My Future Is You?

My Future Is You?
24. Kembalinya orang di Masa Lalu.



Para murid di kelas 12 IPA 1 kini tengah menikmati surga duniawinya karena guru yang seharusnya mengajar hari itu mendadak tidak bisa mengajar karena harus pulang.


Tahu kan bagaimana setiap murid SMA kalau mengetahui gurunya tidak bisa datang? Mereka langsung membentuk sebuah perkumpulan, dari anak perempuan membentuk grup gosip sampai anak laki-laki yang langsung memainkan ponselnya, bahkan ada juga yang bermain bola di kelas.


“Jam satu, jam dua, jam tiga, kau tak datang datang, jam empat, jam lima jam enam, hari mulai petang, jam tujuh, delapan, sembilan, kok nyamuk yang datang... ” Cello bernyanyi dengan mengangkat jempolnya tinggi - tinggi.


“Yok, nyanyi bareng semuanya, gue banting pintu, tarik selimut, bobo ganteng aja,” nyanyi Cello dengan sedikit mengubah lirik lagu.


“Aduh, malu gue punya pacar kayak dia, ” Sinan menutup mukanya dengan buku.


“Harap bersabar, ini ujian, ” celetuk Deo.


“Eh, eh, bang Jono kenapa kau tak pulang- pulang. Bang Toyib kali ah, nggak pulang pulang, ” William setelah bernyanyi berfikir sejenak.


“Lo nyanyi yang mana sih, Will? ” tanya Cello.


“Nggak dua duanya, gue mau nge-DJ, ” William kemudian menarik meja anak perempuan, setelah itu dia mengambil laptop milik Beni si wakil ketua kelas dengan paksa.


“Lo yang bawa kamera vidioin kita - kita, ” ucap William kepada Annie, gadis yang memakai kacamata.


“Buat apaan? ”


“Nggak usah banyak tanya. ”


William kemudian berjalan ke arah tasnya dan mengambil spidol, setelah itu dia maju kedepan lagi. Tatapan matanya tertuju ke arah botol air mineral yang tinggal setengah. Dia merebutnya dan merobek mereknya.


“Woi, gue baru minum setengah, Will! ” semprot Afip berkacak pinggang.


“Elah, pelit amat lo. Gue beliin sepuluh botol nanti! ” William kemudian mengambil air mineral itu secara paksa.


“Minta kertas dong! ” ucap William.


“Buat apaan lagi? Nggak cukup air gue lo rampok? ” sewot afip.


“Nggak ikhlas banget sih, sama gue? ”


“Bodoh amat! ”


William mencibir ke arah Afip, kini dia beralih menatap Cello dengan melas.


“Minta kertas sama minjem buku lo dong. ”


Cello mendesah, “Gembel! ” Dia kemudian melemparkan buku yang masih mulus alias masih belum ada tulisan apa apa pada William. Kecuali nama, nomor absen, dan kelasnya.


Cello Kelvino, 03, IPA 1 SMATA.


Ya seperti itulah cara menamai buku Cello, singkat dan sederhana. Sesuai isi catatannya.


William kemudian meletakkan buku Cello di meja sebelah laptop milik Beni tadi. Dia membukanya seperti laptop. Setelah itu dia menuliskan ‘Wine’ di kertas yang dia robek dari buku Cello, dan setelah itu dia meletakkan nya di botol air mineral Afip.


Vanno, Deo dan Cello menatap bingung ke arah salah satu sahabat nya itu. “Dia ngapain, sih? ” tanya Vanno datar.


“Tau, emang kurang kerjaan banget tuh anak! ” jawab Deo.


William kemudian mengambil hoodie hitam miliknya dan memakainya. “Cell, pakai jaket lo! ” ucap William.


“Hah? Buat apaan deh lo, Will? Jangan malu maluin gue. Ya walaupun lo emang malu maluin sih, ” cibir Cello.


“Sialan lo. Udah pakai aja! ”


Dan akhirnya Cello menuruti ucapan William.


“Van ikutan kuy, ” ajak William.


“Nggak!”


William kemudian memakai topi Roby dengan terbalik, setelah itu dia mengeraskan volume sound di kelasnya. Tangan William memutar musik milik Jack U feat Kai, Mind, kemudian dia jingkrak- jingkrak.


“Seru nih kayaknya, ” Cello langsung berlari ke arah William yang sedang asyik bertepuk tangan mengajak teman temannya mengikuti alunan musik.


William sok- sokan menggerakkan laptop nya padahal lagunya hanya itu. Deo yang melihat kegilaan teman temannya langsung ikut maju sambil jingkrak jingkrak. William kini bahkan sudah naik ke atas meja.


