My Future Is You?

My Future Is You?
56. [ S2 ] Terluka kembali oleh orang yang berbeda.



~Ragamu memang selalu dalam dekapanku tapi hatimu tidak~


.


.


.


Tiga bulan berlalu sejak hari pernikahan itu, hari demi hari mereka lalui penuh dengan kebahagiaan, Dion yang begitu menyayangi Vanya, Vanya selalu saja mampu membuat Dion jatuh cinta berkali-kali.


Semenjak menyandang nama Nyonya divendra, Vanya memutuskan untuk berhenti bekerja diperusahaan Dion, sekarang Vanya juga tinggal dirumah Dion. Selepas keluarnya dari pekerjaan nya, Vanya menghabiskan waktunya membantu merawat widia yang kondisinya sudah setengah lumpuh, meskipun tidak sepenuhnya karena sudah ada suster yang merawatnya tapi widia begitu bahagia saat menantunya itu selalu memberi perhatian lebih.


Dion juga menjadi semakin sayang kepada Vanya setelah tau bahwa dia begitu menyayangi mama nya.


~


Perubahan sangat terlihat dari hidup Vanya, Vanya yang dulu hanya gadis manja seperti tuan putri kini setelah menikah berubah secara drastis, dia bisa menjadi wanita dewasa dalam sekejap bahkan dia mampu mengayomi widia yang sekarang menjadi ibu nya.


Sikap mandiri Vanya yang dulu tidak pernah dia tunjukan sekarang nampak begitu jelas pada dirinya.


Selepas menikah Vanya dan Dion sengaja menunda untuk berbulan madu karena seminggu setelah pernikahan mereka, kondisi widia kembali kritis dan sampai pada akhirnya dokter memvonis widia lumpuh.


Namun meskipun begitu tidak menjadi masalah buat keduanya bahkan Vanha malah lebih memilih untuk menjaga widia.


Kebahagiaan demi kebahagiaan begitu nyata mereka rasakan, sikap childish Vanya mendadak hilang setelah berstatus menjadi istri Dion. Vanya nampak begitu dewasa dan pandai menjaga sikapnya yang dulu masih suka emosi.


Namun sayang kebahagiaan yang selama 3 bulan menyempurnakan pernikahan mereka retak, saat Vanya melihat suaminya tengah bermesraan dengan wanita lain diruangan kerjanya.


.


(Flashback)


Siang itu Setelah selesai memasak Vanya berniat untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya, dia begitu exited menyiapkan makanan itu senyum nya tidak pernah lepas dari bibir mungilnya itu. Setelah selesai menyiapkan makanan Vanya lalu bersiap diri, dengan pakaian casual yang menjadi favourite nya Vanya kemudian pamit kepada widia yang tengah duduk ditaman belakang rumah bersama suster.


-


Setelah menelusuri jalanan yang cukup ramai, taxi yang membawa Vanya terparkir didepan kantor Dion, Vanya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya untuk membayar taxi.


Vanya kemudian melangkahkan kaki Masuk kedalam gedung tersebut, saat Vanya tengah menunggu lift, terdengar suara yang tidak asing melengking memanggil Nama Vanya.


"Renaaataaa!" Pekik Ratna sambil berlari kearah Vanya.


Vanya yang melihat Ratna langsung merentang tangan nya yang tengah membawa lunch box untuk Dion.


"Kangeennn, lo sering-sering main kesini dong, Van," oceh Ratna sambil memeluk Vanya erat.


"Ini kan gue udah disini, dan lo juga bisa kali Rat, main kerumah," ucap Vanya sambil merenggangkan pelukan nya.


"Ya kali mau ketemu lo, terus bawain makan siang gitu," celetuk Vanya.


"Udah Ada lift, lo mau balik keruangan lo kan? Ayookk!" Desis Vanya.


Namun saat Vanya mau Masuk kedalam lift tangan nya ditahan oleh Ratna, dia seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak mau diketahui oleh sahabatnya itu.


"Eehhh, nanti dulu, Kita ngobrol dulu disofa!" Ucap Ratna sambil menarik tangan Vanya.


"Kok drama banget sih Rat, nanti ini makanan keburu dingin nggak enak nanti, kamu mau masuk nggak, aku tutup nih lift nya!" Ucap Vanya saat sudah berada didalam lift.


