My Future Is You?

My Future Is You?
43. [ S2 ] Seminar



~aku tidak pernah membenci kamu,aku hanya kecewa~


.


.


.


Malam itu Vanya mendapat Chat dari Dion, dia memberitahu Vanya kalo besok lusa akan ada seminar diluar kota dan Dion meminta Vanya untuk ikut selama 3 hari 2 malam. Meski mereka sudah semakin dekat dan akrab tapi keduanya tetap professional dalam bekerja, Vanya yang tetap santun kepada Dion sebagai atasannya begitu juga sebaliknya. Setelah membaca pesan dari Dion, Vanya lalu memberi tahu mamanya dan meminta izin. Niken yang sudah begitu mempercayai Dion juga mengizinkan Vanya begitu saja.


Vanya kemudian mengemas semua barang yang harus dia bawa. Ini adalah kali pertama Dion mengajak Vanya  seminar karena biasanya dia selalu handle sendiri, dia hanya dimintai untuk menyiapkan semua berkas-berkas saja.


Dia lalu meraih hp yg tergeletak diatas kasur, kemudian menulis pesan singkat kepada Dion.


_"Pak, untuk seminar kali ini kita dikota mana ya pak?"_ Tulis Vanya singkat.


Beberapa saat setelah pesan terkirim ternyata Dion tidak membalas pesannya melainkan menelpon. Dengan canggung Vanya lalu menjawab telepon Dion.


"Halo pak," Ucap Vanya terbata.


"Apa? Pak? Sejak kapan aku menikah sama mama kamu?" Celetuk Dion dari ujung telepon nya.


"Aku kan udah bilang berkali-kali, diluar jam kerja kita nggak usah pak atau apalah! Berasa tua banget aku tau Van."


"Heeeheee iya-iya, gitu aja langsung ditelepon." Oceh Vanya tidak mau kalah dengan Dion.


"Oh iya besok seminarnya dimana?"


"Jakarta pusat Van! Kamu udah siap-siapkan semua barang bawaannya? Udah dikemas kan?"


"Udah boss dont worry, Dion boleh usul nggak?" Tanya Vanya ragu.


"Apa?"


"Kita nggak usah nginep dihotel yah, nginep dirumah oma aku aja kebetulan rumahnya deket banget sama tempat seminar kita, gimana?"


"Kita discusi lagi besok ya, sekarang kamu tidur biar nggak kesiangan! Good night Van, sweet dreams." Ucap Dion mengakhiri panggilan nya.


_Vanya kemudian meletakkan ponselnya. Tuhan semoga dia menerima tawaran ku untuk nginep dirumah oma, aku nggak siap tuhan nginep dihotel."_ Ucap Vanya dalam hati sambil menggosok-gosok kan kedua telapak tangannya.


~


Pagi itu dikantor Vanya bekerja nampak sangat sibuk, semua karyawan berlalu lalang kesana kemari dengan sebuah file ditangan nya.


"Vanya," seseorang memanggilnya dia lalu membalikkan badannya.


"Ratnaa, gue kira lo gak balik kerja kesini lagi." Celetuk Vanya saat mengetahui kedatangan ratna.


"Yee,,itu si mau lo biar gak ada yang rusuhin lo." Desis ratna.


Setelah hampir satu bulan lebih cuti akhirnya ratna kembali kekantor itu.


"Gue kangen ama lo tau rat. Lo lama banget sih cutinya, udah kelar kan urusan nya, kalo ambil cuti lagi nanti aku pecat kamu." Omel Vanya sambil menepuk-nepuk bahu ratna.


" Iya bu bos, saya paham, mentang-mentang udah jadian ama pak bos sekarang bisa ngancem-ngancem gitu ya lo Van,"


"Oh iya, besok gue mau seminar di Jakarta sama pak bos, lo rekap kerjaan gue ya! Biar pulang-pulang nggak numpuk."


"Ogaahhhh." Ucap Ratna sambil berjalan meninggalkan Vanya.


Vanya yang merasa geram lalu mengejar Ratna.


"Mau ya, nanti aku ajak kamu liburan." Ucap Vanya menggoda.


"Nggak Van, nggak, pokoknya nggak, nanti aku bilangin ke calon suami kam—" Belum selesai ngomong tiba-tiba Ratna menggantungkan kata-kata nya. Dia melihat sosok Dion yang sudah ada didepan nya.


"Pagii pak," sapa Ratna dengan salting.


Dion hanya tersenyum lalu melirik kearah Vanya.


