My Future Is You?

My Future Is You?
25. Kembalinya Orang di Masa Lalu ll



Keesokan harinya, Vanya datang bersama dengan Nata yang mengendarai motor nya , jadi semua anak SMA Pelita mengetahui hal itu. Tapi ada satu hal yang mereka belum tahu, kalau Nata itu adalah kakak dari Vanya Callista. Jadi hal tersebut membuat Vanya mendapat cibiran yang tidak mengenakkan hati.


"Kurang apa sih, Vanno? Ganteng, iya. Tajir, Nggak usah ditanya. Pinter? Genius malah!"


"Sok cantik banget jadi cewek! Masa Nata mau diembat juga?"


"Cabe!"


Kuping Vanya lama-lama panas mendengar hal itu, tapi dia harus bisa menahan diri supaya tidak menampar mereka satu persatu. Berbeda dengan Nata, kedua tangannya saling bertautan dengan sangat kuat, bisa dilihat dari buku-buku tangannya yang memutih. Bahkan rahangnya yang mengeras.


"Kak, biarin aja. Gue aja masih bisa nyantai," Vanya mengelus pundak kakaknya, berusaha merendam emosi Nata.


"Udah kak, nggak usah diladenin. Sabar aja." Ujar Vanya dengan mengulum senyum.


Nata menghela nafasnya, adiknya saja bisa sabar menghadapi mereka semua masa dirinya tidak? Kira-kira seperti itu pikir Nata.


Kemudian laki-laki itu mengantar adiknya ke kelas.


"Oh iya, tumben lo nggak bareng Vanno?" Tiba-tiba Nata bertanya seperti itu, membuat Vanya mendesah lesu. Dia saja bingung Vanno menganggap apa hubungan mereka? Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada lelaki itu. Tapi dia juga membuat Vanya menjadi ragu karena apa yang diucapkan Vanno beberapa waktu lalu ketika berapa di rooftop.


Sampai sekarang sudah tiga hari mereka tidak berkomunikasi dan beberapa kali Vanya melihat Vanno selalu bersama perempuan lain yang lebih perfect. Uh, sakitnya terasa dihati.


"Bensinnya habis kali? Ya udah ya kak, gue mau piket dulu." Vanya sudah pergi dari hadapan kakaknya itu. Nata melongo melihat tingkah adiknya yang sangat aneh akhir-akhir ini.


"Ada yang nggak beres ini." Guman Nata.


...****************...


"Kenapa sih, Darra balik lagi? Udah baik dia minggat!" Cibir Deo dengan menatap kesal pemandangan di depannya. Bagaimana tidak menatap nya dengan kesal, orang dia melihat sahabatnya tengah bergurau dengan mesranya. Apakah laki-laki itu tidak tahu kalau pacarnya melihatnya dari kejauhan?


"Vanno memilih perak dari pada emas dan berlian!" Cetus Cello.


"Kita kasih nasihat Vanno nanti. Jangan sampai Nata tahu, kalau dia tahu dia pasti marah besar!" William menimpalinya.


Sedangkan disisi pojok kantin, Vanya menatap kaget sebuah kegiatan yang menyita waktunya. Dania dan Kenzo saling pandang dan kemudian mereka berdua menghela nafas.


"Gue kasian sama Vanya. Beberapa hari ini dia sering bengong di balkon." Ucap Kenzo. Memang lelaki sudah beberapa kali melihat gadis itu bengong di atas balkon kamarnya sambil menatap ponselnya.


"Kalau gitu kita main ke rumah Vanya. Kita kasih dukungan." Bisik Dania pada Kenzo.


Kenzo menghela nafasnya, " Gue sering ke rumahnya Vanya, orang dia rumahnya aja di samping rumah gue. Tapi gue disuruh pulang, dia cuma bilang, ' Apaan sih lo, Ken. Lebay deh.' Cuma gitu, padahal gue ke sana sambil bawa Novel terbaru yang gue beliin." Jelas Kenzo bingung.


" Novel apa yang lo beliin?" Tanya Dania


" Romance." Jawab Kenzo santai.


Satu cubitan mengenai paha Kenzo sehingga laki-laki itu menepuk tangan Dania refleks. "Sakit, ih!"


"Lo, sih! Ngasih romance. Vanya itu sukanya cerita yang baper sampe nangis-nangis." Jawab Dania.


"Whatever."


"Van, aduh. ini malah nangis, gimana ini?" Pekik Kenzo saat menyadari sahabatnya itu sedang mengusap air matanya dengan kasar.


"Mampus gue kalau ketahuan Nata!" Pekik Kenzo bingung sendiri.


Vannya kemudian bangkit dari duduknya. "Jangan ada yang ngikutin gue!" Ancam Vanya.


Dania dan Kenzo yang hendak melangkah tiba-tiba mendadak berhenti dengan posisinya yang aneh. Vanya berlari meninggalkan area kantin. Kakinya melangkah entah kemana, tapi karena berlari dengan kencang, dia tidak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf." Ucap Vanya takut-takut.


"Apa lo bilang? Maaf? Enak banget ya, lo ngomongnya?" Ikky berkata ketus dengan menatap tajam Vanya.


"Petrice, Vannesa, bawa dia!" Ucap Ikky dengan angkuhnya. Vanya hanya diam saja, tidak berani melawan kakak kelasnya yang lebih banyak darinya.


"Lo tuh ya, jadi cewek ganjen banget sih! Ditinggal Vanno, eh, lo sama Nata! Cewek murahan lo!" Sekali lagi Ikky dengan teganya menjambak rambut Vanya, helaian rambut Vanya yang dijambak oleh Ikky menjadi acak-acakan.


