.


"Katanya kumpul futsal? Masa anak futsal sama anak basket duluan anak basket sih keluarnya? Jangan-jangan si De— Aduh! Kepala gue!" Keluh Cello karena tiba-tiba Deo melemparnya dengan botol air mineral yang sudah kosong.


"Cowok tukang gosip!" cibir Deo.


"Lo lama gila," jawab Cello sambil mengusap kepalanya yang terkena lemparan botol itu.


"Salahin si Aldi kenapa nyuruh ngumpul jam dua!" geram Deo


"Emang penting gitu buat gue?"


"Lo kan tadi ngeluh mulu!"


"Eh, masa sih?"


Deo mengalihkan pandangannya ke arah kiri sehingga dia tidak sengaja melihat Nata, Daren, Raka, dan Vanya yang sedang bersenda gurau.


Nata dan Raka melajukan motornya, meninggalkan Vanya dan Daren yang masih berbicara.


"Itu Vanya sama Daren, kan?" Tanya Deo.


Sontak saja Vanno dan lainnya langsung menatap ke arah yang di tunjuk Deo. Dada Vanno bergemuruh saat dia melihat Vanya menaiki motor Daren dan tanpa disangka gadis itu melingkarkan tangannya ke pinggang Daren. Vanno mencengkeram stang motornya. Giginya bergemeletuk saat dengan sengaja Daren melambatkan laju motornya di hadapannya.


Tatapan Vanya dan Vanno saling bertemu tapi Vanha langsung mengalihkan pandangannya. Saat motor itu meninggalkan halaman sekolah, Vanno langsung mengumpat.


"Sialan!" laki-laki itu memakai helmnya kasar.


Deru suara motor Ninja itu menggema di halaman. Vanno melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia berbiat mengikuti Vanya dan Daren.


"Uhuk uhukk!" debu yang tidak sengaja dihirup ketiga temannya membuat mereka terbatuk-batuk.


"Sialan si Vanno!" desis Cello.


"Ikutin nggak nih?" Tanya William.


"Ikutin lah, nanti kalau Vanno kenapa-napa gimana coba?" tutur Deo.


Ketiga lelaki itu langsung mengambil motornya masing-masing, Deo mengambil motor N-Max nya dan Cello berbonceng dengan William menggunakan motor cross hijau milik Cello.


"Eh, gantian lo yang bawa," Ucap Cello menyerahkan kunci motornya.


"ini kan motor lo."


" Bawa motor atau lo jalan kaki?"


"Oke,oke!" Jawab William dengan kesal.


Deo melajukan motornya lebih dulu dan kemudian diikuti oleh William dan Cello dari belakang.


...****************...


Vanno melajukan motor nya seperti orang kesetanan, keyakinan untuk menjelaskan semuanya pada Vanya kini sudah bulat. Dia tidak ingin berpisah dengan Vanya. Vanya itu hanya salah paham dengan semuanya.


Ketiga sahabat Vanno tidak bisa mengejar laki-laki itu. Vanno melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Berbeda halnya dengan Vanno, kini Vanya menyembunyikan kepalanya di punggung Daren, dia ingin menangis tapi dia tahan. Saat melihat Vanno tadi pikirannya tiba-tiba melayang ke kejadian lima hari lalu. Dimana diantahu Vanno hanya memanfaatkan nya sebagai pelarian saja, san satu lagi, Vanno berpacaran dengan dirinya karena tidak tega melihatnya sakit.


"Kenapa Van?" Tanya Daren melihat Vanya dari kaca spionnya.


Gelengan yang dirasakan Daren di punggungnya sudah cukup mewakili jawaban Vanya.


Sesampainya Vanya di rumah, Daren langsung melesat pergi meninggalkan Vanya yang masih berdiri mematung di depan rumahnya.


Gadis itu membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Tanya orang itu melingkar di perut Vanya dan kepalanya disandarkan di leher gadis itu.


"Miss you," jantung Vanha berpacu lebih cepat dari biasanya.


Vanya melihat ke bawah, menerka milik siapa tangan yang melingkar di perutnya itu, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan orang itu sudah ia hafal di luar kepala. Hal itu juga yang membuatnya yakin bahwa itu adalah Vanno.


Vanya memberontak agar Vanno melepaskan pelukannya.


"Maafin gue. Apa yang lo pikirin, itu semuanya nggak bener" bisik Vanno.


Tubuh Vanya melemas, matanya mulai berkaca-kaca.


"Mau apa kakak kesini?" Tanya Vanya.


Vanno menjauhkan sedikit tubuh gadis itu darinya dan membalikkannya. Vanno kini beralih menangkup pipi Vanya.


"Aku cuma butuh waktu dua puluh menit buat jelasin semuanya, " Ucap Vanno. "Setelah UN. aku bakal kuliah ke London," Ucap Vanno lesu. Sejujurnya dia tidak mau memberi tahu semua itu kepada Vanya, tapi bagaimana lagi? Dia sudah tidak bisa membohongi perasaannya lagi .


Tatapan terkejut di wajah Vanya membuat Vanni sedikit lega karena perempuan itu secara tidak langsung menginginkan dirinya tetap tinggal.


