
"sayang aku tunggu depan cafe disebrang kantor kamu ya!.."
Tulis Vanno singkat memberi tahu Vanya.
Vanya yang baru saja keluar lift pun langsung berjalan menuju cafe yang Vanno maksud. cafe itu tidak terlalu jauh dari tempat kerja Vanya terkadang Vanya dan rekan kerja nya menikmati makan siang di j'aime cafe.
Butuh waktu 10 menit untuk sampai dicafe tersebut. Vanya melihat Vanno yang sedang menyandarkan tubuhnya sambil memainkan gadgetnya, tubuh Vanno yang tinggi dan atletis itu nampak begitu sempurna apalagi balutan kemeja yang dia kenakan menambahkan kegantengan nya itu.
"Sayangg." sapa Vanya dengan senyum semringahnya.
Vanno yang tadi serius dengan gadgetnya tersenyum melihat kedatangan Vanya.
"Maaf yah udah nunggu lama." ucap Vanya yang sudah berada didepan Vanno.
"Iya nggak apa-apa kok..kita pulang sekarang yahh?" ucap Vanno sambil menyingkapkan rambut Vanya yang berhamburan tertiup angin.
Mereka sudah berada didalam mobil Vanno dan siap untuk membelah jalanan yang ramai.
"Vanya ?" ucap Vanno menyadarkan Vanya dari lamunannya.
"Iya,ada apa Van?"
"Besok malam mama undang kamu makan malam dirumah..kamu mau kan? "
"besok dirumah, kok nggak biasa nya, ada apa yah, ada acara apa ya Van?" tanya Vanya penasaran.
"Temen mama dari australia dateng terus mama undang makan malam kerumah." jawab Vanno yang masih fokus mengarahkan.
"Ooohhh." Vanya mengangguk pelan. Bukan berarti paham tapi intinya Vanya masih nggak percaya.
gimana nggak percaya coba, hampir 3 tahun mama Vanno tidak mengundang Vanya ke rumahnya, kalau Vanya main kerumah Vanno, mamanya selalu mengurung diri dikamar seolah menolak ketemu sama Vanya secara halus. Lalu kali ini secara tiba-tiba ngundang dia untuk makan malam dirumahnya.
Vanya berusaha membuang jauh-jauh kekesalan buruk tentang mama nya Vanno, dia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela Vanno yang dari tadi terlalu fokus sehingga hanya suasana hening yang tercipta.
"Makasih ya sayang,hati-hati bawa mobil nya!" ucap Vanya setelah sampai didepan rumah nya yang tidak kalah megah nya dengan rumah Vanno.
"Sayang besok aku nggak bisa jemput yah." ucap Vanno sambil memegang tangan Vanya.
Vanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.
Van.." ucap Vanno dengan suara yang terdengar marau, lalu Vanno menarik tangan Vanya sampai Vanya jatuh kepelukannya.
Vanno memeluk Vanya secara tiba-tiba membuat Vanya semakin bingung, dipeluknya tubuh Vanya dengan sangat erat, dalam kebingungan Vanya menenggelamkan kepalanya ke dalam dada bidang Vanno, lalu Vanno mengecup kening Vanya cukup lama.
"Aku sayang kamu Vanya, apapun yang terjadi."
Mendengar ucapan Vanno, Vanya menjauhkan dirinya dari dekapan Vanno.
Vanya mengernyitkan dahinya, dengan senyum yang hangat Vanno membelai rambut Vanya, berusaha menutupi apa yang sebenarnya sedang Vanno rasakan saat ini.
"Udah masuk gih! Jangan lupa mandi terus makan yahh!" Ucap Vanno sambil memcubit kedua pipi Vanya.
Tapi Vanya tidak menghiraukan kata-kata Vanno. Pikiran nya masih berkecimpungan dengan sikap Vanno.
"Maksud kamu apa barusan Van? Aku sayang kamu apapun yang terjadi nanti, emang kamu nggak sayang sama aku? Kenapa sikap kamu seperti ini sih? kamu kenapa?"
"I just need time with you, just us you and me." Ucap Vanno bisik ditelinga Vanya, kemudian mengecup pipi Vanya sambil lari masuk ke dalam mobil.
~Biar hati ini yang memilih~
.
.
"Mah..." ucap Vanno ketika memasuki rumah.
"Kamu udah sampaikan pada Vanya, Van?" Langkah Vanno terhenti ketika mendengar pertanyaan mamanya.
Dengan langkah kaki terseret Vanno menghampiri mamanya.
