
~
~**genggam erat tanganku yakinkan lah aku kalau aku mampu~**
.
.
.
Hari ini adalah hari pernikahan Vanno dan Angel.
Vanya sudah memutuskan untuk datang keacara itu bersama Dion, meski sedikit ragu tapi setidaknya dia ingin menunjukan kepada semua orang kalau dirinya baik-baik saja setelah ditinggal oleh Vanno
Mobil Dion sudah terparkir didepan rumah Vanya untuk menjemputnya, baju yang mereka pakai juga senada, gaun berwarna putih dan kemeja warna putih juga. Mereka kelihatan begitu perfect yang cewenya cantik, cowo nya juga ganteng, tinggi dan bentuk badannya yang membuat banyak cewe begitu mendambakan sosok cowo seperti Dion.
"Kamu udah siap kan Van?" Tanya Dion begitu melihat Vanya turun dari tangan.
Vanya mengangguk ragu, mereka lalu berpamitan kepada Niken.
Keduanya lalu berangkat keacara resepsi pernikahan itu.
Dion melirik wajah Vanya yang kelihatan tegang.
_ya perempuan mana yang sanggup datang keacara pernikahan orang yang dulu dia cintai, jadi wajar aja kalo Vanya gugup, tegang bahkan mungkin dia juga merasakan panas dingin. Tapi aku janji Van, aku nggak akan ngebiarin mereka menertawakan mu, akan bakal bikin Vanno dan keluarga nya menyesal telah mencampakan wanita seperti mu!_ Ucap Dion dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup macet akhirnya mereka sampai digedung itu. Mata Vanya tidak berkedip ketika berada didepan pintu masuk gedung. Kakinya seakan terasa berat untuk berjalan, seperti ada sesuatu yang tertahan dimatanya.
"Van, ayo masuk!" Celetuk Dion menyadarkan Vanya.
Dengan spontan Vanya menggelengkan kepalanya, lalu menatap kearah Dion dengan mata berkaca-kaca, dia lalu membalikan badan nya untuk masuk kembali kemobil Dion, namun dengan sigap Dion mencegah langkah Vanya.
"Vanya, kamu mau kemana?" Tanya Dion sambil memegang lengan Vanya.
"Kamu mau pulang? Aku tahu Van, ini berat banget buat kamu tapi please jangan tunjukin kehancuran kamu kepada mereka, ada aku disini aku yang akan menguatkan kamu! Tegakkan kepalamu Van, jangan biarkan mahkota indahmu jatuh begitu saja! Aku yakin kalau kamu ada ditengah-tengah pesta itu bakal ada hati yang terluka selain hati kamu Van!" Lirih Dion.
Vanya masih menundukkan pandangan nya dia tidak tahu harus bagaimana, masuk kedalam atau kembali pulang.
"Van, kamu mau masuk kan?" Kali ini Vanya mendongakan kepalanya lalu tersenyum samar, Dion yang melihat senyum itu merasa lega, tangan nya memegang pipi Vanya, dipandang wajah itu, kali ini kedua nya saling bertatap, meski mata Vanya masih sedikit sayu tapi binar bahagia nampak dari mata Dion.
"Nah gitu, senyum dong, kamu kalo senyum tu cantik banget tau Van." Goda Dion.
Mendengar gombalan Dion, Vanya tersenyum malu wajahnya merah merona, Dion yang mengetahui hal itu terkekeh.
"Cieeee, sampai kayak tomat gitu pipi nya, ciee nervous yah."
"Apaan sih, nggak kok, udah ayo masuk nanti kemaleman!" Ucap Vanya lalu dia melingkarkan tangannya ke lengan kekar Dion.
Dion menatap Vanya sambil tersenyum, lalu keduanya berjalan menuju ballroom. Dion dengan gagah menggandeng tangan Vanya seolah menunjukan kepada semua tamu dialah seorang pangeran yang sudah berhasil membawa tuan putri nya kedalam istana. Vanya tidak berhenti tersenyum setiap kali berpapasan dengan tamu undangan yang lainnya. Entah apa yang sudah membuat Vanya begitu percaya diri dan tegar untuk memasuki ruangan itu. Kini Vanya dan Dion tepat berada dihadapan Vanno dan Angel untuk bersalaman. Dion sedikit berbisik kepada Vanya yang kelihatan mulai salting.
Dia menggenggam tangan Vanya seolah mengisyaratkan untuk tenang.
"Van, jangan biarkan mereka menertawakanmu! Tunjukkan pada mereka Van."
Bola Mata Vanya lalu memutar kearah Vanno dan Angel. Dengan tubuh tegak nya dia lalu menggenggam tangan Dion dan berjalan menyalami mempelai.
"Selamat ya, Angel!" Ucap Vanya sembari berjabat tangan.
Sementara Angel hanya tersenyum sinis seolah menggambarkan dirinya menang.
Setelah bersalaman dengan angel, Vanya lalu menjabat tangan Vanno. Vanya menatap mata Vanno, dia seolah mencari kebahagiaan dari dalam matanya.
_Apa dia lebih bahagia bersanding dengan Angel dibandingkan denganku dulu?_
Lama mata Vanya menjelajahi mata Vanno, namun hanya sorot kesedihan yang dia temukan.
Vanya mengucapkan selamat kepada Vanno, diiringi Dengan senyum khasnya, kemudian diikuti oleh Dion yang membuntuti Vanya.
