
Tidak terasa empat hari Ujian Nasional yang dijalani anak kelas 12 itu akhirnya selesai. Kini mereka sudah tinggal menunggu hasilnya saja, berbeda dengan Vanno yang sudah mempersiapkan keberangkatannya menuju London.
"Vanno, ada temen kamu tuh," Ucap Kiran lembut.
Vanno mengernyitkan dahinya, biasanya kalau temannya datang Kiran tiba-tiba berubah menjadi sensi, tapi kenapa tiba-tiba wanita paruh baya itu santai dan tenang sekali?
"Siapa,Ma?" Tanya Vanno
"Cewek, cantik lagi. Namanya mirip kayak kamu," Jawab Kiran sambil mesem-mesem.
"Vanya?"
"Nah, tepat sekali. Udah, sana temuin dulu."
Perasaan Vanno yang semula bosan dan malas kini tiba-tiba berubah menjadi semangat. Dia langsung menyambar kaus polo polos warna hitam dan berlari menuruni anak tangga.
Vanno melihat siluet seorang gadis yang pasti akan dia rindukan selama berada di London.
"Hai," sapa Vanno.
Vanya yang mendengar sapaan hangat itu langsung menatap ke arahnya. " Hai, kak," balas Vanya dengan senyuman manisnya.
"Kenapa, yang?" Tumben banget kesini? Oh iya, sama siapa datangnya?" tanya Vanno beruntun. "Kalau sendiri nanti pulangnya biar aku anter ya?" lanjut Vanno.
Vanya tersenyum , mungkin dia nanti akan sangat merindukan kebawelan laki-laki itu.
"Hei, jawab dong. Aku ganteng ya?" mulailah narsisnya Vanno.
"Ih, mulai deh pede-nya," Vanya bicara sambil tertawa.
"Emang ganteng kok."
"Iyain aja. Oh iya, aku kesini mau ngasih ini buat kamu," Gadis itu menyerahkan sebuah kantong yang berisi sesuatu.
"Apaan ini?" Tanya Vanno.
"Serius banget wajahnya. Ini tante bawain minum buat kamu sayang." Kiran meletakkan minuman untuk Vanya.
"Tante repot-repot segala, jadi nggak enak,hehe..."
Sumpah demi apapun Vanya benar-benar gugup saat bertemu mama Vanno.
"Nggak ngerepotin sama sekali kok. Tenang aja," Ucap Kiran.
"Pacar kamu Vanno?" Tanya Kiran serius dan kemudian Vanno mengangguk.
"Iya, dia pacar sekaligus calon ibu dari Vanno Junior." goda Vanno sambil menatap Vanya dengan meliriknya sekilas. Siapapun perempuan yang ada di dekat Vanno saat ini pasti akan merasakan yang namanya salah tingkah.
"Apaan sih?" Vanya Malu.
"Udah Vanno, nggak kasihan apa pacar kamu mukanya kayak tomat gitu?" goda Kiran.
Haduh,mati gue.
"Ya udah, Tan, kalau gitu saya pamit dulu," Vanya mencium tangan Kiran.
Dari pada mati kutu karena salah tingkah lebih baik dia pulang terus guling-guling di kamarnya dan berteriak senang karena mama Vanno tampak merestuinya.
"Mama, sih. Jadi takutkan pacar Vanno," Ucap Vanno.
Kiran tersentak kaget. "Eh,kok Mama sih?"
"Mama pakai tanya pacar aku apa bukan. Jelas-jelas yang kesini aja cuma mantan sama dia doang. Kecuali saudara sih," Ucap Vanno.
Vanya semakin merona karena dia perempuan yang berhasil masuk ke rumah Vanno.
"Oh iya, nanti nganter aku ke bandara enggak?" Tanya Vanno.
Mengingat hal itu, Vanya merasa sedih dia tidak bisa ikut karena hari itu bertepatan dengan dia yang pergi ke rumah neneknya di luar kota.
Vanya menggeleng lesu, air matanya hampir saja jatuh.
Vanno yang melihat kesedihan di mata Vanya langsung memeluk tubuh gadis itu, menyalurkan kehangatan dan semangat.
