
~
Semua tamu sudah duduk dikursi masing-masing Dion beserta keluarga juga datang kini giliran mereka menunggu Vanya turun dari singgah sana nya.
Dengan kebaya berwarna dusty pink dengan rambut yang disanggul rapi serta pulasan make up tipis mempercantik wajah Vanya, senyum manisnya tidak pernah berhenti berkembang di bibir manisnya. Semua mata tertuju pada Vanya saat dia baru saja keluar dari pintu dan berjalan menuju ke halaman rumahnya. Dion yang melihat kecantikan Vanya malam itu tidak henti- henti nya mengukir senyum indahnya, nampak widia yang juga kelihatan jauh lebih sehat dari beberapa hari lalu waktu bertemu dengan Vanya, kebahagiaan begitu nampak terpancar dari wajah widia, begitu juga dengan orang tua Vanya dan oma nya.
Setelah Vanya sampai di depan Dion tanpa mengulur waktu lalu seorang MC yang memandu acara itu melangsungkan pertunangan itu.
Sebuah kotak keemasan dengan dua buah cincin terselip diantara bunga mawar putih. Dion lalu mengambil cincin itu kemudian menyematkan ke jari manis Vanya setelah cincin nya melingkar dijari Vanya, sekarang giliran Vanya untuk menyematkan cincin itu di jari manis Dion, kemudian Vanya dan Dion menunjukan kepada para tamu yang menjadi saksi, senyum bahagia nampak begitu jelas tersirat diwajah mereka berdua, bahkan widia yang duduk di deretan kursi paling depan tidak berhenti tersenyum. Wajah nya berseri rasa sakit yang selama ini dia derita seolah sirna saat melihat putra nya sudah menemukan wanita untuk jadi pendamping hidupnya.
Setelah acara selesai dan semua para tamu undangan sudah pulang. Kini Reinard, Andra, Hanna dan juga Vanya, Dion duduk di sebuah meja yang berada di teras belakang rumah. Andra yang dari tadi sudah meledek Reinard dengan pertanyaan yang menurutnya sangat menyakitkan telinga nya kini kembali menyerbu pertanyaan itu kepada Reinard setelah mereka duduk berlima.
"Rei, lo kapan, betah amat sendirian!" Celetuk Andra di depan Vanya dan Dion. Reinard yang merasa risih tetep berlagak cuek dan tidak mendengar, tapi sayang Andra yang dulu pendiam dan stay cool sekarang berubah menjadi cowo jail dan banyak omong, dia masih terus memancing Reinard dengan pertanyaan yang sama. Sampai-sampai keempat teman nya yang berada dimeja itu tertawa geli melihat respon Reinard.
"Dion." Terdengar suara seorang laki-laki memanggil nama Dion.
Dion yang tengah bercanda dengan teman nya itu lalu menoleh ke asal suara itu, dia melihat sosok seorang pria yang dia kenal.
"Papa!" Ucap Dion sambil beranjak dari tempat duduknya. Dion lalu menggandeng tangan Vanya dan berjalan menghampiri papa nya.
"Selamat ya, sayang, maaf papa datang nya telat." Ucap laki- laki itu sambil memeluk Dion. Dia lalu mengalihkan pandangan nya kepada Vanya yang berdiri disamping Dion, di pandangnya wajah Vanya lekat- lekat, kemudian dia tersenyum.
"Hai, mrs. Divendra, to be, congrats ya, finally kamu menerima Dion juga!" Ucap danu ( Papa Dion )sambil cengengesan.
Vanya yang melihat tingkah danu merasa sedikit kaku.
_Dari dulu ini orang perasaan nggak berubah, tetep aja nyebelin_ gerutu Vanya dalam hati.
"Makasih ya om atas perjodohan ini, semoga om bisa menerima saya sebagai anak om nanti."
"Kamu masih panggil om, sebentar lagi bakal jadi papa kamu loh Van, goda danu.
Dion hanya tersenyum melihat kejadian itu, dia sudah tahu kalo papa nya sudah terlebih dahulu akrab dengan Vanya dan keluarganya.
"Papa tunggu kalian didalam ya, ada yang harus di bicarain sama kalian!" Ucap danu sebelum pergi meninggalkan Vanya dan Dion.