"Aww!" Ringis Vanya.


"Girls. lakuin cepet!" Perintah Ikky kepada kedua dayang-dayangnya.


Tanpa aba-aba kedua gadis itu mengguyur Vanya dengan air seember, setelah itu mereka bertiga pergi meninggalkan Vanya yang jatuh terduduk dengan mengenaskan.


Vanya menyeka air matanya yang sudah keluar dengan derasnya. Vanya berusaha berdiri, tapi nafasnya sudah sangat sesak, kepalanya juga pusing, mungkin akibat jambakan perempuan tadi.


"To—tolong." Rintih Vanya yang nafasnya sudah tidak bisa diatur.


"VANYA?" Pekikan kaget dari Daren saat melihat Vanya yang bernafas dengan susah. Daren yang kebetulan lewat itu mendengar suara seseorang minta tolong dan dia mencari tahu siapa orang itu. Betapa terkejutnya dia saat tahu orang itu adalah Vanya.


Daren tahu persis kalau perempuan itu mempunyai penyakit sesak nafas.


"Siapa yang tega ngeginiin lo sih. Van?" Dengan sekali hentakan, Daren langsung membopong tubuh Vanya keluar dari kamar mandi tersebut. Dia tidak peduli saat baju seragamnya ikut basah.


Semua tatapan tertuju ke arah Daren yang tengah menggendong Vanya dari Belakang sampai ke UKS yang terletak di samping lapangan basket.


"Eh, lo tahu Nata, kan? Panggilin dia, suruh ke UKS sekarang!" Ucap Daren kepada salah satu siswi yang dia temui.


"I—iya."


Sesampainya Daren di UKS, dia langsung membaringkan Vanya di tempat tidur yang sudah di sediakan. Daren kelabakan sendiri saat Vanya memegangi dadanya serta nafasnya yang memburu.


"Gimana ini?" Pekik Daren.


"ADEK GUE KENAPA?!" Nata memasuki ruang UKS dengan wajah merah padam. Pandangannya terjatuh pada adiknya yang ada dalam keaadaan mengenaskan.


"VANYA KENAPA?!" Tanya Nata marah.


"Gue juga nggak tahu, Nat. Tapi yang jelas adik lo di bully, gue liat dia di toilet tadi, dengan keaadaan yang basah kuyup dan rambutnya berantakan." Ucap Daren yakin.


Nata tidak mendengar ucapan Daren, tapi laki-laki itu sibuk mencari-cari dokter yang ditugaskan untuk menjaga UKS sekolah. Daren menatap Vanya kasihan. Siapa yang tega sekali mem-bully gadis sepolos itu. Tidak lama kemudian, dokter yang dicari Nata pun akhirnya muncul, orang itu langsung memeriksa keadaan Vanya.


Sembari menunggu keadaan Vanya diperiksa, Nata langsung menghubungi kedua orang tuanya dan setelah itu dia berjalan menuju ke loker miliknya untuk mengambil seragam kering adiknya. Karena seragam miliknya dan adik kesayangannya itu selalu dibawa olehnya karena setiap anak di sekolah itu baru bisa mendapatkan loker ketika sudah kelas 11.


"Eh,kak?" Pekik Kenzo dan Dania bersamaan. Daren yang merasa terpanggil itu langsung menolehkan kepalanya. Tampak di sana Dania dan Kenzo yang tengah mengatur nafas mereka.


"Eh, Vanya gimana, Ren?" Tanya Kenzo tidak memakai embel-embel kak.


"Rel-rel! Lo kira gue rel kereta?"


Kenzo memutar kedua bola matanya malas. "Banyak maunya. Oke Kak, gimana keadaan Vanya?" Tanya Kenzo sok lembut.


"Dania mengangguk setuju. " Iya kak, gimana keadaannya Vanya?"


Laki-laki itu menghela nafasnya. "Sesak nafasnya kumat karena habis di Bully." Ucap Daren.


Kenzo memicingkan matanya dengan tajam. "Siapa yang berani nge-bully Vanya? Nggak ngotak banget tuh orang!" Maki Kenzo.


"Ya maka dari itu gue mau nyari tahu siapa pelakunya. Oh ya, lo berdua tunggu disini ya, gue mau cari Nata, dari tadi dia belum balik-balik, gue takut dia nyasar. " Daren menepuk pundak Kenzo dan cowok itu mengangguk. Padahal itu hanya alibi Daren.


Karena Daren tadi melihat Vanno berjalan melewati UKS begitu saja bersama Darra. Karena penasaran dia mengikuti kedua orang itu hingga ke sebuah taman belakang sekolah. Mereka duduk di salah satu bangku yang di sediakan disana.


Daren melihat dengan jelas sekali kalau ada raut kerinduan di wajah Darra. Daren menghela nafasnya, mungkin dia tidak akan pernah bisa bersama gadis itu. Karena yang dia ketahui, Darra sangat mencintai Vanno. Dia tidak apa-apa, tapi Vanya? Bagaimana ketika gadis itu melihatnya? Dan bagaimana rasanya saat tahu bahwa Vanno hanya menjadikannya sebagai pelarian saja?


"Vanno, mau nggak lo balikan sama gue lagi?" Daren menatap kaget ketika Darra dengan yakin mengajak Vanno memulai suatu hubungan lagi.


Daren yang sebenarnya mencintai Darra tidak sanggup lagi mendengarkan lebih lama. Semakin dia bertahan makan semakin sakit yang dia rasakan.