
~kuyakinkan langkahku selamanya bersama mu untuk menuju kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya~
.
.
.
Keadaan widia kembali menurun sejak beberapa hari yang lalu, kini dia tengah dirawat di ruang ICU disalah satu rumah sakit dikawasan bandung, widia juga sempat tidak sadarkan diri selama dua hari keadaan itu membuat Dion begitu khawatir, meskipun ini bukan kali pertama Dion dihadapkan dengan kondisi widia yang selalu naik turun, tapi kali ini benar-benar membuatnya sangat khawatir. Karena disaat pernikahan Dion dan Vanya yang begitu widia harapkan akan terwujud, dirinya masih terbaring lemah dirumah sakit.
Pernikahan mereka akan dilaksanakan 3 minggu mendatang, saat ini waktu mereka tersita untuk menyiapkan segala kebutuhan pernikahan itu, tentu saja Vanya dan Dion tidak menghandle nya sendiri, ada Niken dan juga Anita yang dengan senang hati turun tangan untuk membantu mereka. Meskipun belum 100% tapi setidaknya bantuan mereka bisa membantu Dion yang harus menjaga widia. Sejak widia dirawat di RS, Dion selalu menghabis kan waktunya dirumah sakit, bahkan dia juga sudah beberapa hari tidak datang kekantor, dia mempercayai sepupunya untuk menghandle semua pekerjaan nya. Sementara Vanya yang tengah disibukkan dengan pekerjaan dan persiapaan pernikahaan nya dia juga selalu datang kerumah sakit untuk menemani Dion.
Entah kebetulan atau apa Dion yang biasanya menunggu mama nya sendiri siang itu, orang tua Vanya dan juga keluarga Dion datang untuk menjenguk Widia bersamaan, sementara widia dia masih terbaring lemah di ranjang dengan selang infus dan oksigen yang masih menempel, saat semuanya tengah berbincang diruang tunggu Vanya yang sendirian berada didalam ruang itu tiba-tiba membunyikan alarm yang ada disamping ranjang, dan tidak lama kemudian beberapa suster dan dokter berjalan cepat menuju ruangan widia.
"Va....nya..," terdengar suara Widia sangat lirih keluar dari bibirnya.
Vanya yang masih menunggu disamping widia lalu menggenggam tangan widia dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Iyaa maa, ini Vanya, maama yang kuat yahhh!"
"Ddii..on..ma..naa...?" Tanya widia saat tidak melihat sosok Dion didalam ruang itu.
"Dion lagi dalam perjalanan kesini," ucap seorang laki-laki yang sudah hampir 10 tahun menceraikannya. Ini adalah kali pertama danu datang menjenguk widia, entah setan apa yang menempel pada danu sampai-sampai punya niat untuk menjenguk widia.
Saat keadaan menegang tiba-tiba Dion datang dengan nafas tersengal sengal.
Dia kemudian berlari kearah ranjang dimana widia terbaring.
Widia hanya memanggutkan kepalanya, dia lalu menggenggam tangan Vanya dan Dion, mulutnya mengangga seolah ingin menyampaikan sesuatu namun, seperti ada benda yang menahan bibirnya untuk bergerak.
Mama istirahat dulu ya, Vanya bakalan nungguin mama disini sama Dion!" Ucap Vanya sambil mengelus-elus punggung tangan widia.
"Maa..maa..ingin kaalian menikah sekarang, sebelum mama pergi..karenaa ma..maa.. Rasa ma maa sudah nggak kuat lagii...."
_Tuuuttt_
Bunyi dilayar monitor panjang membuat Vanya dan Dion yang berada disamping widia panik sambil berteriak memanggil dokter dan team medis.
"Maaa,,mama bangun maaa,,mama nggak boleh pergii bangunn maaa,,,!" Dion meronta sambil menggoyang-goyangkan bahu widia yang terkulai lemas.
Setelah dokter masuk kedalam ruangan, mereka lalu meminta Dion dan Vanya untuk menunggu diluar, dengan langkah yang lemas keduanya berjalan menghampiri keluarganya.
"Apa yang terjadi Van? Gimana dengan mama widia?" Tanya Niken setelah Vanya duduk disampingnya.
Vanya melirik kearah Dion yang masih menenggelamkan kepalanya kebahu Vanya dengan tatapan kosong.
"Keadaannya kritis maa, dan mama widia punya permintaan...,"
"Apaa sayang...?"
"Menikah, mama ingin kita menikah sekarang!" kali ini Dion yang bersuara.
"Terus kalian nunggu apa lagi?"
"Tapii maa!"
"Apalagi Vanya, siapa tahu dengan adanya pernikahan kalian, ada sebuah keajaiban untuk kesehatan mama Dion!" Jelas Niken.
Davi dan Danu hanya mendengar percakapan mereka.
"Keluarga ibu widia!" Ucap seorang suster dari depan pintu kamar. Dion dengan sigap lalu berdiri dan menghampiri suster.
"Gimana mama saya sus, mama baik-baik saja kan?"
Dion kemudian menoleh kearah Vanya yang ada dibelakangnya.
"Kenapa dengan mama sus, apa kita boleh masuk kedalam?" Ucap Vanya.
"Boleh, tapi 1 atau 2 orang, karena Beliau belum sadarkan diri hanya saja selalu menyebut nama anda!"