Mereka lalu memberitahu Reinard dan Andra yang masih dimeja sana, sebelum akhirnya Vanya dan Dion bergabung dengan dua keluarga yang sudah berkumpul di ruang tamu.
Nampak Davi dan Danu tengah berbincang serius sementara para wanita juga sibuk dengan tawanya masing-masing.
Maa, pa." Ucap Dion menyadarkan mereka.
"Duduk, Dion, Vanya." Ucap Davi.
Setelah dua narasumbernya duduk, Davi kemudian membuka percakapan.
Vanya dan Dion yang mendengar penjelasan papa nya kemudian saling bertukar pandangan, Dion yang cenderung santai menghadapi masalah, seolah menurut dengan rencana orang tuanya itu, sementara Vanya sepasang matanya seolah mencari pembelaan untuk tidak terlalu buru- buru untuk menentukan tanggal itu.
"Paa, acara pertunangan kita aja baru selesai, emangnya nggak bisa besok atau lusa untuk bahas ini!" Gumam Vanya seolah protes.
"Van, mama tau ini sangat terburu- buru, tapi mama nggak mau mendahului hari bahagia kalian." lirih widia dengan wajah yang berusaha tersenyum hangat kearah Vanya.
"Dion yang berada di samping Vanya lalu menggenggam tangan Vanya, mengisyaratkan untuk menyetujui keinginan mamanya. Kedua mata itu lalu bertatapan lagi kemudian Vanya menghembuskan nafas pasrahnya.
"Ya udah, nggak apa- apa maa, paa, tapi Vanya minta jangan bulan ini ya!"
Setelah mendengar persetujuan dari Vanya dan Dion, lalu para orang tua berdiskusi untuk tanggal baik pernikahan kedua anaknya itu.
Suasana tiba- tiba berubah menjadi sunyi dan sesekali hanya ada tawa kecil dari mereka, Dion dan Vanya hanya memerhatikan dan mengiyakan pertanyaan yang sesekali keluar dari diskusi itu.
~
"Haii!" Ucap seorang gadis yang baru saja datang didepan Andra, Hanna dan juga Reinard. Mereka yang tengah sibuk dengan gadgetnya lalu mengangkat kepalanya lalu tersenyum pada gadis itu.
"Kalian temennya kak Vanya atau kak Dion, kok nggak masuk kedalam?"
"Kita temennya Vanya, kamu sendiri?"
"Oh iya, aku Rasty sepupu nya kak Vanya, boleh gabung dengan kalian?" Tanya nya kepada mereka.
Hanna lalu menganggukan kepalanya.
"Kamu sepupu Vanya, yang mana ya? Dulu kita sering loh nginep dirumah Vanya!" Tanya Andra kepada Rasty.
"Oh iya, aku memang nggak tinggal disini, ayah sama ibu aku tinggal disingapore!" Jelas Rasty.
"Ohh." Ucap Andra membulatkan bibirnya.
Rasty begitu penasaran dengan sosok Reinard yang dari tadi selalu fokus dengan ponselnya bahkan saat dia datang dia cuma memincitkan mata untuk melirik. Bibirnya ingin menegur tapi ragu kalau tidak ada respon dan membuat malu dirinya sendiri.
~
Setelah hampir satu jam lebih berada diruang tamu akhirnya tanggal dan bulan sudah disepakati oleh kedua pihak keluarga dan juga calon pengantinnya, meski terlalu cepat tapi Vanya hanya bisa pasrah supaya bisa mewujudkan impian widia yang ingin cepat- cepat melihat keduanya bersanding dipelaminan.
"Van, kamu nggak apa- apa kan, lamu nggak tertekan dengan permintaan mama kan Van?" Ucap Dion yang sedang menikmati udara malam di teras belakang.
"Nggak kok, cepat atau lama toh kita juga akan menikah kan, kalau ini bisa bikin mama kamu bahagia kita bisa apa?Yang penting mereka semua bahagia dengan kebahagiaan kita!" Ucap Vanya dengan tersenyum.
Dion lalu mendekap tubuh Vanya. Rasanya masih belum percaya atas kebahagiaan yang dia rasakan saat ini, dulu dia begitu susah untuk menaklukan hati Vanya yang selalu memeluk masa lalunya yaitu Vanno, tapi kini dia akan segera memiliki wanita itu seutuhnya.