Ratna nampak sedang berfikir keras sampai-sampai Vanya juga ikutan bingung dengan sikap Ratna yang mendadak berubah.


"Hello, Ratna, mau Masuk nggak?" Ucap Vanya menyadarkan Ratna.


Dia lalu berlari kecil Masuk kedalam lift, bibirnya yang dari tadi tidak berhenti berbicara Tiba-tiba menjadi diam membisu, dalam hati berdoa agar tidak terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu siang ini.


Saat lift sudah mengantarkan mereka ke top floor, Vanya langsung berjalan menuju ruangan Dion, saat Vanya sudah berada didepan ruangan Dion, Vanya melihat sesuatu Dari Balik pintu yang sedikit terbuka, dia melihat sosok wanita tengah bermesraan dengan suami nya, sementara Ratna yang sengaja melambatkan langkahnya untuk memastikan kalau Vanya tidak melihat apa yang sedang khawatirkan. Tapi, saat Ratna sudah sampai didepan pintu ruangan kerjanya Tiba-Tiba terdengar benda jatuh yang cukup keras, dia langsung membalikan badan nya Dan melihat box makanan yang barusan dibawa Vanya jatuh berserakan didepan ruangan Dion. Vanya lalu berlari pergi Dari tempat itu Dan Dion menyadari kehadiran Vanya langsung mengejar nya, namun, Vanya sudah Lebih cepat Turun melalui lift. Raut wajah dion nampak begitu bingung, sementara Ratna yang melihat kejadian itu hanya berdiri kaku, kakinya nampak begitu berat saat mau mengejar sahabatnya itu.


-


Begitu sampai dirumah Vanya langsung naik kelantai atas menuju kamarnya, widia yang saat itu tengah berada diruang makan bersama suster melihat Vanya dengan wajah yang penuh dengan air mata, lalu beberapa menit kemudian Dion pulang, dia langsung menuju kamarnya diatas, widia yang menyaksikan kejadian itu semakin bingung.


"Van, Vanyaaa," ucap Dion sambil mengetuk pintu kamar.


"Buka pintu nya, Van, aku bisa jelasin Van," ucap Dion yang masih berdiri didepan pintu, tapi lagi-lagi Vanya tidak bergeming untuk membuka pintu, Dion yang tidak kehabisan akal lalu menuju sebuah laci untuk mencari kunci cadangan.


Pintu kamar berhasil dibuka oleh Dion, mata Dion langsung mencari sosok istrinya yg tidak nampak didalam ruangan tersebut, dia terus menuju kamar mandi yang pintunya tertutup rapat, Dion langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk pintu Vanya yang mengetahui kedatangan Dion lalu keluar dari kamar mandi, Vanya kemudian duduk diujung ranjang tempat tidurnya dengan mata yang sembab.


"Sayang, semua nggak seperti apa yang Kamu lihat!" Ucap Dion lalu duduk disamping Vanya.


"Aku sama dia cuma temen, gak lebih Van!"


"Cuma temen kamu bilang, kalo emang Cuma temen lalu itu tadi apa? Jawab Vanya dengan suara gemetar.


"Kamu percaya kan, Van, sama aku, aku bisa pasti in kalo aku sama dia nggak Ada hubungan special!" Ucap Dion yang masih berusaha meyakinkan Vanya.


"Aku mempercayaimu sepenuhnya sebagai laki-laki yang tidak Akan menghancurkan hatiku, seperti masa Laluku. Tapi kenyataan nya apa? Kamu sama seperti dia, kamu nggak Cuma hancurin hati aku, tapi kamu juga hancurin kepercayaanku!" Kali ini suara Vanya terdengar sangat emosi.


Dion yang berada disampingnya hanya diam.


Vanya kemudian beranjak dari duduk nya, dia lalu berdiri didepan jendela kamar. Pandangan nya kosong menatap kearah luar jendela, matanya masih memerah dengan air mata yang masih menetes, hatinya Terasa seperti teriris iris saat mengingat kejadian tadi.


Dion yang masih duduk lalu menghampiri Vanya, didekapnya tubuh Vanya Dari belakang wajahnya terlihat seperti penuh dengan kesalahan. Dia kemudian menghembuskan nafasnya berat, lalu menyandarkan kepalanya dipundak Vanya.


To be continue