"Beneran?" Tanya Vanya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


Vanno mengangguk. " Iya. Makanya sebelum aku pergi nanti aku mau bilang sama kamu. Tapi, terlebih dulu aku mau minta maaf sama kamu kalau waktu itu aku nuduh kamu sama Daren. " Ucap Vanno.


Vanya mengajak laki-laki itu untuk duduk, "Iya, enggak apa-apa ."


"Vanya?" panggil Vanno.


"Iya?"


"Maaf kalau selama kita pacaran dulu sifat aku ke kamu itu seakan-akan aku cuma jadiin kamu pelarian saja," Ucap vanno lirih.


Vanya diam, tidak tidak ingin memotong cerita Vanno. Biarkanlah laki-laki itu yang menjelaskannya, Vanya hanya ingin mendengar semua kebenarannya.


"Jujur. emang dari awal aku itu sudah tertarik sama kamu, aneh memang baru lihat langsung mencap sebagai milik aku. Mungkin aku udah ngerasain yang namanya love at the first sight. Padahal tahu nama kamu aja enggak," Vanno terkekeh saat dia menceritakan awal pertemuan mereka.


Vanno menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan, setelah itu dia mulai melanjutkan ceritanya.


"Hubungan yang awalnya tenang tanpa ada gangguan tiba-tiba kacau karena orang dari masa lalu aku datang. Aku kira dia masih cinta sama aku, hal itu yang membuat aku bimbang, antara memilih dia atau kamu. Aku awalnya ingin kembali bersamanya karena udah satu tahun lamanya aku nunggu dia, tapi aku sadar masa lalu itu hanya pantas untuk di jadikan pelajaran. Maaf, aku waktu itu nggak ngabarin kamu selama beberapa hari. Maaf, udah buat kamu khawatir, aku tahu kata maaf yang aku ucapkan itu nggak sebanding rasa sakit yang selama beberapa minggu ini kamu tahan," Ucap Vanno tulus. Apa yang di katakan Vanno itu memang benar adanya, tidak ada yang di tambah-tambahkan atau pun di kurang-kurangi.


Setetes air mata jatuh di pipi Vanya, " Kami nggak tahu kak, apa yang aku lakuin saat kamu hindarin aku. Setelah kita putus pun selalu bayang-bayang kamu uang ada!"


Vanno langsung memeluk tubuh gadis yang menangis di hadapannya itu.


"Sakit ketika aku denger kakak masih ada rasa sana kak Darra. Sakit saat kakak berharap sama kak Darra, sakit waktu aku denger sendiri kalau kakak ternyata balikan dengan mantan kakak. Apalagi waktu kakak bilang terpaksa pacaran sana aku karena aku lagi sakit," Vanya menatap Vanno sendu.


"Apa yang kamu bilang barusan itu nggak bener. Waktu itu Darra cuma latihan buat ngungkapin perasaannya sana Dareb. Dia nggak ada perasaan lagi sama aku,kita cuma temen, nggak lebih Van ," Jujur Vanno. Hal itu membuat Vanya menatap Vanno bingung. Apa yang di maksud Vanno sebenarnya?


"Maksud kamu?"


"Darra suka sama Daren, sejak kelas satu,"Ucap Vanno.


"Aku sama sekali nggak mikir kalau kamu ngira aku pacaran sama kamu itu karena kasihan, kamu salah besar. aku bilang gitu karena aku sayang sama kamu Van," lanjutnya.


"Jadi?" Tanya Vanya.


"Kamu nggak mau balikan sama aku? Mungkin hanya dengan ini kita bisa bersama kayak dulu, Van. Walaupun setelah itu aku bakal pergi," Ucap Vanno.


Vanya mengangguk. "Iya, aku mau kak. tapi aku mohon jangan pergi, " pinta Vanya.


"Nggak bisa. Van. Ini kemauan orang tuaku. Aku janji setelah selesai kuliah aku bakal lamar kamu," Ucap Vanno.


Hal itu membuat Vanya tertawa. "Apaan sih, aku masih kecil juga!"


"Lima tahun lagi," goda Vanno. "Jadi gimana?"


"Janji dulu."


"Janji apa?"


"Kalau nanti kuliah disana jangan lupain aku, jangan cari cewek lain, jangan lost contact sama aku!" Ucap Vanya.


"Iya Janji. "


Vanya tersenyum, akhirnya masalah mereka berdua telah selesai dan kini mereka sudah kembali bersama lagi. Walaupun hati dan kepercayaan Vanya sedikit hancur, dia akan berusaha perlahan-lahan untuk mengobati nya bersama Vanno. Dia yakin selalu ada akhir yang terbaik dalam sebuah cerita.


Hidup Vanya itu ibarat seperti gelas, karena sebuah gelas yang retak tidak bisa diperbaiki menjadi utuh seperti semula, sama hal nya dengan perasaan yang tidak mudah untuk kembali utuh. Butuh proses yang lama untuk mencapai hasil yang maksimal.


"Sweet banget Vanno, parah!" gumam Deo dan ketiga temannya yang sejak tadi melihat adegan live di depan mereka itu. Walaupun dengan sembunyi-sembunyi.


"Iya," Jawab yang lain serempak.


...****************...


Waaahhh, Gak nyangka, beberapa episode lagi bakal Tamat. 🥺.


Jangan lupa Votmen and like nya ya ^◇^. 👇👇