My Future Is You?

My Future Is You?
39. [ S2 ] Liburan




~**aku mencoba menerimamu dikehidupan ku**~



 



.


.


Setelah pertemuannya dengan Vanno sore itu, Vanya berharap tidak akan terulang lagi. Kedekatan nya dengan Dion semakin nyata ada nya, mereka yang sering menghabiskan waktu berdua disaat ada waktu senggang.


Minggu ini Dion berniat untuk mengajak Vanya liburan ke suatu tempat. Dion hanya ingin menghibur hati Vanya yang masih retak itu.



Pagi itu Vanya sudah bersiap-siap menunggu Dion. Niken yang melihat putrinya, tersenyum bahagia.



"Sayang, Dion belum datang?" Ucap Niken dibalik pintu.



"Belum mah, sebentar lagi kayaknya." Ucap Vanya sambil melihat arlojinya.



Matanya mengintip kedepan pintu gerbang mencari mobil Dion. Setelah beberapa saat mobil hitam milik Dion berhenti didepan pintu gerbang.


Dion langsung berjalan masuk kedalam, dia melihat Vanya yang sudah siap dengan setelan jeans panjang dan tshirt polo polos tengah duduk diteras. Dion tersenyum semringah.



"Pagi tante, hai Van, maaf yah telat." Ucap Dion.



"Van, kita berangkat sekarang yah, takut kesiangan." Vanya menganggukan kepalanya dia meraih sling bag yang diletakan diatas kursi.



Mereka berdua lalu pamit kepada Niken yang dari tadi bahagia melihat putrinya yang sudah mulai bisa tersenyum.



"Tante kita berangkat yah." Pamit Dion kepada Niken.



Vanya yang manja tidak pernah lupa untuk memeluk mama nya sebelum bepergian.


Mereka berjalan menuju mobil Dion dan siap untuk menuju ketempat yang sudah Dion rencanakan.


Mercy hitam Dion melaju menelusuri jalanan yang sudah ramai.



"Dion kita mau kemana sih?" Tanya Vanya memecahkan keheningan.



"Kan aku udah bilang. Ini kejutan, kalo aku kasih tau kamu bukan kejutan dong nama nya."



"Ihh kok pake kejut-kejutan segala sih? Kamu nggak lagi mau culik aku kan dion?"



Mendengar pernyataan Vanya, Dion terkekeh.



"Culik kamu? Buat apa papa mama kamu setuju kalo aku nikahi kamu, kenapa mesti culik kamu sih Van?" Ujar Dion sembari tersenyum.



Vanya yang merasa kesal dia membalikan badan nya kearah jendela mobil.



"Van?" Panggil Dion sambil menyentuh bahu Vanya.



Vanya lalu membalikan badannya dan menoleh ke arah Dion.



"Apa kamu nggak bisa membuka hati kamu sedikitttt aja?" Ucap Dion lirih.



Vanya terdiam sesaat lalu menelan ludah.



"Dion...bukan aku nggak bisa, tapi saat ini aku masih berusaha dan aku minta kamu juga jangan terlalu berharap, karena aku nggak mau kamu merasakan sakit kayak yang aku rasakan saat ini." Dengan ragu Vanya mengenggam tangan Dion lalu tersenyum.



"Saat ini hatiku memang belum bisa menerima kamu, tapi aku akan berusaha, aku nggak mau terus-terusan terbelenggu dengan kisah cintaku yang lalu, makasih udah ada disamping aku disaat aku terpuruk seperti sekarang." Gumam Vanya dalam hati.



Setelah beberapa jam menempuh perjalanan mereka sampai ketempat yang dituju Dion. Vanya yang melihat tempat itu langsung membelalakan matanya.



"Dion, ini kita mau ke anyer?" Ucap Vanga sambil menggoyang-goyangkan lengan Dion.



Dion tersenyum melihat Vanya, dia lalu menuju bagasi untuk mengambil barang bawaan nya.



"Van, nanti kita nginep yah, aku udah bawa tenda untuk camping dan alat snorkeling."



"Tapi aku kan nggak bawa baju ganti."



"Udah kamu tenang aja." Ucap Dion santai.



Dion lalu membawa tas ransel yang dibawa lalu menuju sebuah kantor yang ada disebrang parkiran.




