
5 tahun kemudian.
.
.
.
.
Pagi itu Vanya sudah selesai menyiapkan sarapan untuk suami dan juga kei, dia juga sudah rapi dengan stelan baju kantornya dan dengan lincah menata semua peralatan makan diatas meja.
Beberapa menit kemudian Dion dan kei turun dari lantai atas.
"Good morning bunda...," ucap kei ketika sudah didepan meja makan.
"Morning sayang, ayo sini duduk!" Ucap Vanya sambil menarik sebuah kursi buat kei.
"Ayah sini duduk sarapan!" Celetuk Vanya kepada Dion yang masih merapikan dasinya.
Dion lalu menghampiri Vanya dan mengecup kening Vanya sebelum duduk.
:Pagi sayang...," ucapnya sambil menatap Vanya.
"Sayang, pagi ini kamu bisa antar kei kesekolah kan...? Ucap Vanya sambil menuangkan air putih kegelas.
Dion yang mendengar ucapan Vanya sedikit kaget karena nggak biasanya Vanya meminta dion untuk mengantar kei ke sekolah.
"Emangnya bunda kenapa?" Tanya Dion.
"Ayah, hari ini bunda ada meeting pagi, jadi ayah bisa kan anterin kei, hari ini ajaa..!" Desis Vanya agak memohon.
Dion tidak langsung menjawab dia kembali mengingat perjanjiannya dulu sebelum Dion memberikan ijin Vanya untuk mengelola perusahaan papanya. Iya, dulu waktu Vanya meminta ijin untuk bekerja perusahaan papanya dia berjanji untuk tidak menomor duakan kepentingan keluarganya apa lagi menomor duakan anak semata wayang nya itu.
Setelah mendapatkan ijin dari Dion, Vanya lalu
berpamitan kepada Dion dan juga kei, Vanya langsung menyambar tas yang sudah ada diatas sofa langkahnya terliat sangat terburu buru, Dion hanya menatap langkah istrinya yang semakin menjauh itu.
"Ayaahhh..., are you ok...?" Celetuk kei menyadarkan Dion.
"Yes, I'm ok sayang..?"
"Ayah.., kok bunda sekarang lebih sibuk sama kerjaannya sih yah? Kapan kita bisa quality time bareng lagi yah?" Tanya kei berentet.
"Sayang, kan tadi bunda bilang mau ada meeting, jadi bunda buru-buru, emang kei nggak mau ayah anter kesekolah?"
"No.., no about that.., i dont want bunda too busy with her works, ayah...!" Ucap kei lirih.
"Anak ayah udah selesaikan sarapannya, ayo kita berangkat nanti telat loh...!" Ucap Dion mengalihkan pembicaraan.
Kei lalu menghabiskan susu yang sudah tinggal sedikit kemudian beranjak dari tempat duduknya dengan wajah yang murung.
Dalam perjalanan menuju sekolah kei yang biasanya selalu cerewet, tapi pagi itu lebih memilih diam dan melihat pemandangan diluar jendela.
Ya, perlu diakui kesibukan Vanya memang bukan cuma pagi tadi tapi sejak beberapa bulan lalu dia lebih sering pulang malem berkutat dengan pekerjaannya dari pada keluarga, bahkan Vanya sering menyerahkan kei untuk dijaga sama baby sitter berbeda dengan dulu waktu belum bekerja seluruh waktu yang dia punya selalu diluangkan untuk anak dan suaminya.
Dion sesekali menyesal telah membiarkan Vanya ijin bekerja diperusahaan papanya itu, karena menurut Dion dengan adanya keadaan ini seperti merenggut kebersamaan kei dengan bundanya.
"Anak ayah semangat belajarnya ya, gak boleh murung gitu dong, mana senyum nya..," ucap Dion setelah sampai didepan sekolah kei.
Kei kemudian tersenyum tipis lalu mencium pipi Dion seraya pamitan untuk masuk kedalam kelas dituntun oleh gurunya.
Maafin ayah sayang, gara-gara ayah bunda kamu jadi nggak punya waktu buat kamu, nggak seharusnya ayah ngijinin bunda kamu bekerja. bathin Dion setelah kei jauh dari padangannya.
.
...----------------...
.
.
"Ayah, nanti sore kei biar dijemput sama supir ya, bunda kayaknya nggak bisa jemput!"