"Vanno nggak bisa mah, kalau harus lakuin ini sama Vanya, Vanno sayang sama Vanya. apa mama nggak bisa batalin niat konyol mama ini? Ini hati Vanno biar Vanno yang nentuin mah." Ucap Vanno pelan.
"Mama tau yang terbaik buat kamu, pokoknya kamu harus lakuin apa yang mama suruh!" timpal Kiran. (Mama Vanno) dengan egonya.
Vanno meninggalkan mamanya tanpa izin dia sangat kecewa sama mamanya, wanita yang seumur hidup selalu mengerti, dia tiba-tiba menghancurkan perasaan dan kebahagiaannya.
Vanno melempar blazernya ke atas tempat tidur, dipandangi foto didalam bingkai meja diatas ruang tidur.
Dia melihat lekat-lekat potret itu, foto dimana Vanno dan Vanya pertama kenal di SMA Pelita tempat mereka menimba ilmu.
Tidak ada yang salah dengan kisah cinta mereka, mereka saling mencintai, mereka juga begitu bahagia meski ada pertengkaran-pertengkaran kecil, tapi itu adalah bumbu dalam menjalin sebuah hubungan.
Tapi kebahagiaan itu terusik sejak beberapa bulan yang lalu, dimana Kiran yang meminta Vanno untuk melakukan hal yang konyol itu.
Apa dia bisa menyakiti hati wanitanya lagi yang begitu ia cintai. Apa dia bisa menggantikan posisi Vanha dengan wanita lain? Vanno tidak pernah membayangkan jika itu benar-benar terjadi, pasti Vanya akan sangat membencinya dan hati Vanya pasti akan sangat hancur. Setelah hampir 6 tahun lama mereka saling berjuang tapi salah satu dari mereka harus mundur, dan menghancurkan semua impian yang sudah mereka idamkan.
~
****************
Lelaki itu adalah Nata, kakak Vanya yang kini sedang bekerja dinegeri kanguru.
Vanya tersenyum. Biasanya kalau dirumah mereka selalu bertengkar, dan dalam sejenak berbaikan tapi semenjak kepergian kakaknya, Vanga selalu merasa kesepian,hanya mama dan papanya lah yang selalu menemani Vanya.
Vanya meletakan kembali fotonya lalu dia menelusuri setiap bingkai foto yang berjajar rapi didinding, mata Vanya terhenti ketika melihat sosok yang tengah tertawa lepas berdua bersama Vanya.
Dia itu sahabat Vanya, sejak duduk dikelas 1 SMA, mereka begitu dekat bahkan kedua keluarga mereka juga dekat, tapi kini sudah hampir 6 tahun dari kelulusan SMA Vanya tidak pernah mengetahui sahabatnya itu. No telpon sudah tidak aktif bahkan rumah sahabatnya itu sudah habis. Entah apa salah Vanya kenapa mereka pergi tanpa pamit
.
.
Malam itu Vanya nampak begitu cantik dalam balutan dress berwarna hitam dengan sedikit hiasan manik-manik. Sentuhan make up yang sederhana membuat wajah Vanya merona.
Dia melihat jam dinding dengan kaki yang sesekali mondar-mandir di atas lantai membuat Vanya kelihatan cemas menanti Vanno.
Deg deg an karena mau ketemu mamanya Vanno. Itu hal yang wajar apalagi ini diundang dan ada orang luar dalam acara itu.
Wajah Vanga kembali semringah ketika melihat sebuah mobil berwarna putih berhenti didepan rumahnya, lalu dia berdiri dan menyambut Vanno dengan senyum manis yang selalu sukses bikin cowo lumer.
"Hai."
"sayang,kamu cantik banget!" ucap Vanno sambil memperhatikan Vanya.
"Maaf yah telat jalanan lumayan macet soalnya."
"Iya nggak apa-apa kok sayang."
"Mama sama papa ada nggak? Kita pamit berangkat sekarang yah?" Ucap Vanno sambil mengintip lewat pintu.
"Mama sama papa udah ngedate duluan katanya mau nonton movie, kita berangkat aja takut mama kamu nunggu lama." Ujar Vanya.
Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir didepan rumah Vanya, tanpa menunggu lama Vanno langsung membawa mobilnya membelah jalanan yang padat suara klakson bersautan seolah ingin berlomba.
Setelah 30menit menempuh perjalanan mereka sampai dirumah Vanno. nampak sebuah mobil Mercedes hitam terparkir dihalaman rumah Vanno.
