
~jika kamu menanyakan apakah aku bahagia dengan pernikahan ini.....?~
.
.
.
.
.
"Sayang apa baju kamu cukup buat 2 minggu!" Teriak Dion ketika tengah menyiapkan keperluan untuk bulan madu.
"Sayang, Kita kan bisa cuci baju disana, jadi nggak perlu bawa banyak-banyak!" Sahut Vanya.
Setelah perjalanan panjang yang penuh lika liku dalam rumah tangga yang mereka lewati, mereka memutuskan untuk bulan madu.
Keadaan Vanya sekarang sudah pulih kembali bahkan mereka sudah tidak tinggal bersama orang tua Vanya lagi, dan semua masalah rumah tangga yang selama ini menjadi belenggu sudah menemui titik terang.
Dion telah menceritakan semua tentang wanita yang selama ini Vanya cemburui itu, ya wanita itu bernama Catherine dia adalah wanita dimasa lalu Dion waktu kuliah di UK dan kedatangan nya dalam hidup Dion bukan untuk merebut atau menghancurkan rumah tangga Dion dan Vanya, tapi untuk meminta bantuan Dion buat mengurus pernikahan nya dengan kekasihnya itu, karena Dion satu-satu nya temen yang Ada di jakarta.
Tentang widia yang sudah tidak Ada juga sudah disampaikan oleh Dion sebulan Setelah Vanya pulang dari rumah sakit, awal nya Vanya tidak percaya, tapi waktu Dion membawa kepemakaman widia dan melihat Nama widia terpahat dibatu Nisan, Vanya baru percaya.
~Jakarta - Aus~
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya mereka sampai dinegara tujuan mereka bulan madu, yaitu Australia, raut bahagia terpancar dari wajah keduanya. Dan akhirnya setelah berbagai cobaan yang menimpa mereka sekarang waktunya untuk memulai kehidupan yang baru lagi.
Mereka memilih untuk menyewa sebuah Villa dikawasan Brisbane, daripada harus menginap dihotel. Karena divilla jauh Lebih tenang daripada dihotel l, yaa meskipun apa-apa Serba sendiri tapi itu lebih asiik buat pasangan yang baru menikah.
Setelah sampai dibandara mereka langsung menuju villa bersama dengan jemputan private travel yg sudah Dion booking.
~Villa~
Setelah sampai mereka langsung memasuki villa tersebut lalu melihat sekeliling ruangan. Villa itu cukup besar untuk mereka berdua dengan fasilitas yang begitu memadai ditambah kolam renang yang terletak dihalaman belakang menghadap kesebuah pantai membuat Vanya begitu antusias.
"Gimana, kamu suka nggak sayang sama villa nya?" Celetuk Dion saat berada dihalaman belakang.
Vanya lalu menarik nafas panjang dan tersenyum menatap Dion kemudian meraih kedua tangan nya.
"Suka banget sayang, makasih ya, kamu udah bawa aku kesini!" Ucap Vanya kemudian memeluk Dion.
"Oh iya, aku kan belum kasih lihat kamar kita, ikut aku yuk!" Ucap Dion sambil menggandeng tangan Vanya.
Vanya kemudian melepaskan pelukannya lalu mengikuti Dion menuju kamar mereka yang terletak dilantai atas, setelah sampai mereka langsung memasuki kamar itu.
"Sayang, kok kamu romantis banget sih!" Ucap Vanya memuji Dion kagum.
"Are you happy?" Tanya Dion sambil mengusap rambut Vanya.
"I'm more than just happy, aku sangat beruntung punya kamu!" Lirih Vanya, keduanya lalu berpelukan.
Ketika sore menjelang Vanya dan Dion berenang dikolam renang yang tersedia sambil menikmati sunset. Keduanya tenggelam dalam gurauan selama berada didalam kolam, gelak tawa yang begitu jarang terdengar diantara keduanya kali ini menjadi hiasan paling indah dalam hidup mereka.
~romantic dinner~
Siang pun berlalu setelah sejenak beristirahat, malam itu Dion mengajak Vanya untuk makan malam bersama disebuah cafe, Vanya memakai evening dress berwarna maroon sementara Dion memakai kemeja putih dan stelan jas berwarna hitam, setelah selesai berkemas mereka lalu berangkat menuju cafe menggunakan Mobil yang sudah tersedia.
Dion lalu membawa mobilnya membelah jalanan yang cukup ramai itu, angin malam sesekali membelai rambut Vanya membuat sedikit berantakan.
"Udah lama banget aku nggak ke sini, ternyata udah banyak banget perubahan ya!" Celetuk Vanya sambil melihat keluar jendela.
