
~
Kini mereka sudah berada direstaurant itu.
"Hanandra's, ini resto baru ya?" Tanya Vanya sambil memutarkan bola matanya.
"Iya, ayo masuk!" Ucap Reinard lalu melingkarkan tangan nya kepundak Vanya dan berjalan masuk kedalam.
"Pak Reinard masih dibandung," sapa seorang kasir yang melihat kedatangan Reinard. Vanya yang ada disampingnya mulai bingung.
"Bapak? Ini restaurant kamu Rei?" Selidik Vanya.
"Bukan ini restonya Andra sama Hanna." Jelas Reinard.
"Andra, si bocah yang sok cool itu, yang dulu sekelas sama kita?" Tanya Vanya tidak percaya.
"Sejak pulang, aku kerja sama dia, dan kemaren itu kamu juga di resto dia."
"Waahh hebat banget tu bocah, terus Hanna?"
"Dia istrinya Andra, cewe cupu yang dulu sering kita usilin, tapi sekarang dia berubah banget Van, sekarang jadi cantik dan dewasa." Ucap Reinard memuji.
Selama berada direstaurant itu mereka sibuk menceritakan kejadian-kejadian selama berpisah, sampai-sampai apa yang menjadi alasan Vanya tidak mau menemui laki-laki itu seolah terlupakan, mungkin rasa rindu yang ada dihati nya lebih besar dari kebenciannya itu.
Setelah melepas rindu direstaurant itu, Reinard lalu mengantarkan Vanya pulang, sekaligus mampir kerumah Vanya untuk bertemu dengan Niken dan juga Davi, orang yang dulu sudah dekat dan dianggap seperti orang tua sendiri. Meski jarang bertemu tapi Reinard cukup dekat dengan orang tua Vanya.
"Makasih buat malam ini ya Van,"
"Aku yang harusnya bilang makasih, lain kali kita wajib hangout bareng Andra dan juga Hanna, kita udah lamaa banget nggak jalan bareng."
"Kalau kamu ke rumah oma, kamu main aja kerestaurant Andra yang di jakarta, kita selalu disana, Hanna juga."
"Pacar kamu nggak dibawa pulang Rei?" Celetuk Vanya memgagetkan Reinard.
"Hahh pacar?"
"Iya, masa selama hampir 4 tahun diparis nggak punya pacar?"
"Kalo nggak, kamu percaya?"
"Iihhh kamu nih dari duluu selalu bertele-tele," ucap Vanya geram sambil menarik kuping Reinard.
"Vanyaa, Vanyaaa, iisshhhh sakit tau, kamu ni kebiasaan dari dulu ya!" Gerutu Reinard.
Vanya yang melihat tingkah Reinard menjadi tertawa. Rasanya apa yang dulu menjadi kebiasaan mereka terulang lagi, Vanya yang cerewet, Reinard yang begitu jahil, dan Andra yang pendiam dan genius dulu, hari-hari mereka lalui dengan penuh canda tawa, walau kadang terjadi selisih paham tapi itu cuma sesaat.
~
.
Mereka telah sampai didepan rumah Vanya, sebelum turun dari mobil, Reinard berusaha mengintip rumah itu dari kaca jendela, sebelum akhirnya disadarkan oleh Vanya untuk turun. Mereka lalu melangkahkan kakinya kedalam rumah, Niken yang sudah dari tadi menunggu Vanya di teras pun kaget melihat kedatangan Reinard. Dia menatap Reinard dari atas sampai kebawah untuk memastikan apa anak itu adalah Reinard teman Vanya waktu kuliah dulu. Reinard yang melihat tingkah Niken lalu tersenyum kemudian menjabat tangan Niken.
"Tante apa kabar?" Ucap Reinard sopan.
"Baik, ini kamu? Reinard kan?" Jawab Niken dengan ragu.
Mendengar penjelasan putrinya Niken langsung memeluk Reinard lalu dipandang wajah bocah yang dulu selalu bermain bersama Vanya.