Sepucuk pesan singkat dikirim oleh Vanya untuk Dion. Dia yang membaca pesan singkat dari istrinya itu nampak kaget dan tidak lama kemudian memencet tombol call untuk menelpon Vanya.
Iya, ayah?" Ucap rena dari ujung sana.
"Van, kamu nggak lupa kan dengan janji kamu dulu sebelum bekerja, kenapa sekarang kamu lebih memprioritaskan pekerjaan kamu daripada anak kamu sendiri!"
Rena terdiam mendengar perkataan dion dari ujung telepon, bibirnya seolah terkunci sehingga susah untuk berkata kata.
"Iiii..iiyaa, aku denger.., tapi aku sibuk kan juga urusan kerjaan bukan urusan yang lain!" Jawab Vanya terbata.
Setelah mendengar pembelaan Vanya, tanpa mengucap salam Dion langsung memutuskan panggilan telepon nya.
Bukan tanpa alasan Dion bersikap seperti itu kepada istrinya, melainkan Dion tau sesuatu tentang Vanya selama dia bekerja diperusahaan itu.
Sore itu Dion memutuskan untuk pulang lebih awal dan menjemput kei disekolah, dia sengaja tidak menyuruh supir untuk menjemputnya karena Dion tau kei pasti bakalan sedih karena yang biasa jemput bundanya bukan supir.
Setelah sampai disekolah Dion melihat kei sudah ada didepan gerbang, kei lalu berlari menghampiri Dion.
"Ayaahhhh...," ucapnya sambil merentangkan kedua tangan nya, Dion lalu jongkok dan memeluk kei.
"Maaf ya, ayah telat...," ucap Dion.
"Nggak apa-apa aya, ayo kita pulang, dadah bu guru!" Icap kei sambil melambaikan tangan kepada bu guru yang masih berdiri didepan gerbang sekolah.
Dion lalu menggendong kei masuk kedalam mobil, setelah duduk di kursi samping dan sudah memakai safety belt, Dion memberikan kotak kecil berisi cupcake kesukaan nya.
"This is for you...," ucap Dion sambil menyodorkan kotak itu.
"What's that ayah?" Tanya kei sambil mengintip dari celah-celah penasaran.
Kei begitu excited ketika melihat isi didalam kotak tersebut.
"Woaaa, cupcake, thank you ayah, can i eat noww...?" Tanya kei sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Sure, boleh sayang," jawab Dion membuat kei kesenengan.
Dion kembali fokus menyetir sementara kei masih asik makan cupcake tanpa mengeluarkan sepatah kata, ya, begitu kei kalo sudah dihadapkan dengan cupcake, orang disekitar berasa tidak ada, karena terlalu sibuk menikmatinya.
...----------------...
.
.
.
"Udah sampe sayang, makan nya nanti lagi didalem ya!"
"Ayah kok cepet sampainya sih, Kei aja belum selesai makan loh," gerutunya sambil menunjukan sisa cake ditangannya.
"Kamu makan nya kayak kelinci sih, lama tau,"
"Hmmm ayah, ya udah nanti kei makan lagi ya!" Ucapnya sambil menyimpan kembali kedalam kotak.
Mereka lalu turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum..., bundaaaa...bundaaa...!" Teriak kei begitu memasuki ruang tamu.
"Mbaa,,, bundaa mana?" Tanya kei kepada salah satu ART.
"Bunda kan belum pulang sayang, sini tasnya mba bawain!"
Kei lalu berjalan mencari Dion yang masih berada diteras.
"Ayah..., bundaa belum pulang ya ayah?"
Dion yang tengah sibuk membaca SMS, kaget mendengar pertanyaan kei.
"Iya, sayang, bunda belum pulang, Kei sama ayah dulu yuk, ayah temenin kei ngerjain PR ya, mau kan?"
"Iya ayah."
Dion lalu menggandeng tangan kei menaiki anak tangga. Meskipun dalam hatinya sedih karena bundanya mulai menomor duakan, tapi kei berusaha biasa biasa saja, mungkin hanya butuh waktu untuk kei biar bisa mengerti kalau bundanya sudah mulai sibuk dengan pekerjaanya, karena dari bayi dia selalu ada disamping Vanya.
.
.
.
.
.
Whoever yang mau baca silakan sangat welcome dan jangan lupa coret-coret kritikan atau apa di kolom komen jangan lupa juga tinggalkan jejak dengan vote untuk tanda pengenal kalian...
Terima kasih...