My Future Is You?

My Future Is You?
30. Because you are my Future.



Anak-anak kelas 12 di SMA Pelita telah selesai melaksanakan yang namanya Ujian Sekolah atau yang biasa disebut US. Memang Ujian sekolah sudah selesai tapi Ujian Nasional kini telah di depan mata. Dan itu artinya kebersamaan Vanno dan Vanya akan segera berakhir, mereka akan mengalami yang namanya Long Distance Relationship atau singkatnya LDR.


Kini kedua orang itu tengah berada di Lots Caffe, mereka berdua tampaknya tengah menikmati kebersamaan mereka yang kalau dihitung, hanya tersisa dua minggu lagi sampai Vanno akan Ujian Nasional.


"Kak?" panggil Vanya yang tidak dihiraukan orang itu.


"Vanno," dan dia kena kacang lagi.


Vanya mendesah kesal. "Sayang?: panggil Vanya dengan suara selembut-lembutnya.


Vanno menoleh dan dia memperlihatkan senyum termanisnya.


"Iya sayang, kenapa?"


Dasar ihh, Batin Vanya.


"Ih, tadi aku panggil kak nggak nyaut. Giliran dipanggil itu langsung nyaut!" Vanya cemberut , dia mengalihkan pandangannya dari Vanno.


Vanno gemas sendiri melihat marahnya Vanya. Rasanya tampak lebih lucu dan membuatnya semakin jatuh cinta dengan gadis itu. Dan hal itu membuat Vanno berniat untuk membuat Vanya bete lagi.


"Itu apaan sih, yang?: goda Vanno sambil menaik-turunkan alisnya.


"Apaan sih, nggak jelas parah!" dumel Vanya.


"Ya Tuhan, aku jadi nggak tega mau ninggalin kamu sendiri di Indonesia. Takutnya nanti kamu digebet sama om-om gimana? Polos banget sih?" Vanni menarik hidung Vanya gemas.


"Gadis itu memekik tertahan, " Sakit, ih!"


"Oke maaf ya, sayang. Jadi kamu kenapa manggil aku, hm?" Tanya Vanno menatap serius kekasihnya itu.


Vanya menatap laki-laki itu tak kalah serius,


"Kak Daren sama kak Darra gimana? tanya Vanya.


Vanno mengerutkan dahinya bingung. Tumben sekali gadis itu menanyakan Darra, karena tidak mau terjebak dalam kekepoan, Vanno langsung bertanya.


"Gimana apanya?" Tanya Vanno.


Vanya berdecak kesal, laki-laki itu sangat menyebalkan menurutnya. Ditanya tapi malah berbalik bertanya.


"Kak!" geram Vanya.


"Apa? Aku nggak ngerti nih kamu minta penjelasan yang kayak gimana?"


Oh, ternyata Vanno benar-benar tidak paham. Tumben sekali.


"Ya katanya mereka udah jadian? Itu bener?: Tanya Vanya.


"Oh, itu. Iya mereka baru jadian beberapa hari yang lalu. Akhirnya gengsian dan salah paham mereka berakhir," Vanno menceritakan semua kejadian di mana Darra mulai mendekati Daren lagi. Daripada ada salah paham lagi, lebih baik Vanno menceritakan semua tanpa di suruh.


"Jadi gitu? Pantes aja du Daren kayak gimana gitu sama gua. Emang dasar itu kakak kelas!" Semprot Vanya.


"Sabar, ini Ujian, " celetuk Vanno.


Vanya menyipitkan kedua matanya ke arah cowok itu,


"Kita lagi makan kak. Bukan Ujian, ih. Nggak yakin deh kalau kamu bisa di terima di London," cibir Vanya.


"Ya Tuhan, ini hanya perumpamaan, kenapa baper-an sih, sayang?" Tanya Vanno.


"Lucu deh, kalau kamu marah, :). " Jawab Vanya cekikikan.


"Oh iya, Dania juga baru jadian yaz sama William?" Tanya Vanya.