Van kok aku mendadak deg deg an gini Van?" celetuk Vanno sebelum turun dari mobil.
"Mana coba sini aku dengerin jantung kamu siapa tau mau loncat." goda Vanno pada Vanya.
Vanya pun mencubit lengan Vanno lalu turun dari mobil. Vanno menggenggam tangan Vanya seolah memberi isyarat kalau semua baik-baik saja, sekaligus mengalirkan semua kegundaaan hati. Iya Vanno takut kalo malam ini adalah malam terakhir bersama Vanya. Dia takut kalo mama nya akan melakukan aksinya saat ini juga.
Vanno membawa Vanya menelusuri ruang sampai pada akhir sampai disebuah meja makan yang berada di teras belakang.
"Malam tante." sapa Vanya dengan sopan.
"Vanya, kamu makin cantik aja. Kenalin ini tante tamara teman tante dan ini angel anaknya!" Ucap Kiran memperkenalkan.
Vanya menyapa kedua wanita yang baru dia kenal, sementara Vanno hanya berdiri mematung dan saksi bisu drama yang tengah Kiran rencanakan.
"Sayang duduk yah!" Ucap Vanni sambil menarik sebuah kursi untuk Vanya.
Diujung sana nampaknya angel sedang sibuk mencuri pandang dengan Vanno, matanya tidak pernah lepas dari pandangan Vanno. Vanya yang mengetahui aksi itu pun merasa geli dan risih. Sementara Vanno dia sama sekali tidak melirik wanita itu.
Setelah selesai makan malam mereka bersua diruang keluarga. Vanno dan Vanya hanya menyimak, sementara angel dia masih tetap menikmati keindahan wajah Vanno.
"Mah.. Vanno cari angin dibelakang sama Vanya yahh..." ucap Vanno sambil menggandeng tangan Vanya.
Kiran hanya menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua berjalan menuju sebuah gazebo yang ada ditepi kolam renang.
"Van, kamu kenapa sih daritadi diem aja, sebenernya kamu sama angel ada apa sih? Dari tadi aku perhatiin dia juga menatap kamu sangat intim!" Tanya Vanya yang membuat lidah Vanno kelu untuk menjawab semua pertanyaan Vanya.
Vanno memeluk tubuh Vanya dari belakang,dia menyandarkan dagunya dipundak Vanya. Vanya merasakan hembusan nafas Vanno yang begitu hangat meniupi lehernya.
"Sayang kamu cemburu sama angel?" Bisik Vanno.
"Aku nggak cemburu Van, tapi aku merasa ada yang aneh antara kamu sama angel. Dia itu anaknya temen mama kamu tapi ketika kamu ketemu dia, seolah kamu nggak bahagia, apa karena ada ak—" Belum selesai bicara tangan Vanno membungkam mulut Vanya lalu membalikan tubuh Vanya sampai akhirnya mata mereka bertatapan.
Vanno mendekatkan wajahnya dia menatap mata Vanya semakin dalam.
"Tatap mata aku Van! Semua jawaban dari pertanyaanmu ada dimataku. Aku bahagia karena kamu selalu ada disamping aku,dan wanita itu memang tidak aku harapkan kehadirannya."
Mendengar ucapan Vanno, Vanya menundukkan pandangannya, didekapnya tubuh Vanno dengan erat. Suasana malam semakin sunyi, hanya mereka berdua ditempat itu. Rembulan yang nampak bersinar terang seolah menjadi saksi bisu kemesraan mereka.
"Vanno....!" Tiba-tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Vanno.
Vanya yang tengah berada dalam pelukan Vanno lalu menoleh ke arah suara itu. Nampak malaikat dengan senyumnya dan langkah juntainya hendak menghampiri mereka.
"Haii..Can I join with you?" Ucap angel dengan bahasa inggrisnya.
Vanya yang menyambut angel dengan senyum ramah nya pun mempersilahkan angel.
"Tentu bisa" Jawab Vanya tersenyum.
Lagi-lagi Vanno tidak melirik wanita yang baru saja menganggu waktu nya bersama Vanya. Sebenernya angel cantik dengan mata berwarna coklat legam,hidung mancung pipi tirus tinggi layaknya model dan badannya yang langsing mungkin bisa menarik cowo dengan mudah. Tapi kenapa seorang Vanno tidak meliriknya sama sekali...?
"Van? udah malem,kamu aku anterin pulang yah,?" ucap Vanno seolah tidak mau bersua dengan angel.