"Van, bisa kamu keruangan saya sekarang?"


"Baik pak, saya akan segera kesana." Vanya kemudian mengikutin langkah Dion.


_Ada apa sih nggak biasanya dion manggil aku pagi-pagi gini, apa ada yang salah dari laporan ku kemarin ya?_ Gerutu Vanya menerka-nerka dalam hati.


Setelah sampai diruangan Dion mereka lalu duduk disofa,


"Ada apa ya pak, apa ada yang salah laporan kemarin?" Tanya Vanya membuka pembicaraan.


"Nggak ada kok Van, setelah makan siang sepertinya kita udah harus berangkat karena mereka mengundang kita dinner bareng malam ini, kamu bisa kan?"


"Hah habis makan siang pak? Tapi aku belum bawa barang-barang  saya pak."


"Aku anterin kamu pulang ya, buat ambil barang-barang kamu terus kita langsung ke Jakarta!"


"Tapi mobil saya bagaimana pak?"


"Masalah mobil gampang, ayo aku anter kamu pulang!" Ucap Dion sambil bangun dari tempat duduknya. Dia lalu menggandeng tangan Vanya disepanjang koridor, setiap karyawan yang melihat pasti berbisik, maklum meski belum ada ikatan yang pasti tapi kedekatan keduanya udah banyak yang tahu terutama Ratna.


~


Setelah mengambil barang bawaan nya Dion dan Vanya berangkat ke Jakarta, Dion yang selalu diantar oleh sopir pribadinya kali ini dia menyetir sendiri dan hanya mereka berdua yang ada didalam mobil itu.


"Pak, soal penginapan, gimana kok tawaran saya nggak ada respon." Celetuk Vanya memecahkan keheningan.


Dion diam sejenak sambil memperhatikan jalanan yang memang padat merayap.


"Hmm, kamu yakin gak mau nginep dihotel aja? Ini gratis loh Van, lagi pula kita juga nggak sekamar."


Mendengar ucapan Dion, Vanya seolah tersinggung.


_Bagaimana cowo tau kalo masalah nya itu, kenapa juga dia bisa berfikiran kayak gitu._


" Iya aku tahu pak, tapi jujur, aku nggak suka, kalau nggak, bapak nginep dihotel terus aku nginep dirumah oma aja ya?" Celoteh Vanya.


Saat lampu merah dan mobil berhenti Dion mengalihkan tatapan nya kepada Vanya.


" kamu kenapa sih kayak takut kayak gitu, kamu takut aku bakal macem-macem sama kamu kan? Kemaren kamu juga mau kan." Goda Dion mengingat kejadian di wedding waktu itu.


"Iiihhhh Dion, nyebelin banget sih kamuu. Nih, mamam nih, cubitan kepiting."


"Aaww aaww sakitt Vann," Teriak Dion kesakitan saat Vanya mencubit lengannya.


"Iya-Iya, kita nginep dirumah oma kamu, lepasin cubitan nya sakit tauu."


Dion hanya mengangguk-anggukkan kepala nya membenarkan.


"Yeeaayy thank you."


_Yess finally mau juga dia_. Ucap Vanya dalam hati.


Setelah membelah jalanan yang begitu padat dan macet akhirnya mereka sampai dirumah oma.


Dion memarkirkan mobil nya kehalaman rumah itu.


"Ini rumah oma kamu Van?" Ucap Dion sambil melihat sekeliling.


"Iya."


"Gede banget, oma kamu sendirian tinggal disini atau—"


"Nggak, sama tante aku, dulu waktu aku masih sekolah aku tinggal disini tapi sejak aku masuk SMA dan kuliah, ikut mama, di Jakarta cuma oma sama tante."


"Oohhh...."


Setelah berbincang sesaat mereka lalu turun dari mobil lalu masuk kerumah itu, Anita yang tengah duduk santai diruang tv kaget melihat kedatangan cucunya itu bersama seorang laki-laki.


"Malam oma,,," ucap Vanya sambil memeluk Anita, Dion yang berada dibelakang Vanya lalu tersenyum dan memberi salam kepada Anita.


"Kok kamu nggak bilang mau dateng sih sayang?"


"Iya oma ini dadakan, besok Vanya mau ada seminar disekitar sini jadi mampir." Jelas Vanya.


"Ini siapa kok nggak dikenalin ke oma?" Selidik Anita sambil melirik kearah Dion.


"Ini Dion oma bos Vanya dikantor." Gumam Vanya memperkenalkan.


