My Future Is You?

My Future Is You?
08. Ngapain sih Van, lo kesini? ll



“Iya lah! Lo nyebutin doang aja lamanya setahun! Berdiri di sana, tungguin gue ngasih hukuman! ” jawab Cello.


Vanya yang tidak terima pun memprotes kepada Cello karena cowok itu pasti sudah merencanakan hal yang membuat nya rugi. “Kok gitu sih kak? ”


“Ya bisa lah, kenapa? Mau protes? Maaf ya, ini bukan kantor anggota dewan. Jadi lebih mending nunggu hukuman yang gue kasih! Sana, ” usir Cello.


Vanya meningalkan barisannya untuk berjalan ke sudut lapangan dan segera mencari tempat yang teduh. Cello yang berhasil membuat Vanya dihukum pun tertawa puas. William yang menyaksikan itu hanya menggeleng kan kepalanya.


“Sadis banget lo sama adek kelas! Mana bisa sepuluh hewan dalam lima detik! Emang jawaban yang benar apaan?” William menatap Cello, menaikkan sebelah alisnya bingung.


Cello kini membalikkan badannya untuk menatap William yang sepertinya sudah terlanjur 𝚔𝚎𝚙𝚘 dengan jawaban pertanyaan tadi.


“Jawabannya itu lima singa lima harimau! 𝚂𝚎𝚎? Cepet, kan? Nggak ada lima detik itu tadi. Dasar itu anak aja yang lelet! ” jawab Cello enteng.


“Jawaban lo ngaco banget kayak hidup lo! ” jawab William ketus.


“Apaan, deh. Kalau gitu, adik adik, kita lanjut lagi, oke? ” kini Cello mengalihkan arah pembicaraan mereka dan mulai melanjutkan permainannya bersama para peserta MOS.


★ ★ ★ ★ ★


“Lo ngapain di sini? ” Vanya menolehkan kepalanya saat terdengar ada yang mengajaknya berbicara.


“Menurut lo? ” Vanya bertanya balik. Dia menggerutu kesal. Sudah jelas - jelas dia dihukum, pakai nanya segala. Mungkin kalau laki-laki itu bukan kakak kelasnya dia sudah menendang nya ke antartika.


“Gue kan nanya! Kenapa lo malah balik nanya? ” tanya Vanno.


Vanya memutar kedua bola matanya malas. “Seperti apa yang lo lihat, gue dihukum.”


“Lo curhat? ” tanya Vanno.


“Tadi kan lo nanya! ” jawab Vanya.


“Oh.”


Vanya mencibir, “Nyebelin banget sih ni orang. ”


“Ya udah, nikmatin aja hukuman lo. ” setelah berkata begitu, Vanno pergi meninggalkan nya. Vanya hanya menatap cowok itu dengan terheran- heran.


“𝙵𝚒𝚔! Pengen gue jedotin kepalanya ke tembok! ”


Sedangkan laki-laki itu tetap berjalan dengan angkuhnya sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana nya. Mata mata adik kelas maupun teman seangkatan nya menatap Vanno kagum.


“Ngapain sih Van, lo kesini? Bikin adek kelas gagal fokus tahu nggak! ” Cello menatap sahabat nya sambil cemberut.


“Kak Vanno, Ya Tuhan. Nggak kuat, hayati! ”


“Gantengnya 𝚎𝚟𝚎𝚛𝚍𝚘𝚜𝚒𝚜 parah! ”


“Mau dong gue jadi pacarnya! ”


Dan masih banyak celetukan - celetukan dari mereka yang mengaku 𝚏𝚊𝚗𝚜 Vanno. Tapi laki-laki itu hanya diam saja.


“Lo ngapain ngehukum dia? ” tanya Vanno menunjuk ke arah Vanya yang tengah mengibas - ngibaskan tangan nya kepanasan.


Cello kemudian memandang ke arah tatapan Vanno.


“Ohh itu—”


Saat Cello ingin menjawab, tiba-tiba William menyerobot nya.


“Biasa lah, Cello 𝚋𝚊𝚙𝚎𝚛 sama dia, ” ucap William dengan cengirannya.


Vanno menaikkan sebelah alisnya. “Serius? ”


“Engg......., ” ucapan Cello berhenti lagi.


“Iya Van, ” jawab William.


“Jangan deketin dia!” Kata Vanno cepat, kemudian melenggang pergi.


“Temen lo lama lama kayak jalangkung, ” ujar William sambil Bergidik ngeri.


“Iya, sama kek lo! ” jawab Cello.


“Ehh? ”


“kenapa setiap gua mau ngomong, lo langsung nyerobot sih? ” tanya Cello


“Ohh, ada lah, alasannya, ” jawab William


“Hmm, yaudah terserah lo mau ngapain, ”


★ ★ ★ ★