"Iya, itu ternyata mereka sok marah-marah, padahal udah jadian udah lama, " Vanno kemudian menyeruput cappuccino miliknya.


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang duduk di samping Vanno dengan tersenyum..Vanya yang melihatnya langsung membulatkan matanya.


"Hai, sayang?" sapa perempuan itu kepada Vanno.


Perempuan itu menatap Vanya sinis, " Dia siapa? Pembantu kamu? tanyanya.


Enak aja nih si cewek kuda nyungsep, gue dibilang pembantu! Batin Vanya geram.


Vanya hanya diam, dan melihat tingkah kekasihnya yang tidak memberontak, ingin sekali Vanya melemparinya dengan gergaji mesin.


Tidak disangka, Vanno malah mengobrol dengan Perempuan itu . Vanya menatap nya tidak terima.


Hah, Apa-apaan itu? kok gitu? Batinnya.


"Kamu katanya mau kuliah di London, ya? Kalau kamu kesana, aku disini sama siapa?" Tanya cewek itu.


Vanya menatapnya, ingin rasanya dia membalikkan meja dan menyiramkan minuman yang ada di depannya. Sabar Vanya. Tarik nafas, buang. Vanya menyemangati dirinya sendiri.


"Iya, setelah UN aku berangkat," Jawab Vanno.


Vanya membulatkan matanya, laki-laki itu meladeni pertanyaan perempuan itu. Dan hal yang paling membuat Vanya murka adalah ketika Vanno malah menyuapi perempuan itu makanan Vanno.


Vanya menatapnya nyalang, tadi dirinya sampai memohon supaya lelaki itu mau membagi makanannya. Tapi gadis itu? Tanpa dia meminta, Vanno menyuapinya.


Hah? Ohh gitu? Gue dianggap apa sih?.


Kesabaran Vanya sudah habis, dia berdiri dan meninggalkan Vanno bersama perempuan itu. Namun belum sempat Vanya pergi dari kafe itu, tiba-tiba lampunya mati, hal itu sontak membuat semua pengunjung di sana berteriak histeris dan bingung, tak terkecuali Vanya. Saking takutnya, dia sampai diam mematung.


Gue takut gelap! Kak Vanno Batin Vanya.


"Kak Vanno!" Teriak Vanya. Masa bodoh dengan bisikan atau cibiran dari orang-orang.


"Kafe ini terlalu bagus kali ya? sampai nunggak bayar listrik!" Gumam Vanya sambil berusaha mencari pegangan untuk berjalan.


Tiba-tiba ada suara yang membuat Vanya kembali diam mematung.


...*Going out tonight...


...Changes into something red*...


Vanya seperti mengenal—sangat-sangat mengenal— suara ini. Gadis itu dengan setia nya berdiri di tempat. Tujuan untuk meninggalkan tempat itu tiba-tiba lenyap. Ketakutannya akan gelap pun seakan-akan menghilang.


...*Her mother doesn't like kind of dress...


Tiba-tiba lampu kembali menyala dengan terangnya, semua pandangan mata langsung tertuju ke arah seorang laki-laki yang memainkan gitar sambil bernyanyi.


"Nggak mungkin kan itu...?" Guman Vanya.


...*Driving too fast...


...Moon is breaking though her hair...


...She said it was something that she won't forget...


...Having no regrets is all that she really wants*...


Vanno meletakkan gitarnya dan berjalan ke arah Vanya sambil memegang sebuah bucket bunga. Hal itu dilakukan Vanno tanpa berhenti menyanyikan lagu. Vanya yang menjadi sorotan pandangan orang-orang mendadak merona.


...We're only getting older baby...


...And I've been thinking about it lately...


...Does it ever drive you crazy...


...Just how fast the might changes?...


...Everything that you're ever dreamed of...


...Disappearing when you wake up...


...But there's nothing to be afraid of...


...Even when the night changes...


...It will never Change me and you...