"Udah, gimana pak, apa semuanya sudah siap?"



"Sudah tuan mari saya antar."



Dion dan Vanya mengekori lelaki paruh baya itu menuju dermaga.


Sebuah private boat yang sudah Dion pesan untuk membawa dia dan Vanya ke anyer sudah meluncur.


Vanya yang tidak tahu rencana Dion hanya mengikuti kemana Dion pergi.



"Ayok Van, kita berangkat nanti keburu gelap!" Celetuk Dion sambil mengulurkan tangan nya.



Vanya meraih tangan Dion lalu masuk kedalam boat.


Pak Hendra yang sudah lama menjadi pengurus Villa keluarga Dion, itu membawa Vanya dan Dion ke anyer.


Vanya begitu sibuk menikmati pemandang yang ada di pantai itu. Sementara Dion hanya mengamati Vanya, Dion sesekali tersenyum, hatinya merasa bahagia bisa melihat wanita yang dia cinta bisa tersenyum lagi.


Sudah lama Dion tidak melihat senyum Vanya sejak putus dari Vanno.



15 menit berlalu kini mereka bertiga telah sampai, pak Hendra lalu meminggirkan boat yang membawa mereka, Dion lalu turun dan mengulurkan tangannya untuk membantu Vanya agar turun, boat yang Vanya naiki tiba-tiba oleng lalu Vanya kaget hingga melompat ke arah Dion yang tadi mengulurkan tangannya, Dion yang kaget saat Vanya melompat dan tanpa aba-aba sehingga Dion terjatuh.



**Bbrruuukkk**....



Tubuh Vanya menindih badan Dion, jarak wajah diantra mereka cuma beberapa centi saja, pak Hendra yang melihat kejadian itu tersenyum geli sebelum pada akhirnya ia bersuara menyadarkan mereka berdua.


Vanya dengan sigap lalu bangkit dari atas tubuh Dion.



Den, non kalian nggak apa-apa?" Tanya pak Hendra dengan senyum jailnya.



Dion lalu berdiri sambil membersihkan celana yang sedikit kotor, sementara Vanya masih kikuk.



"Nggak apa-apa pak, makasih yah." Ucap Dion kepada pak Hendra.



Pak Hendra lalu meninggalkan mereka berdua dan kembali kemarkas. Dipandang nya boat itu oleh Vanya sampai tidak terlihat lagi.



"Kamu nggak apa-apa kan Van?"



"Nggak apa-apa kok, Dion maaf yah tadi aku kaget." Desis Vanya dengan nada bersalah.



Dion hanya tersenyum kemudian membongkar semua isi yang ada didalam tas ranselnya.



"Dion, kita bermalam disini, cuma satu tenda gitu?" Tanya Vanya mulai panik.



"Iya, kenapa nggak mau? Tenang aja nanti aku tidur diluar pake sleeping bag, kamu didalam!" Terang Dion.



"Oh iya, besok pagi kita bangun lebih awal yah! Kita snorkeling biar nggak panas!"



"Tapi Dion, aku nggak bawa baju sama sekali, gimana aku ganti baju coba?"



Dion lalu mengeluarkan kantong plastik yang berisikan baju cewe lalu memberikannya kepada Vanya.



"Ini apa?" Tanya Vanya sambil membolak balikkan kantong itu.



"Buka aja, coba kamu cek!"



Vanya langsung membuka kantong itu, setelah mengetahui isi didalamnya mata Vanya terbuka lebar.



"Dion ini kamu dapet dari mana? Kok kamu bisa dapet semua perlengkapan cewe? Terus ini darimana kamu tahu ukuran bra aku coba?"



Dion tertawa ketika Vanya menarik sebuah bra dari dalam kantong.



"Agak-agak aja, tapi aku rasa itu muat kok buat kamu."



"Dioonnnn...jadi selama ini kamuu—"



"Hahaa nggak kok Van, aku sama sekali tidak berfikiran mesum kalo lihat kamu, beneran deh. Aku beli dari online shop kok." Jelas Dion sambil mendirikan tenda.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Jangan lupa Vote, like ya, untuk men support Author, dan maaf ya untuk episode kali ini, kurang dari 1.000 kata🙏.