Dion yang tengah fokus menyetir hanya melirik kearah Vanya sambil tersenyum. Setelah hampir 15 menit mereka sampai disebuah restaurant, restaurant itu terlihat sangat mewah dengan deretan mobil yang dibanderol harga ratusan hingga milyaran itu terparkir didepan restaurant.
Dion sudah menanggalkan seatbelt dan keluar dari mobilnya dia lalu membukakan pintu Mobil Vanya yang masih terdiam didalam sana.
Vanya lalu tersenyum dan meraih tangan Dion kemudian mereka memasuki restaurant tersebut.
Irama musik yang mengalun menambah kesan romantis suasana didalam, Vanya dan dion sengaja memilih meja yang berada diujung menghadap sebuah pantai.
Setelah selesai makan malam dan scroll around Brisbane mereka lalu kembali ke villa, Vanya yang duduk disebelah Dion nampak sudah mengantuk sampai-sampai kepala Vanya sesekali membentur jendela mobil, Dion yang melihat tidak tega lalu menyandarkan kepala Vanya kepundaknya meskipun dia merasa sedikit susah untuk menyetir.
Setelah beberapa menit, Dion sudah sampai didepan villa tempat mereka menginap.
Dion lalu menoleh kearah Vanya masih tertidur pulas, dia kemudian keluar dari mobil lalu menggendong Vanya sampai keteras villa. Vanya terbangun saat Dion tengah kesulitan mencari kunci villa.
"Sayang, kok kamu nggak bangunin aku?" Celetuk Vanya.
"Sudah turunin aku, kamu susah kan buka pintunya?" Gerutu Vanya sambil menepuk-nepuk pundak Dion.
Setelah pintu terbuka mereka berdua langsung menuju kamar dilantai 2, Dion membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sementara Vanya dia masih sibuk didepan meja rias membersihkan make up diwajahnya. Setelah selesai membersihkan makeup nya Vanya lalu menuju kesebuah almari yang berisi baju-baju mereka untuk mengambil baju tidur untuk dirinya dan juga Dion.
"Sayang, ganti baju dulu!" Ujar Vanya sambil mengusap kening Dion.
Mendengar Vanya yang sudah ada diatas kepala nya, Dion lalu menurunkan hp yang dari tadi menggantung diatas wajahnya, Dion lalu memiringkan posisi tidur nya sampai kedua wajah mereka berhadapan dengan jarak yang Cuma beberapa inchi saja.
Wajah Vanya mendadak jadi tegang saat Dion mendaratkan sebuah kecupan dilehernya, jantungnya mendadak berdegup lebih kencang seolah ini adalah kali pertama mereka bercumbu, Dion mencoba bangun dari posisinya yang tepat berada diatas Vanya saat mengetahui wajah Vanya begitu tegang dan seperti orang yang ketakutan, tapi entah apa yang merasuk kedalam pikiran Vanya malam itu dia menahan lengan Dion dan menatap mata Dion begitu tajam.
"Kamu kenapa?" Tanya Vanya tanpa mengedipkan matanya.
"Nggak, aku ganti baju dulu ya!" Ucap Dion dia lalu duduk ditepi ranjang, Vanya memandang punggung Dion mematung kemudian dipeluknya punggung itu dengan erat.
"Maafin aku ya, aku belum bisa jadi istri yang baik dan sempurna buat kamu, jangankan kasih kamu keturunan, untuk melayani kamu laki-laki yang sudah sah jadi suami aku setahun ini, aku nggak pernah...aku pingin bahagiain kamu kayak kamu bahagiain aku, aku juga pengen punya anak dari kamu biar Kita nggak kesepian!" Bisik Vanya tepat ditelinga Dion membuat Dion sedikit kaget dengan ucapannya barusan.
"Ada kamu disisi aku itu udah cukup buat aku bahagia, Van, dan aku juga nggak mau memaksa untuk melakukan hal itu!"
"Aku nggak terpaksa, ini kemauan aku sendiri, dan sudah jadi kewajiban aku sebagai istri!" Ucap Vanya sambil mendorong tubuh Dion sampai terbaring.
Dion hanya terdiam dan kaget melihat sikap Vanya yang tidak seperti biasanya, entah setan mana yang tengah merasuk kedalam tubuh Vanya, sampai-sampai dia begitu bringas untuk memulainya, padahal sejak pertama kali menikah dia sama sekali tidak pernah merespon Dion saat diajak berhubungan intim.
Tapi mungkin malam itu sudah menjadi keberuntungan tersendiri buat Dion yang sudah sabar menunggu selama setahun untuk bisa menyentuh istrinya sendiri.