
Vanno yang mendengarnya hanya menggeleng kan kepala.
“Semut mana ada suaranya? Kalau mau ngeles yang pinter sedikit, dong.” Bu Sum menatap William tajam.
William langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya dia ingin lenyap dari hadapan guru galak itu.
“Sekarang kamu saya hukum bersihin toilet! ” seru Bu Sum.
“Hah?! ”
“Kenapa? Kurang? Oke saya—”
William langsung menyela ucapan gurunya itu. “Cukup, Bu! Udah, itu aja kan? ”
“Iya. Sana kamu keluar! ” ketus Bu Sum.
William menggerutu kesal, “Tahu gini gue nggak usah jawab tadi. ”
“Sudah, sana cepat! ”
“Iya iya, Bu. ”
William berjalan keluar dari kelasnya dengan kesal. Saat melewati guru itu, William menatap nya sinis. Ingin rasanya dia mencakar Bu Sum, tapi dia ingat baru kemarin dia potong kuku.
“INGAT, WILLIAM, TOILET PEREMPUAN YA! ” teriak Bu Sum dari dalam kelas.
“𝙰𝚜𝚝𝚊𝚐𝚊! ” William geleng-geleng kepala.
Teman - temannya hanya cekikikan, tapi Vanno hanya menaikkan alisnya.
“Emang lo tadi sama William ngapain sih, Van? ” tanya Cello 𝚔𝚎𝚙𝚘.
“Dia nanya ada hubungan apa gue sama adek kelas tadi, ” jawab Vanno cuek.
“Terus lo jawab apaan? ” kini Deo menatap nya tak kalah 𝚔𝚎𝚙𝚘.
“Kita pacaran, ” jawab Vanno cuek bebek. Tapi Deo dan Cello melotot kaget saat mendengar hal itu.
“DEMI APA! ” teriak Deo dan Cello kaget.
“SUARA APA LAGI ITU? ” tanya Bu Sum marah.
Deo dan Cello diam ketika mereka tahu bahwa suaranya membuat singa betina di kelasnya terbangun.
“Deo sama Cello, Bu, ” adu sang ketua kelas membuat ke dua cowok tadi melotot.
“Deo, Cello! Ada apa kalian teriak teriak? ” Bus Sum bersedekap dada.
“Ada cicak kawin, Bu, ” jawab Deo asal.
“Ada ****** terbang, Bu, ” jawab Cello asal.
“Kalian ternyata pingin ibu hukum juga, ya? ” Bu Sum berjalan ke tengah kelas.
“Engg—”
Bantahan Deo terhenti ketika dia mendapat hukuman yang memilukan.
“Kalian juga saya hukum membersihkan toilet perempuan! ”
Tidak ada bantahan lagi. Padahal mereka tahu toilet perempuan itu adalah tempat teramai setelah kantin di sekolah mereka. Bukan hanya toilet nya yang bagus, tapi kaca besar di sana membuat tempat itu menjadi 𝚜𝚙𝚘𝚝 foto.
“Vanno, kamu juga! ” seru guru itu.
“Karena sumber keributan itu pasti dari kamu! ”
“Udahlah Van, terima aja. Sekali - kali nggak udah ikut pelajaran, ” senyum jahat tersungging di bibir Deo.
“Pinter lo. ”
“Iya dong. ”
Tanpa banyak bicara, Vanno dan yang lainnya pergi meninggalkan Bu Sum dan wajah marahnya. Muridnya itu memang sudah sangat menguras emosi sejak jam pelajaran pertama.
“Untung Nata di kelas sebelah, ” hela lega dari Bu Sum ketika mengingat muridnya yang satu itu terpisah dari sekawanan perusuh.
Toilet perempuan adalah tempat terhorror bagi murid murid lelaki. Biasanya kamar mandi itu digunakan untuk buang air kecil dan lainnya, tapi bagi kaum hawa sekarang kamar mandi beralih fungsi menjadi 𝚜𝚙𝚘𝚝 foto. Entah keren dari mananya tapi para perempuan itu suka sekali berfoto di kamar mandi.
“Ini ada penunggunya, nggak? Gue merinding tiba-tiba, ” ucap William sambil membawa seember air yang akan dia gunakan mengepel.
Vanno yang membawa pel menatap sekeliling nya, celingak celinguk memperhatikan sekitar nya. “Cewek disini ganas semua kayak macan, ” ucap Vanno.
“Vanno dingin dingin lucu deh, ” tutur William.
“Mulai deh drama, alay lo, ” cibir Deo yang membawa sabun lantai.
Vanno hanya melihat sekilas sahabat sahabatnya itu dengan malas. Dia meletakkan kain pel yang di bawanya di tembok. Kemudian dia masuk begitu saja ke dalam kamar mandi perempuan. Vanno yang mendengar suara cekikikan dari dalam sana langsung merinding.
“Ngapain lo pada di sini? ” Semprot Vanno kepada geng 𝚊𝚕𝚊𝚢 yang berada di sana.
“Eh, ada Vanno. Kenapa, Yang? Kamu nyariin aku? ” tanya Ikky alexandra dengan tatapan menggoda nya.
𝙻𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚜𝚎𝚛𝚎𝚖 𝚍𝚒𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚅𝚊𝚕𝚊𝚔! Batin Vanno.
“Ngimpi gue nyariin lo! Sana lo semua pergi , gue mau bersihin nih toilet ! ” ujar Vanno tegas.
Ikky dan teman-temannya pun langsung mengerucut kan bibirnya, “Ih kok kamu jahat sih sama aku? ”
“Najis! ” cibir Vanno.
“Udah, sana pergi! Pake foto foto segala lagi! ” cerca Vanno saat melihat teman Ikky malah asyik berfoto ria dengan menampakkan diri nya.
“Bentar deh, Van. Gincu gue kurang mantep nih, ” kata petrice sewot dengan memajukan bibirnya. 𝙻𝚒𝚙𝚜𝚝𝚒𝚔 merah kemudian terpoles di bibirnya, karena sebal Vanno menggebrak pintu kamar mandi sehingga membuat para perempuan di dalamnya terpekik kaget.
Lipstik merah yang sedang di gunakan petrice pun langsung belepotan. “Gila deh Vanno. Ganteng ganteng tapi galak! ” cibirnya.
“ Gue lagi dihukum! Udah, sana lo pada pergi! ” kata Vanno tajam.
“Oke, Oke baby. Ya udah, aku sama temen-temen aku pergi dulu ya. 𝙱𝚢𝚎, sayang.” Setelah itu, Ikky dan dayang dayangnya keluar dari dalam kamar mandi.
Vanno kemudian keluar dari kamar mandi tersebut, Deo, Cello dan William yang melihat segerombol anak badut tadi langsung menganga lebar.
“Lo nggak di kencingin sama tante tante tadi kan, Van? ” tanya William khawatir.
“Ya enggak lah, gila! Udah, sana lo pada bersihin! ” suruh Vanno.
“Lo sendiri ngapain Van?” tanya Cello cengo.
“Gue capek, mau istirahat! ” setelah itu, Vanno berdiri bersandar di samping pintu kamar mandi.
Sebernarnya kamar mandi perempuan itu tidak terlalu bau, malah wangi, karena setiak ada murid yang masuk, maksimal setengah botol parfum akan habis mereka gunakan di dalam sana.
“Awas kalau nggak bersih! Sia- sia gue ngusir cabe cabean tadi! ” seru Vanno.