"Jabgan nangis, itu kan emang udah direncanain Tuhan. Kalau kamu nanti nganter aku pasti kamu nangis," Vanno mengelus kepala Vanya penuh kasih sayang.
Kiran yang melihatnya ikut terharu.
"Apa ini pelukan terakhir?" tanya Vanya
Laki-laki itu menggeleng. " Bukan, sayang. Ini pelukan pembukaan sebelum kita benar-benar bersama. Tunggu aku lima tahun lagi, ya?" tanya Vanno dengan senyumnya.
"Iya," Vanya tersenyum.
"Aku anter pulang ya?" tawar Vanno.
"Enggak usah. Aku tadi kesini sana Kak Nata kok," tolak Vanya.
"Oh, oke kalau gitu, hati-hati ya, sayang," Ucap Vanno.
"Iya. Tante saya permisi dulu." pamit nya.
"Iya nak Vanya, hati-hati di jalan ya!" Jawab Kiran.
"I'll miss you," lirih Vanno menatap punggung Vanya.
"I'll miss you too," air mata Vanya menetes bersamaan dengan dia berjalan keluar dari rumah Vanno.
Ingat Kata-kata Vanno ini bukan akhir tapi awak perjalanannya
...****************...
Lima tahun Kemudian.....
"Sayang," panggil Vanno.
Vanya yang sibuk dengan laptop dan tugas skripsi nya itu tidak menoleh sedikit pun.
"Yang?" panggil Vanno sekali lagi.
"Apaan sih?"
"Jakan Yuk?" ajak Vanno.
Vanya mengacak rambutnya. "Astaga, kamu nggak lihat skripsi aku numpuk kayak cucian tiga bulan? Masih sempet ngajak jalan?" tanya Vanya.
"Ayo dong, please. Nanti aku bantuin deh," tawar Vanno.
Vanya menatap kekasihnya berfikir, Ya udah lah ya, dia kan pinter juga, nanti gua juga di bantuin ngerjainnya. Pikir Vanya.
"Ya udah, ayuk, " Kata Vanya akhirnya.
Hampir sepuluh menit, Vanno menunggu Vanya keluar dari kamarnya, dan dia menemukan sebuah benda yang mencuri perhatian nya.
Vanno yang membaca tulisan Vanya itu tersenyum, kemudian memasukkan surat itu ke dalam jaketnya.
"Vanno?" panggil Vanya yang sudah berdiri persis di depannya.
"Siap."
Vanno dan Vanya kemudian berjalan ke luar rumah.
...****************...
Sesampainya pasangan itu di sebuah restoran, mereka langsung masuk dengan santai. Vanno menuntun Vanya untuk duduk menghadap ke arah taman restoran dan dia kini duduk berhadapan dengan Vanya.
Kemudian Vanno mengeluarkan sebuah kotak yang mengkilap. Hal itu membuat Vanya kaget.
"Apaan itu?" tanya Vanya saat Vanno sudah membuka kotak itu. Terpampang lah cincin berlian yang sangat menyita perhatian siapa saja yang melihatnya.
"Cincin, dodol!" celeuk Vanno.
"Gue tahu ini cincin! Maksud aku, buat apa?" tanya Vanya heran.
"Vanya?" panggil Vanno.
Gadis yang dipanggil itu mendongakkan kepalanya dan menatap Vanni, "Ya?"
"Aku udah baca surat kamu," Ucap Vanno menyerahkan surat yang dia baca tadi.
Vanya diam membeku, mendadak kedua pipinya memerah.
"Cie, blushing," goda Vanno.
"Dih, apaan deh."
"Nggak usah malu sayang. Aku bakal selalu ada buat kamu. Bakal jadi sandaran kamu kapanpun itu. Dan aku juga berharap sama kamu, aku mau kamu jadi orang pertama yang aku lihat saat akan tidur, ketika bangun tidur kamu juga orang yang pertama kali aku lihat di samping aku, dan kamu senyum sana aku atau sekedar bilang selamat pagi, aku ingin kamu menjadi perempuan pertama dan terakhir dalam hidup aku. Aku mau kita menua bersama. bersama anak cucu kita kelak. Aku bukan irang romantis, aku nggak bisa buat puisi untuk seseorang yang berharga dalam hidup aku. Tapi aku bakal buat kamu hidup bahagia sama aku. Vanya Callista, Will You Marry Me?" tanya Vanno menggengam tangan Vanya.