Lagu telas berganti pada milik Yellow Claw, 𝚃𝚒𝚕𝚕 𝚒𝚝 𝙷𝚞𝚛𝚝, William semakin heboh saja, ditambah lagi ada Doni yang bertugas menghidup nyalakan lampu membuat seakan mereka berada di klub malam. Annie yang bertugas membawa kamera itu sesekali tertawa terbahak-bahak.


Vanno yang melihat kelakuan teman temannya itu langsung menggelengkan kepala, dia tetap diam di tempat duduknya sambil merekam dan mengirimnya kepada Vanya, beginilah tingkah anak-anak di kelasnya.


“Yooo! Semuanya, one two, one two three, ” William loncat dari atas meja, semua penghuni kelas langsung berjoget joget ria.


Anak-anak yang lewat langsung berhenti dan menikmati pemandangan. Karena William tidak segan - segan melepas seragamnya dan memutar mutarnya. Cello mengambil botol yang bertuliskan Wine tadi dan meminum nya tanpa melepas tutup botolnya, bisa dibilang hanya gaya.


“Astagaa,” Vanno geleng-geleng kepala. Mending dia ke kantin.


Cowo itu kemudian pergi meninggalkan ketiga sahabatnya.


★ ★ ★ ★ ★


“Hai, Vanno! ” ucapan centil itu tiba-tiba memekakkan telinga Vanno yang sedang minum.


“ Ondel-ondel datang, ” cibir Vanno.


Entah sejak kapan Ikky sudah duduk di samping nya dengan menyandarkan kepalanya di pundak Vanno, tak segan- segan Vanno langsung menghindari gadis itu.


𝙱𝚊𝚑𝚊𝚢𝚊 𝚗𝚒𝚑 𝚊𝚗𝚊𝚔, batin Vanno.


“Lo ngapain sih? ” tanya Vanno ketus.


“Cuma mau bilang, pacar kamu besok pulang. Terus aku gimana? ” tanya Ikky dengan wajah melas.


“Mati aja. ”


“Ih jahat, jadi aku sama pacar kamu yang sekarang, mati aja? ” tanya Ikky.


“Kalau dia jangan. Lo aja yang mati! ” Vanno kemudian bangkit dari duduknya.


“Vanno jahat deh! ” rengek Ikky dengan manyun manyun.


“Guys, sini gue punya ide, supaya Vanno itu bisa pisah sama cewe sok cantik itu! ” ucap Ikky pada teman-temannya dengan wajah menyeringai.


Ikky membisikkan rencananya kepada kedua temannya.


“Ini bakal seru, ” ucap Petrice dan dibalas anggukan oleh Fanesa.


“Banget, siapkan mentalmu Vanya, ” senyum sinis terukir di bibir Ikky.


★ ★ ★ ★ ★


Vanya yang menundukkan kepalanya di atas meja tidak menyadari kalau ada orang yang memperhatikan nya sejak tadi.


Kebetulan juga kelas Vanya sedang jam kosong jadi dia bisa leha-leha sebentar.


“Van, lo diapelin pacar tuh, ” ucap Dania mengguncangkan lengan gadis itu.


“Siapa? ”


“Kak—” ucapan Dania terhenti ketika laki-laki itu memotong ucapannya.


“Hai, ” sapa Vanno dengan suara beratnya.


Vanya langsung menegakkan badannya menatap orang itu. “Eh? Ngapain disini? ”


“Kangen. Ikut aku yuk, ” ajak Vanno. Laki-laki itu merendahkan badannya bertujuan untuk menyejajarkan tubuhnya dengan gadis di depan nya sekarang.


“Mau kemana sih? Mendingan aku disini, belajar, ” Vanya menelungkupkan kepalanya lagi.


Vanno menggeleng pelan, lucu sekali pacarnya itu, katanya sih mau belajar tapi kok tiduran?


“Katanya mau belajar, kok tidur? ” tanya Vanno dengan nada menggoda.


“Siapa yang tiduran? ”


“Itu tadi ngapain? ”


“Meremin mata, tapi nggak tidur kok, sumpah, ” jari Vanya terangkat membentuk huruf V.


Tawa Vanno keluar begitu saja ketika mendengar jawaban dari pacarnya. Vanno juga mengacak rambut Vanya gemas.


“Pengen cepet aku nikahin, ” celetuk Vanno.


“Mulutnya! ”


“Ya udah, ikut aku yuk, ” Vanno menarik lembut tangan Vanya sehingga mau tidak mau Vanya beranjak dari tempat duduknya.


★ ★ ★


“Ngapain ngajak kesini, sih? Nggak niat macem macem, kan? ” tanya Vanya was was saat Vanno mengajaknya ke rooftop SMA pelita.