"_Vanyaaa_. Lirih Vanno dalam hati.
Setelah selesai bersalaman, Vanya dan Dion ikut menjamu makanan yang telah tersedia, keduanya terlihat lebih dekat dari sebelumnya, Vanya juga sudah mulai sedikit terbuka kepada Dion.
"Van, kamu mau ikutan dansa nggak?" Tanya Dion ketika melihat kedua mempelai turun untuk berdansa.
Vanya terdiam sesaat sebelum akhirnya mengiyakan ajakkan Dion.
Terlihat lebih dari 5 pasang couple ikut berdansa, mereka terlihat begitu bahagia. Vanya dan Dion mulai berdansa, tangan Dion yang melingkar dipinggang Vanya, begitu juga dengan tangan Vanya yang sudah menggelayuti leher Dion, kaki mereka berdansa mengikuti irama. Mereka sesekali bertatap mata dan tersenyum, Dion lalu menempelkan keningnya ke kening Vanya, entah apa yang tengah mereka rasakan tapi yang jelas mereka terlihat begitu bahagia.
Mata Vanya berputar melihat orang-orang disekitarnya sampai pada akhirnya pandangan mata nya bertabrakan dengan pandangan Vanno yang tengah berdansa dengan Angel. Vanya yang tidak mau terjebak oleh situasi itu dia lalu menenggelamkan kepalanya kedalam bahu Sion. Dion yang merasakan sikap aneh Vanya lalu memutarkan bola matanya dan dia menangkap pandangan Vanno yang tengah memeperhatikan keduanya. Dion kemudian mengalihkan pandangnnya lalu mengecup dan membelai rambut Vanya.
"Vanya?" Seseorang disebrang memanggil. Vanya yang masih berada dipelukan Dion lalu menoleh. Dia melihat sosok yang tidak asing disana sambil tersenyum.
"Haee kamu dateng juga?" Ucapnya sambil memeluk Vanya. Dia adalah rekan kerja Vanno dikantornya, dan tentu saja mengenal Vanya karena mereka sudah beberapa kali bertemu.
Wanita itu lalu melirik Dion yang masih setia disamping Vanya.
"Kenalin ini Dion." Ucap Vanya memperkenalkan, lalu mereka bersalaman.
"Ini yang katanya calon suami kamu ya Van?" Bisiknya tepat ditelinga Vanya.
Vanya lalu tertawa geli. "Apaan sih kamu, ini kemakan gosip juga yah?"
"Tapi serasi kok Van, jangan lupa undang aku ya kalo nikah."
Vanya dan Dion tertawa begitu mendengar ucapan temen nya itu.
Mereka berbincang sesaat sampai pada akhirnya Rika ( Teman Vanno ) pamit untuk menemui kekasihnya.
Kini tinggal mereka berdua entah apa yang terjadi setelah mendengar kata-kata Rika barusan membuat Vanya sedikit canggung.
"Van, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Dion.
Vanya lalu membalikan badan nya lalu menatap Dion lekat, bibir nya tidak bersuara, mata mereka saling bertatapan bahkan jarak wajah mereka sangat dekat, Vanya merasakan wajahnya yang memanas entah apa yang ada dipikiran Vanya, dia mendekatkan bibirnya ke bibir Dion, Dion yang menyadari akan hal itu seolah menyadarkan Vanya. Dion meletakan jari manisnya dibibir Vanya lalu berbisik lirih ditelinga Vanya.
"Van, aku memang sangat mencintai kamu, tapi aku nggak mau menerima itu, karena aku takut setelah ini aku bakal minta yang lebih, dan aku juga nggak mau nyakitin kamu." Bisik Dion lalu merengkuh tubuh Vanya.
~
"Makasih yah Dion buat malam ini." Ucap Vanya ketika sudah sampai didepan rumahnya.
"Makasih buat? I'm doing nothing Van."
"Maaf kalo sikap aku tadi nggak sopan. Aku nggak tahu kenapa sampai bisa ngelakuin hal konyol itu, jangan diinget-inget ya Dion pleaseee!" Ucap Vanya memelas.
Dion tertawa geli melihat tingkah Vanya. "Van, jujur aku lebih suka kamu yang agresif kayak tadi daripada yang diem, terus dingin, tadi yang aku lihat justru malah diri kamu sebenernya Van, Vanya yang agresif dan juga selalu tersenyum." Ucap Dion sambil mencubit manja pipi Vanya.
"Kamu bilang suka aku yang agresif, tapi kamu malah bikin malu aku."
"Hei, bukan maksud aku seperti itu Van, kalau aku layanin itu terus nanti aku minta yang lebih atau nggak aku ngelakuin diluar batas gimana, apa kamu mau juga?" Goda Dion menantang.
"Iihh kamu nyebelinn tau, udah ahh aku masuk dulu ya, makasih sekali lagi, bye Dion." Ucap Vanya lalu mendaratkan sebuah kecupan dipipi Dion.
Dion memperhatikan langkah Vanya dengan tersenyum, hati kecilnya berbisik.
_semoga ini bukan sementara karena melihat wanita itu tersenyum adalah suatu kebahagiaan tersendiri, aku memang nggak tahu akhir dari perasaan ini akan terbalas atau sia-sia Van, tapi setidak nya aku pernah menyembuhkan luka dihatimu dan selalu ada disampingmu Van._
****************