My Future Is You?

My Future Is You?
28. Diam mu adalah hal yang paling aku benci



Vanya yang terbaring di ranjang rumah sakit berusaha tidak mengeluarkan isak tangisnya karena melihat bayangan kekasihnya yang tengah bermesraan dihadapannya. Bagaimana Vanya bisa tahu?


......................


Flashback On


*Vanya hanya sedikit memejamkan matanya dan menajamkan pendengaran nya. Perbincangan Vanno dan Darra yang kelihatannya asyik itu membuat mereka berdua melupakan Vanya yang baru sadar. Hal yang ingin dilihat Vanya pertama kali adalah kehadiran sosok lelaki yang menjabat sebagai pangeran di hatinya. Namun, pangeran yang dia idam-idamkan untuk menemaninya saat dia tertidur itu malah berpindah ke lain hati. Sungguh miris sekali.


"Gimana nih Van, kalau dia marah?" Darra menyandarkan kepalanya di bahu Vanno.


"Lo bujuk dia, lo ngomong sejujurnya. Coba lo bilang ke gue," suruh Vanno.


Darra menautkan kedua alisnya, dia menatap laki-laki di depannya dengan bingung.


"Maksud lo?"


"Ungkapin perasaan lo ke gue," Ucap Vanno.


Lagi-lagi Darra kaget, saat ingin bertanya apa maksud ucapan Vanno tersebut. Laki-laki itu langsung menyelanya.


"Anggap gua Daren. Jangan baper!" Jawab Vanno dengan nada berbisik.


"Yeee, lo aja yang baper sama gua," keduanya pun tertawa bersama seperti tidak ada beban diantara mereka. Sedangkan Vanya yang mendengar merasa hatinya perih.


"Oke, gue mau bilang kalau lo itu adalah orang yang gue suka sejak dulu. Lo cowok yang bisa buat gue ketawa walaupun nggak ada yang lucu. Ketika gue deket sama lo, entah kenapa hati gue rasanya nyaman banget. Emmm, lo mau balikan nggak sama gue?" Darra menggoda Vanno.


"Oke."


Jleb. Sakit yang dirasakan Vanya sekarang tidak begitu mengenai hatinya. Tapi jawaban dari laki-laki itulah yang membuat hatinya seakan-akan dilempari pisau yang menancap pas di tengah jantungnya yang kemudian merembet ke hati.


Gua di anggap apa sih? pikir Vanya. Cairan bening itu perlahan-lahan mengalir ke pipi Vanya. Dia tidak tahu lagi harus melakukan apa. Andai saja tangannya tidak ada infus sialan yang melekat, sudah dipastikan dia akan langsung mendesak Vanno. Apa yang barusan di maksud laki-laki itu?


Tidak hanya itu saja yang didengar oleh Vanya. Satu fakta lagi yang membuat hati dan perasaan Vanya sakit, yaitu ketika Vanno mengungkit masalah penyakit nya. Padahal dia hanya sesak nafas saja. Bukan masalah sangat serius.


"Vanno?" panggil Darra sehingga cowok itu menolehkan kepalanya menjadi menatap Darra.


"Alasan lo milih Vanya apa kalau gue boleh tahu?"


pertanya sepele tapi sangat menyita perhatian Vanya. Dia penasaran apa yang akan di jawab oleh kekasihnya itu.


Lelaki itu awalnya bingung mau menjawab apa, gadisnya itu sungguh sangat sempurna sehingga Vanno tidak bisa mengungkapkan nya dengan kata-kata. Sehingga sebuah ide tercetus di dalam otak nya, tanpa pikir panjang dan memikirkan akibatnya ketika dia mengucapkan itu, Vanno langsung menjawab dengan membawa-bawa penyakit Vanya.


"Gue harus jagain Vanya, karena dia itu sakit. Gue nggak mau dia kenapa-napa. Dia itu tanggung jawab gue," Seperti itulah jawaban yang diberikan Vanno kepada Darra.


Hal yang di anggap Vanno sebagai masalah kecil itu ternyata berbeda dengan kenyataannya. Justru itu adalah puncak di mana kesabaran seorang Vanya Callista telah habis.


"Kalau kamu terpaksa, aku bakal akhiri drama ini," Gumam Vanya dengan lebih memiringkan kepalanya agar dia tidak melihat kemesraan dua orang itu*.


......................


Flashback Off


Vanya menggigit bibir bawahnya, sudah lima hari sejak Vanya diperbolehkan pulang oleh dokter, selama itu juga Vanya dan Vanno menjadi tak saling mengenal setiap bertemu. Apabila mereka berpapasan dengan terpaksa Vanya mengalihkan tatapannya atau memutar jalannya.


Berita putusnya Vanno dan Vanya juga sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Apalagi mengingat bahwa Vanno adalah famous person di sekolah and most wanted. Pasti cewek-cewek di sekolah langsung menyiapkan jurus jitu untuk memikat Vanno.


Nata yang mengakui putusnya Vanya langsung menghujani berbagai pertanyaan yang membuat kepala gadis itu pusing . Tapi kerana Nata typical cowok bawel, dia tetap saja melontarkan banyak pertanyaan, yang tentu saja hanya Vanya jawab sekenanya.


Rasa rindu yang hingga di diri Vanya membuat gadis itu tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan tenang. Sejak tadi, dia hanya menatap makanan di depannya dengan tidak berselera.


"Haduh, Van. Lo mau sampai kapan galau begini?" Tanya Dania prihatin.


"Gue nggak galau!" elak Vanya.


Kenzo mencibir, "Anak curut juga tahu kalau lo itu gagal move on dari Vanno!"


"Diem lo. Jangan bawa-bawa nama dia!" semprot Vanya menatap tajam Kenzo.