“Enggak kok, cukup satu macem aja, ” tatapan Vanno menyeringai ke arah Vanya.


“Ish, mukanya jangan gitu! Serem tahu! ” Vanya dengan cepat menjaga jarak.


Lagi-lagi Vanno tertawa dengan keras karena tingkah polos pacarnya. Vanno kemudian merengkuh Vanya ke dalam pelukannya. Detakan jantung keduanya membuat mereka semakin mempererat pelukannya. Mereka saling menikmati waktu bersama. Vanno tidak tahu kapan dia akan meninggalkan Vanya, melupakan kebersamaan mereka yang sudah berjalan cukup lama itu.


𝙱𝚎𝚛𝚊𝚝 𝚛𝚊𝚜𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚒𝚗 𝚕𝚘, Vanno sesekali mencium puncak kepala Vanya.


Sedangkan gadis yang merasakan adanya perubahan sifat di diri Vanno itu merasakan sesak di dadanya. Jelas-jelas dia merasakan detakan jantung Vanno untuk dirinya. Bohong kalau Vanya tidak mengerti artinya, karena dia bisa paham perasaan seseorang. Ah, mungkin hanya pikirannya saja.


“Duduk disana, yuk? ” ajak Vanno.


Vanya mengangguk dan kini dia mengikuti langkah Vanno yang berjalan ke arah tempat yang sedikit teduh di rooftop.


Vanno menjatuhkan bokongnya di sofa buntut disana dan dia menarik pelan pergelangan tangan gadisnya untuk duduk di sampingnya.


Vanya hanya mengikuti perintah lelaki di sampingnya tanpa membantah sedikit pun.


Setelah keduanya sama-sama duduk, keheningan menyelimuti. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Embusan angin menerpa rambut Vanya sehingga sesekali menutupi wajah gadis itu. Vanno yang tidak sengaja melihat kelucuan wajah Vanya saat menyingkirkan rambutnya itu terkekeh.


𝙶𝚞𝚎 𝚗𝚐𝚐𝚊𝚔 𝚝𝚎𝚐𝚊 𝚋𝚞𝚊𝚝 𝚗𝚐𝚘𝚖𝚘𝚗𝚐 𝚗𝚢𝚊, batin Vanno.


“Kak? ” panggil Vanya.


Vanno menoleh. “Kenapa, sayang? ”


“Sebenarnya ngapain ngajak aku kesini? ” tanya Vanya bingung.


Vanno menghela nafasnya, “Enggak apa apa kok, cuma mau ngasih tahu kalau ini tempat yang cocok buat orang yang lagi galau, ” ucap Vanno dengan pesan tersirat.


Vanya yang bingung hanya menaikkan sebelah alisnya.


“Maksudnya apaan sih, kak? Aku nggak ngerti? Kakak galau? ” tanya Vanya sedikit pas sasaran.


Vanno hanya tersenyum dan malah mengacak rambut Vanya pelan. Tangannya terulur untuk menyandarkan kepala Vanya ke pundaknya. “Van? ” panggil Vanno.


“Iya? ”


“Kalau misalnya kamu punya pacar yang udah ninggalin kamu tanpa sebab itu gimana? ” tanya Vanno.


“Ya aku bakal nyari tahu kenapa dia ninggalin aku gitu aja. Emang kenapa? ” tanya Vanya.


“Hah? Eng—enggak apa apa, ” jawab Vanno sedikit tergagap.


“Kamu sayang nggak sama aku? ” tanya Vanno.


“Banget, kak Vanno nggak? ” kini Vanya bertanya balik.


“Aku sayang sama kamu, ” balas Vanno.


𝙺𝚘𝚔 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝 𝚢𝚊 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚎𝚛 𝚓𝚊𝚠𝚊𝚋𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚔 𝚅𝚊𝚗𝚗𝚘 𝚐𝚒𝚝𝚞? Vanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh berfikiran negatif. Vanya menjauhkan kepalanya dari pundak Vanno. “Aku mau ke kelas duluan, kak. Takut kalau gurunya tiba-tiba datang, ” bohongnya, setelah itu Vanya pergi dari hadapan laki-laki itu.


Ada rasa kehilangan ketika Vanya meninggalkan dirinya, dan rasanya tidak seperti saat ditinggalkan Darra.


“Satu sisi gue udah nyaman sama lo, tapi Darra bakal balik lagi. Gue harus gimana? Jujur gue udah nggak ada rasa sama dia, ” Vanno mengerang frustasi karena apabila Darra kembali dengan masih membawa cintanya mau tidak mau dia harus putus dengan Vanya, karena Vanno tidak mau di anggap melupakan masa lalunya. Kalau Darra kembali dan bersikap cuek, dia akan bersama dengan Vanya.