Kalian tau, aslinya Reinard adalah teman masa kecil Vanya, ia berpisah sejak kelas 1 SMA dan bertemu lagi Saat memasuki dunia perkuliahan.
"Rasa nya tidak percaya setelah sekian lama akhirnya kamu dateng kesini, ayo masuk!" Ucap Niken sambil menuntun tangan Reinard.
Mereka lalu menghampiri Davi yang tengah duduk disofa. Reinard menampakan dirinya didepan laki-laki paruh baya itu, lalu dia berdiri sambil melihat ujung kaki Reinard sampai pada akhir nya berhenti di wajah Reinard, dengan senyum yang begitu manis lalu Reinard menyapa Davi.
"Selamat malam om apa kabar?"
Lama sesaat kemudian dia menepuk nepuk pundak Reinard,
"kamu sudah dewasa sekarang." Ucap Davi sambil memeluk Reinard.
Mereka lalu berbincang diruang tamu, berbagai pertanyaan keluar dari bibir masing-masing untuk menceritakan setiap kejadian yang udah pernah terjadi di kehidupan mereka selama berpisah. Ruang tamu yang dulu selalu sunyi terasa begitu hangat dengan canda tawa, entah kenapa pertemuan malam itu serasa pertemuan dengan anak laki-laki mereka yang sudah lama menghilang dan kini kembali ketengah-tengah kehidupan mereka.
Reinard yang dari tadi terlalu sibuk dengan obrolannya sampai lupa bahwa malam sudah semakin larut, dia lalu berpamitan kepada Vanya, Davi dan juga Niken.
Mereka lalu mengantarkan Reinard sampai kedepan teras.
"Makasih tante, Reinard seneng banget bisa ketemu om sama tante." Ucap Reinard. Vanya yang mendengar ucapan Reinard berdesis.
"Oh, jadi senengnya cuma karena mama papa, ketemu aku nggak seneng gitu." Sindir Vanya sambil menyunggingkan bibirnya.
"Ciee ada yang cemburu." Ucap Reinard sambil mengacak-acak rambut Vanya.
"Seneng kok, seneng banget malahh hiiii." ucap Reinard sambil meringis, saat Vanya menatap nya dengan tajam.
"Rei, akhir pekan ini ajak mama kamu makan malam ke rumah oma ya, Rei!" Cletuk Niken.
Vanya yang mendengar rencana mamanya langsung berdesis bahagia.
"Vanya setuju ma, dan kamu harus bawa tante Ratih kerumah oma kalo nggak awas aja!" Desis Vanya setengah mengancam Reinard.
"Iya, nanti Rei sampaiin ke mama, pasti mama seneng banget, kalau begitu Rei pulang dulu om tante, Van." ucap Reinard berpamitan.
Vanya mengantar Reinard menuju mobil nya.
"Rei, soal surat itu." Celetuk Vanya sebelum Reinard masuk kedalam mobil.
"Udah nggak usah dibahas, apapun yang terjadi aku tetep sayang kamu." Keduanya bertatapan Reinard melihat mata Vanya mulai merah berkaca-kaca.
"Kayaknya mau ujan ya, Van?" Ledek Reinard.
"Iihhh Reinard nyebelin." Desis Vanya sambil memukul lengan Reinard ringan,dia lalu memeluk tubuh Reinard hidungnya mulai menghirup aroma maskulin yang menempel dibadannya, telinganya mendengar dekupan jantung Reinard berirama, seolah malam itu adalah malam dimana dia menemukan kembali sandaran yang selalu membuatnya nyaman yang telah hilang beberapa tahun lalu.
Niken dan Davi yang masih berdiri didepan teras menyaksikan adegan anak gadis nya itu. Mereka tau kalo Vanya dan Reinard sudah sangat dekat, bahkan disaat dia tinggal dibandung bersama Davi, Niken juga mempercayai Reinard untuk menjaga Vanya.
Vanya lalu melepaskan pelukan nya, tapi tangannya masih melingkar dipinggang Reinard.
"Don't be sad,I'm here." Ucap Reinard sambil memegang dagu Vanya.