"Saya Dion oma, rekan kerja Vanya." Ucap Dion memperkenalkan diri.


"Jadi nanti kita nginep disini boleh kan oma?" Izin Vanya kepada omanya.


Mendengar ucapan Vanya, Anita mengernyitkan dahi nya. Dengan sigap Dion lalu menjelaskan yang sesungguhnya.


"Begini oma, malam ini kita diundang makan malam dan seminar oleh client kita, dan sebenernya juga udah disediain hotel gratis oma, cuma Vanya nya aja yang takut aku bertindak bebas jadi dia minta untuk nginep disini." Jelas Dion panjang lebar.


Anita lalu tertawa mendengar penjelasan Dion.


"Ya ampun kamu Vanya. Udah gede juga masih kayak gitu, kalau kayak gitu juga nggak apa-apa, boleh ko,"


"Tapi Van, kamu bantuin oma bersihin kamar tamu dulu yah! Udah lama nggak ditempatin soalnya."


Vanya langsung bangkit dari tempat duduknya lalu duduk disebelah Anita.


"Oma ngizinin kita nginep disini?"


"Iya boleh, kan oma juga jadi ada temen nya."


"Ya udah kalo gitu Vanya bersihin kamar nya dulu,


Kamu duduk disini aja sama oma nggak apa-apa kan?" Tanya Vanya pada Dion.


Belum juga menjawab, Vanya lalu pergi kebelakang mencari si mbok dengan semangat.


Sementara Dion dia masih duduk manis diruang tamu bersama dengan Anita. Entah apa yang mereka perbincangkan tapi pertemuan pertama mereka bisa membuat mereka akrab.


Setelah selesai membersihkan kamar, Vanya kemudian kembali menghampiri Dion dan Anita dengan nafas terengal-engal dengan rambut yang dikuncir kuda, celana pendek dan tanktop yang melekat pada tubuhnya.


"Selesai oma." Ucap Vanya sambil melemparkan tubuhnya kesofa.


"Kamu ini nggak sopan, masa didepan bos kamu pakai baju kayak gitu." Celetuk Anita kepada Vanya.


Vanya yang tersadar lalu meraih cushion yang ia duduki lalu meletakkan dipangkuannya.


Dia meringis kearah Dion. "Hihi maaf yaa."


Dion hanya melirik kearah Vanya sambil menyembunyikan senyumnya.


~


Kini keduanya sudah siap untuk pergi keundangan makan malam itu entah dejavu atau apa, mereka mengenakan baju yang seirama. Vanya yang cantik dalam balutan dress berwarna pink sementara Dion dia mengenakan t-shirt berwarna light pink dan blazer putih 3/4. Anita tertegun ketika melihat kedua anak manusia itu bibirnya lalu berceletuk ringan.


"Kalian serasi sekali cantik dan ganteng." Celetuknya.


Dion dan Vanya saling bertatapan lalu tersenyum tipis mendengar celetukan Anita.


"Oma kita pamit dulu yah." Ucap Vanya.


mereka lalu bersalaman dan pergi menuju sebuah restaurant.


"Kamu cantik banget malam ini." Puji Dion kepada Vanya.


"Modus." Desis Vanya pelan, namun sayang telinga Dion begitu tajam dia bisa mendengar ucapan Vanya.


Apa kamu bilang? Kurang jelas aku dengarnya." Ucap Dion sambil menarik telinga Vanya.


Vanya lalu meringis kesakitan.


"Iihh sakit, kamu nakal banget." Gerutu Vanya sambil mengusap-usap telinganya.


Vanya yang selalu bersuara manja layaknya anak kecil selalu sukses bikin Dion tertawa, meski usianya sudah tidak bocah lagi tapi entah kenapa suara itu masih menggemaskan.


Dion sudah berhenti didepan sebuah restaurant lalu dia membuka ponselnya untuk memastikan alamat restaurant itu.


"Kita udah sampai Van, ini restaurantnya." Ucap Dion.


Bukan mengiyakan ucapan Dion, dia malah menggerutu sendiri.


_Kayaknya aku nggak asing sama restaurant ini, dan dulu kayak nya namanya bukan "Hanandra's"._ Batin Vanya


Dion yang lagi-lagi mengetahui tingkah Vanya, dia kembali menarik telinga Vanya.


"Vanyaaa, ayoo turun!" Ucap Dion dengan senyum manisnya.


"Nggak usah jewer-jewer juga kali." Ucap Vanya jutek dia lalu melepaskan seatbelt yang masih menempel dibadannya.