Keduanya lalu memasuki ruangan itu, lagi-lagi Dion harus meneteskan air matanya ketika melihat kondisi widia.
~
Niken yang masih berada didepan ruangan widia bersama Davi dan juga Danu lalu menyampaikan permintaan widia yang baru saja beritahu oleh Dion. Tanpa berfikir panjang dan mengingat kondisi widia yang semakin kritis mereka lalu mempersiapkan semuanya untuk melaksanakan pernikahan itu dengan harapan widia bisa segera pulih kembali. Saat Vanya dan Dion keluar dari kamar, mereka lalu membicarakan rencana itu, tanpa berfikir Dion dan Vanya langsung mengiyakan rencana itu.
Setelah beberapa jam kemudian semua persiapan sudah siap, Vanya hanya memakai baju muslimah dan Dion mengenakan baju koko dan juga peci dikepalanya. Ruangan yang tadi nya sangat berkabung kini ramai akan saudara dekat yang datang untuk menjadi saksi nikah Vanya dan Dion. Entah apa yang harus dirasakan oleh keduanya antara sedih dan juga bahagia. Sedih karena mereka melakukan itu disaat mamanya dalam keadaan kritis dan tak sadarkan diri, bahagia karena keduanya telah sah meskipun cuma secara agama.
Ijab kabul selesai, saat semua orang tengah membaca doa tiba-tiba air mata dari mata widia mengalir begitu saja, keluarga yang menyaksikan hal itu ikut terharu, Dion yang dikenal begitu gagah mendadak menjadi cengeng saat melihat malaikat dalam hidupnya sedang berjuang melawan penyakitnya itu.
Sehari berlalu dari hari yang penuh dengan kepanikan itu, siang itu Vanya sengaja tidak masuk kantor dia memutuskan untuk menemani Dion dirumah sakit. Wajah Dion nampak begitu pucat dan lesu karena kurang tidur, dia selalu terjaga dengan kondisi mama nya yang tidak stabil itu. Keadaannya masih sama dia masih terbaring lemah dengan mata terpejam, tubuhnya menjadi kurus dan pipinya terlihat semakin tirus, hanya saja sekarang widia sudah dipindah keruang VIP.
~
Ketika mereka tengah berdoa, widia mulai membuka matanya sedikit demi sedikit, dia lalu berdehem lirih untuk memberitahu bahwa dirinya sudah sadar, namun berhubung Vanya dan Dion sedang berjamaah tidak ada yang merespon isyaratnya itu. Bola mata nya mulai memutar mencari sosok yang selalu setia menjaga dia, tapi lagi-lagi widia tidak menemukan sosok yang dia cari.
Setelah selesai Vanya dan Diion menghampiri widia, mereka masih belum tahu kalau mamanya sudah sadar.
Begitu mereka sampai didepan ranjang widia, Vanya dan Dion kaget waktu melihat mamanya sudah membuka mata, dipeluknya tubuh widia dengan erat oleh Dion, air mata bahagianya tidak mampu lagi dibendung, Dion lalu menangis didalam dekapan mamanya.
Widia yang melihat anak kesayangan nya menangis pun ikut-ikutan menangis, tangan widia bergerak menunjuk sesuatu yang masih menempek disekitar hidungnya. Bibirnya berkomat kamit seakan ingin menyampaikan sesuatu, Vanya yang mengetahui reaksi widia lalu memencet alarm untuk memanggil dokter.
Setelah dokter datang lalu memeriksa keadaan widia, dokter menyatakan bahwa kondisi widia sudah mulai membaik detak jantung nya sudah mulai normal dan juga selang oksigen sudah bisa dilepas.
Vanya dan Dion tersenyum bahagia saat Mendengar penjelasan dari dokter, setelah hampir 2 minggu akhirnya sudah sadar dan keadaannya cukup membaik.
Setelah 2 hari setelah sadar, dokter membolehkan widia untuk pulang kerumah, wajah widia nampak tersenyum berseri saat mendengar sang dokter mengizinkan pulang. Saat mereka tengah membereskan barang-barang untuk dibawa pulang, tiba-tiba datang seorang lelaki paruh baya menghampiri mereka.
"Mas danu," desis widia lirih saat melihat kehadiran mantan suaminya itu.
"Paa," sahut Vanya dan Dion bersamaan.
Danu lalu tersenyum kearah anaknya itu.
"Wid, kamu udah baikan?" Tanya danu lalu duduk disamping widia.
"Udah lumayan membaik mas, dokter juga sudah ngizinin pulang hari ini."
"Dion, Vanya, biar papa anterin mama pulang ya, kalian bawa mobilkan?"
Dion yang mendengar kata-kata Danu, sontak kaget.
_sejak kapan papa bisa perhatian gini sama mama, dulu aja waktu mama sakit nggak pernah jengukin._ gerutu Dion dalam hati.
"Tapi paa,,"
"Udah, kalian bawa aja barang-barang itu, biar papa yang anterin mama pulang!"
Danu lalu mendorong kursi roda yang ditunggangi widia kemobil.
Setelah selesai Vanya dan Dion langsung meninggalkan ruangan rumah sakit tersebut.
...****************...
#jangan lupa vote and comment and thanks for reading