Entah sejak kapan Vanno berada di depan Vanya dan menyodorkan sebuket bunga mawar putih itu kepada Vanya. Vanno tahu, Vanya sangat menyukai mawar putih, selain mawar putih, ia juga menyukai hujan.


"OH MY GOD!" Sorakan pengunjung kafe saat melihat keromantisan Vanno terdengar.


"Really?" Tanya Vanya membekap mulutnya tidak percaya. Air matanya keluar begitu saja. Dia menangis haru oleh kejutan pacarnya.


"Selamat hari jadi yang ke delapan bulan, sayang," Setelah mengucapkan itu, Vanno langsung memeluk tubuh Vanya.


Vanya membalas pelukan kekasihnya dengan erat, rasanya dia akan mati ketika melepaskan pelukan Vanno. Air mata Vanya membasahi dada Vanno.


"Maaf udah buat kamu ketawa sekaligus nangis ya," Ucap Vanno.


Vanya mengangguk, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Semuanya terasa sempurna. Mungkin ini adalah hari jadi terakhir bersama Vanno. Karena bulan depan, setelah Ujian Nasional Vanno langsung pergi ke London untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.


Vanno menatap Vanya. "Semoga kota bisa lebih serius, kita bisa saling percaya dan perasaan kita semakin tumbuh dengan besar. Karena angka 8 itu angka yang tidak pernah putus. I Love You, Vanya Callista," Vanno kemudian mencium kening Vanya lama.


"Me too. I love you now, tomorrow and forever. Because you are my Future, Vanno Crishstian." Jawab Vanya.


"Kejar impian kamu dan bangunlah masa depan kamu bersamaku," lanjut Vanya.


"Aku janji. Aku bakal cepet-cepet selesain kuliah aku Van" Ucap Vanno.


"ADA YANG BAKAL LDR NIH" celetuk teman-teman Vanno kencang. Kedua orang itu menoleh me arah teman-temannya. Disana ada Nata, William, Cello, Deo, Daren Raka, Kenzo, Dania, serta perempuan yang mengaku pacar Vanno tadi, mereka semua tengah menatap haru hubungan Vanya dan Vanno.


"Jahat ya, kamu!"


"Taoi romantis kan?"


"BANGET!" itu bukan Vanya yang menjawab. melainkan para pengunjung perempuan di kafe itu.


"See? Mereka aja bilang iya, loh," goda Vanno.


Vanya menatap Vanno berbinar.


"Lebih dari kata itu. Aku nggak bisa ngucapinnya. Intinya, sempurna!"


"Makasih sayang," Vanno memeluk Vanya lagi.


"Oh iya. cewek tadi siapa?" Tanya Vanya.


"Yang ngaku pacar aku?" Tanya Vanno memastikan.


kemudian Vanya mengangguk.


"Dia tiara, pacar sahabat kamu," Ucap Vanno.


Vanya menatap Vanno kaget.


"Pacar Dania dong?"


"Hah? sejak kapan gua ngelesby? Ya, kak Will?" celetuk Dania.


Dan William hanya mengangguk.


"Dih." Vanno menoyor pelan kepala Vanya.


Vanya mengerucutkan bibirnya. "Jahat ih!"


"Emang sahabat kamu itu siapa lagi, selain Dania?" Tanya Vanno.


"Kenzo juga sih, " pikir Vanya.


"Nah, itu tahu!"


"REALLY? DIA PACARNYA KENZO? OMG KENZO AKHIRNYA LO NGGAK JOMBLO LAGI, BROTHER!" Teriak Vanya jingkrak-jingkrak.


Kenzo dan Tiara tersenyum, mereka berdua berpegangan tangan.


"Hehe, maaf ya, Van, gue buat lo marah tadi," Ucap Tiara.


"Nggak apa-apa, " Jawab Vanya ramah.


"Sekarang kota bisa Ujian Nasional dengan lancar!" pekik Cello heboh.


"Hahahahaheheaa" tawa Cello dan diikuti dengan tawa yang lain.