"Dulu aja waktu jadian yang diomongin dia. Eh waktu udah putus sok nggak kenal, basi," cibir Kenzo memutar kedua bola matanya malas.


Tapi sejenak kemudian tatapan tajam milik Dania menangkap sosok orang yang baru saja mereka bahas. Kini orang itu tengah memandang ke arah mejanya.


"Ken?" panggil Dania.


"Apa?"


"Oke. jadi ada apaan lo mukul-mukul paha gue? Lo nafsu sama gue?" Tanya Kenzo dengan penuh selidik.


"Idih, Amit-amit. gue mau bilang dari tadi si kak Vanno natap kita, eh Ralat, maksudnya natap Vanya," tutur Dania setengah berbisik.


"Keinget mantan kali," celetuk Kenzo.


Entah dari mana datangnya pasukan bebek, tiba-tiba mereka sudah membuat area kantin rusuh. Namanya juga pasukan bebek, anggotanya Ikky, Patrice , dan Vannesa.


Darra? Dan tidak ikut mereka lagi tapi gadis itu sekarang ikut dengan gengnya Vanno. Hal tersebut salah satu faktor yang membuat Vanya lebih Cemburu padahal status mereka sudah mantan.


"Eh, ada mantannya Vanno lagi meratapi nasib karena udah putus, ya? Lo sih ngeyel dibilangin!" kompor Ikky dengan gaya bicara yang angkuh.


Gue sumpahin lo nyungsep, Batin Dania geram saat dia melihat sahabatnya diolok oleh cewek genit itu.


"Lo dibilangin apa Van?" seakan-akan tersadar ucapan Ikky, Kenzo langsung menatap gadis itu tajam.


"Apaan deh lo? Nggak usah nyolot jadi adik kelas!"


"Gue nggak nyolot sama kakak kelas. Tapi tingkah dan perlakuan lo ini yang bikin gua naik darah!" tatapan Kenzo menusuk ke arahnya.


"Biasa aja dong lo-" timpal Patrice.


"Apa lo?" Sewot Dania membela Kenzo.


"Tanggal ulang tahun lo berapa,hah? Sini, biar gue kadoin kaca. Nanti lo bisa lihat model lo sendiri!" cerocos Dania tidak terima ketika temannya dihina. Apalagi Vanya hanya diam saja.


Seseorang yang sejak tadi memperhatikan Vanya itu menatap nya sedih. Seharusnya dia bisa melindungi gadis itu m Tapi dia ingat, dia hanya mantan.


"Niat lo baik, Van. Sana gih lo samperin," seakan-akan Darra itu cenayang, dia menyuruh Vanno untuk melindungi gadis itu.


Darra mengangguk. Saat Vanno hendak bangkit dari tempat duduknya, namun dia telah didahului oleh Daren.


"Sial," Maki Vanno.


"Hmmmm, antara mantan dan calon pacar," celetuk Cello


"Diem lo!"


"Kalem, Van," sahut William.


"Ini bukan waktunya, Van," Memang Darra menyemangatinya, tapi Vanno tahu ada rasa sedih dalam diri gadis itu. Tatapan matanya sudah bisa mewakili semuanya.


Apabila kalian berfikir kalau Darra sakit hati karena Vanno perhatian terhadap Vanya itu adalah salah besar. Darra itu cemburu dengan Vanya karena Daren itu selalu memandangnya sebagai tokoh antagonis. Padahal perasaan dan hatinya untuk Daren. Vanno? Bagi Darra laki-laki itu adalah sahabatnya. tidak lebih. Memang sih Darra adalah masa lalu Vanno. Tapi saat Vanni sudah menemukan penggantinya dia akhirnya memutuskan untuk move on. Dan suatu perasaan membuatnya sadar bahwa ada seseorang yang menunggunya lebih lama dari Vanno. Ya, dia adalah Daren.


...****************...


"Vanya, tolong ambilkan hasil ulangan kelas kamu di meja ibu, ya?" Bu Nara meminta tolong.


"Baik buk," Jawab Vanya


Vanya kemudian meminta izin untuk mengambil hasil nilai ulangan itu di ruang guru. Dia berjalan sendiri sambil bersenandung. Tiba-tiba ada sebuah tepukan kecil yang mendarat di pundaknya, membuat Vanya berjingkat kaget.


'Hai?" sapa orang itu.


"Kak Darra?" Tanya Vanya tidak yakin.


"Hai, Vanya. Ada waktu buat kita ngomong nggak?" tanyanya.


"Aduh, maaf kak. Aku disuruh Bu Nara buar ngambil hasil ulangan," tolak Vanya.


Darra mengangguk, "Oh, oke deh . Ya kapan-kapan aja ya, satu lagi, Vanno itu cinta sama lo. Bye, Vanya" Setelah mengucapkan hal itu Darra pergi dengan cepat.


Vanno cinta sama lo.


Kalimat itu terus terngiang di kepala Vanya. Sampai-sampai dia tidak menyadari bahwa dia telah menabrak seseorang, Vanno. Tubuh Vanya bahkan telah berada di dalam pelukan Vanno. Rasa rindu dan canggung menjadi satu dalam diri mereka.


"Sorry," Vanno langsung membatu Vanya berdiri.


Vanya mengangguk, dia kemudian menatap mata Vanno. Demi apa pun, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Lelaki di depannya pun merasa sama, tapi dia memang pandai mengontrol ekspresinya, jadi tidak terlalu di lihat oleh Vanya.


"Gue pergi dulu ya,kak," Vanya kemudian meninggalkan Vanno yang masih diam mematung.


Diammu adakah hal yang paling aku benci. Batin Vanno.