Sedangkan Vanya sudah menangis haru karena perlakuan kekasihnya itu. Vanya mengangguk. "Yes, I Will," balas Vanya. Kemudian dia langsung memasangkan cincin itu di jari manis kanan Vanya.
Vanno langsung memeluk tubuh Vanya dan setelah itu suara riuh tepuk tangan terdengar di telinga kedua orang itu.
ada Niken, Davi, dan juga Nata. Sedangkan Kiran dan David tersenyum ke arah anaknya itu, Vanno.
"Anak kita udah dewasa, Pa. Dia akan menikah," Ucap Kiran.
"Iya Ma," balas David sambil memeluk istrinya.
"WHOAAA, SELAMAT BROTHER!" Teriak teman-teman Vanno, ya siapa lagi kalau bukan William, Cello dan Deo.
"Akhirnya, lo mau nikah juga!" Ucap Deo.
"Vanga sumpah demi kecoa terbang! Hubungan lo awet banget!" pekik Dania heboh.
Vanya tersenyum ke arah sahabatnya. "Lo sama kak William juga langgeng, kok."
"Iya, sayang, kita juga nggak kalah kok sama Vanno,"
Ucap William yanh sudah merangkul pundak kekasihnya itu.
"Kenzo nggak bisa ikut," Ucap Dania lesu.
Vanya menyipitkan matanya, pantas saja dia tidak melihat ada Keributan ternyata di Kenzo tidak ada di acara itu.
"Kenzo kemana? tanya Vanya.
"Dia ke Chicago, mau mengejar cintanya, " Jawab Dania dan dibalas anggukan oleh Vanya dan Vanno.
"Nata, kamu kapan sih nikah sama Alya?" Kamu itu padahal sudah Mama jodohin dari awal, tapi kamu kenapa nggak cepet nikah sih?" cerca Niken pada Nata.
Nata meringis saat Niken menggetok kepalanya. "Aduh, Mama, Nata itu masih mau lihat Vanya nikah dulu!" Nata beralasan.
"Beneran setelah itu kamu yang Nikah?" Tanya Niken.
"Iya, ma," balas Nata jengah.
Niken berdehem sebentar, "Ehem, kalau gitu Vanya dan Vanno, kalian menikah minggu depan!" putus Niken.
Vanno dan Vanya yang awalnya tertawa kini menganga lebar.
Vanya kaget. "APAA?!"
"Minggu depan, sayang, " bisik Vanno tepat di telinga Vanya.
Vanya menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ini adalah akhir dari kisah cinta Famous atau most wanted SMA Pelita, semoga bisa Happy ending selamanya!" Ucap Dania sambil tersenyum.
"Amin!" Ucap semuanya
"Welcome To My World, Nyonya Crishstian, " Ucap Vanno.
Semburat merah di pipi Vanya muncul, dia tersipu.
Lagu Bruno Mars kemudian mengalun dengan indahnya, membuat mereka yang ada disana tertawa dengan bahagia.
......Cause it's a beautiful night. ......
...We're looking for something dumb to do....
...Hey baby....
...I think o wanna marry you....
...Is it the look in your eyes....
...Or is it this dancing juice?...
...Who cares baby....
...I think I wanna marry you....
...END S1...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Akhirnya My Future Is You? Tamat jugaaaa.
dari tahun 2021 keknya aku buat ni novel.maaf ya jika ada yang aku lupa namanya. terutama nama panjang temen-temen Vanno,Vanya.
orang tua Vanno..
Dan kemungkinan aku juga bakal buat Untuk S2 nya. Maybe kehidupan pernikahannya si Vanno dan Vanya 🤗🥳🥳 >_<
Bagaimanakah kehidupan pernikahan Vanya dan Vanno?
apakah berjalan dengan mulus? atau bakal ada masalah?-_-
...****************...
Oke untuk mendukung Author dalam berkarya. Jangan lupa
Like, Komen and Vote ya👇👇🥺**